Kabar5News – Nama Perry Warjiyo kembali menjadi sorotan publik setelah pemerintah mengumumkan telah menerima surat pengunduran dirinya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Selama hampir tujuh tahun memimpin bank sentral, Perry dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam menjaga stabilitas moneter Indonesia di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959, Perry Warjiyo menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 1982. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Science serta Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang Ekonomi Moneter dan Keuangan Internasional dari Iowa State University.
Karier Perry di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama lebih dari tiga dekade, ia menempati berbagai posisi strategis yang membentuk pengalamannya di bidang kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, hingga hubungan internasional.
Di awal kariernya, Perry banyak menangani isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan moneter dan ekonomi makro. Seiring waktu, ia dipercaya menduduki berbagai jabatan penting, mulai dari Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, hingga Kepala Perwakilan Bank Indonesia untuk New York yang memperkuat hubungan Bank Indonesia dengan berbagai lembaga keuangan internasional.
Pada 2013, Perry diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dalam posisi tersebut, ia turut berperan dalam penyusunan berbagai kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada Mei 2018, Perry resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia menggantikan Agus D.W. Martowardojo. Masa kepemimpinannya kemudian berlanjut untuk periode kedua setelah kembali memperoleh persetujuan DPR RI pada 2023.
Selama memimpin BI, Perry menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari gejolak ekonomi global, pandemi Covid-19, tekanan inflasi dunia, hingga ketidakpastian pasar keuangan internasional. Dalam berbagai kesempatan, ia konsisten menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, dan transformasi digital sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia juga mempercepat pengembangan digitalisasi sistem pembayaran, termasuk perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), penguatan transaksi digital nasional, serta implementasi standar pembayaran berbasis teknologi yang semakin terintegrasi.
Selain fokus pada stabilitas moneter, Perry juga aktif mendorong penguatan ekonomi dan keuangan digital, pendalaman pasar keuangan, serta peningkatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah melalui berbagai forum strategis.
Atas kiprahnya tersebut, Perry dikenal sebagai salah satu ekonom Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam kebanksentralan. Ia juga kerap mewakili Indonesia dalam berbagai forum ekonomi internasional, seperti pertemuan G20, ASEAN, Bank for International Settlements (BIS), International Monetary Fund (IMF), hingga World Bank.
Pada 27 Juli 2026, pemerintah mengumumkan telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo yang ditujukan kepada Presiden. Hingga saat ini, pemerintah belum mengungkapkan alasan pengunduran diri tersebut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah menghormati keputusan tersebut serta memberikan apresiasi atas dedikasi Perry selama memimpin Bank Indonesia.
Sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia, pemerintah akan menerbitkan Keputusan Presiden mengenai pemberhentian Perry Warjiyo secara hormat. Sementara itu, jabatan Gubernur Bank Indonesia untuk sementara akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti hingga proses penunjukan gubernur definitif dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan perjalanan karier lebih dari 40 tahun di dunia kebanksentralan, Perry Warjiyo meninggalkan jejak sebagai salah satu tokoh penting dalam kebijakan moneter Indonesia. Pengalaman panjangnya dalam menjaga stabilitas ekonomi, menghadapi berbagai krisis global, serta mendorong transformasi sistem pembayaran digital menjadi bagian dari kontribusinya terhadap perkembangan Bank Indonesia dan perekonomian nasional.











