Kabar5News – Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia semakin nyata. Serangkaian riset internasional membuktikan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil kini telah menyusup ke dalam rantai makanan sehari-hari.
Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa paparan plastik tidak lagi hanya berasal dari limbah industri atau pencemaran lingkungan, tetapi juga dari makanan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
Dalam laporan terbaru, mikroplastik ditemukan pada berbagai bahan pangan, mulai dari pemanis, garam, protein hewani, sayuran, hingga air minum dalam kemasan. Fakta ini menunjukkan bahwa kontaminasi plastik kini berlangsung secara masif dan terserap dalam banyak tahap proses produksi pangan, mulai dari tanah, air, hingga pengemasan.
Riset pada 2023 mencatat garam merah Himalaya sebagai bahan konsumsi dengan tingkat kontaminasi tertinggi, disusul garam hitam dan garam laut. Sementara itu, penelitian pada 2022 mengungkapkan bahwa gula juga menjadi salah satu jalur terbesar mikroplastik masuk ke tubuh manusia.
Tidak hanya berhenti pada garam dan gula, konsumsi nasi pun ternyata menyisipkan paparan plastik. Penelitian dari University of Queensland menemukan bahwa setiap 100 gram nasi dapat mengandung 3–4 mg plastik.
Jumlahnya meningkat drastis pada nasi instan, mencapai hingga 13 mg plastik per sajian. Temuan ini semakin menguatkan kekhawatiran bahwa mikroplastik sudah meresap bahkan dalam makanan pokok.
Kantong teh pun menjadi salah satu sumber kontaminasi tertinggi. Studi dari Universitas McGill mengungkap bahwa menyeduh satu kantong teh plastik dapat melepaskan hingga 11,6 miliar partikel mikroplastik dan 3,1 miliar partikel nanoplastik ke air seduhan, jauh lebih banyak dibanding paparan dari sumber pangan lainnya.
Air minum dalam kemasan juga tidak luput dari perhatian. Studi pada Maret 2024 mendeteksi rata-rata 240.000 partikel plastik dalam setiap liter air minum, menempatkannya sebagai salah satu pemicu paparan mikroplastik terbesar dalam konsumsi harian manusia.
Krisis kontaminasi ini semakin mengkhawatirkan karena mikroplastik telah ditemukan di paru-paru manusia, plasenta ibu dan janin, darah, bahkan ASI. Meski penelitian mengenai dampaknya terhadap fungsi organ masih terus berkembang, sebuah studi pada 2024 mendapati bahwa individu dengan kandungan mikroplastik atau nanoplastik pada arteri dua kali lebih berisiko mengalami serangan jantung, stroke, atau meninggal dunia dalam tiga tahun dibandingkan yang tidak terpapar.
Menurut pakar keberlanjutan Penn State Behrend, Sherri “Sam” Mason, bahaya utama bukan hanya pada partikel plastiknya, tetapi juga bahan kimia yang menempel di dalamnya. “Semua bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik turut terbawa ketika partikel plastik masuk ke tubuh,” ungkapnya.
Selain itu, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research menemukan mikroplastik dalam 12 jenis protein yang umum dikonsumsi. Udang berlapis tepung roti tercatat sebagai protein dengan tingkat kontaminasi tertinggi, diikuti nugget nabati, nugget ayam, dan stik ikan. Sementara protein dengan kontaminasi terendah adalah dada ayam, daging babi panggang, dan tahu.
Penelitian lainnya yang terbit di Environmental Science mencatat 52.050 hingga 233.000 partikel plastik berukuran di bawah 10 mikrometer dalam berbagai buah dan sayuran. Apel dan wortel menjadi yang paling tercemar, sementara selada memiliki tingkat kontaminasi lebih rendah namun ditemukan mengandung potongan plastik berukuran lebih besar.
Daftar 14 Makanan Sehari-Hari yang Terbukti Mengandung Mikroplastik (Berbagai studi menyebut mikroplastik ditemukan pada makanan berikut), yaitu:
- Daging ayam
- Daging sapi
- Daging babi
- Nugget
- Tahu
- Selada
- Wortel
- Lobak
- Apel
- Teh celup
- Garam Himalaya
- Gula
- Nasi instan
- Air minum kemasan
Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah, isu mikroplastik kini menjadi perhatian global. Para peneliti sepakat bahwa langkah pencegahan perlu dimulai dari kesadaran konsumen, transparansi industri pangan, hingga kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
Meski solusi jangka panjang masih terus dicari, temuan ini setidaknya mengingatkan publik bahwa ancaman plastik sudah memasuki ruang paling pribadi: makanan sehari-hari.












