Kabar5News – Setiap generasi punya kenangan yang melekat kuat, bukan hanya tentang musik atau film, tetapi juga tempat wisata yang dulu menjadi pusat kebahagiaan.
Di era 2000-an, sebelum media sosial membentuk tren liburan, banyak destinasi yang digandrungi anak muda dan keluarga. Tempat-tempat penuh tawa dan antrean panjang itu kini sebagian tinggal kenangan, tergeser oleh perubahan zaman, persaingan, dan persoalan pengelolaan yang membuatnya harus tutup.
Era ini menjadi masa keemasan berbagai tempat wisata di Indonesia. Dari taman bermain keluarga hingga wahana modern yang futuristik.
Sejumlah destinasi sempat menjadi tujuan favorit generasi muda ataupun keluarga. Namun, perubahan zaman, sistem tata pengelolaan, serta kondisi operasional membuat beberapa tempat yang dulu selalu ramai kini ditutup dan tinggal menyisakan ruang nostalgia.
Berikut sejumlah tempat wisata yang dulu sangat populer, tetapi kini telah tutup :
- Wonderia

Dibuka pada 2007, Wonderia sempat menjadi ikon wisata keluarga dengan berbagai wahana permainan modern seperti kora-kora, carousel, hingga rumah hantu. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini menjadi pilihan liburan murah meriah bagi warga Semarang.
Namun setelah 2010, jumlah pengunjung terus menurun karena munculnya pusat hiburan baru dan kurangnya perawatan wahana. Akhirnya, Wonderia resmi ditutup pada 2017 dan hingga kini area tersebut terbengkalai.
- Kampung Gajah Wonderland

Sebagai salah satu destinasi paling hype di awal 2000-an, Kampung Gajah terkenal dengan ATV, waterpark besar, hingga spot foto unik berlatar alam. Tempat ini sempat menjadi ikon wisata Bandung Utara dan ramai dikunjungi wisatawan luar kota.
Sayangnya, masalah keuangan, biaya operasional yang tinggi, serta sengketa lahan membuat tempat ini terus merugi hingga akhirnya tutup pada 2018. Bangunannya kini dibiarkan kosong dan tidak terawat.
- Taman Remaja Surabaya (TRS)

TRS merupakan pusat hiburan rakyat yang sangat populer pada awal hingga pertengahan 2000-an, lengkap dengan panggung konser, pasar malam, dan wahana permainan klasik. Banyak acara musik anak muda digelar di sini.
Namun, kondisi fasilitas yang semakin usang serta perizinan yang bermasalah membuat TRS ditutup pada 2017. Lahan bekasnya menunggu keputusan revitalisasi dari pemerintah kota.
- Taman Festival Bali

Pernah ramai di awal 2000-an dengan konsep futuristik, panggung laser show, dan teater besar, Taman Festival Bali sempat digadang-gadang sebagai taman hiburan modern pertama di Bali.
Namun masalah manajemen dan finansial membuatnya tutup sekitar tahun 2000–2001. Kini, bangunannya yang terbengkalai penuh grafiti menjadikannya lokasi favorit fotografer urban dan pemburu cerita misteri.
- Hutan Bambu Bekasi

Hutan Bambu Bekasi dulunya hanyalah kawasan tepian sungai, tetapi mulai dikenal pada awal 2000-an sebagai spot nongkrong alami. Popularitasnya melonjak saat media sosial mulai berkembang, spot foto dari bambu, saung sederhana, dan dermaga mini di pinggir Kali Bekasi membuatnya sering dikunjungi anak muda.
Namun, masalah sampah, kurangnya perawatan, dan proyek penataan Kali Bekasi membuat kawasan ini perlahan meredup. Kini, beberapa bagian sudah tidak terawat dan fungsinya lebih banyak sebagai ruang hijau biasa, bukan destinasi wisata seperti dulu.
Pengamat pariwisata menilai tutupnya berbagai wisata era 2000-an merupakan konsekuensi dari tren wisata yang berubah cepat. “Generasi saat ini lebih suka tempat yang interaktif, digital, dan instagramable, sementara banyak wisata lama sulit mengikuti perkembangan,” ujarnya.
Penutupan tempat-tempat ini menunjukkan bahwa industri hiburan sangat dinamis. Banyak dari bekas lahan wisata kini berubah menjadi pusat perbelanjaan, perumahan, hingga gedung komersial. Meski demikian, bagi masyarakat yang tumbuh pada dekade 2000-an, destinasi ini menyimpan kenangan yang sulit dilupakan.
Nostalgia terhadap destinasi yang pernah berjaya menjadi pengingat bahwa dunia pariwisata akan terus berubah mengikuti zaman. Meski telah tutup, jejak tempat wisata era 2000-an tetap hidup sebagai bagian dari sejarah hiburan Indonesia.












