Kabar5news
Minggu,1 November , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home GAYA HIDUP

Kenapa Kita Sering Belibet Saat Bicara? Ini Penjelasan Psikologis dibaliknya

Dari memori kerja hingga rasa gugup ketika diperhatikan orang lain, psikologi kognitif dan sosial menjelaskan mengapa seseorang bisa tiba-tiba kehilangan kata-kata saat berbicara.

Fajar Novryanto by Fajar Novryanto
16 September 2026
in GAYA HIDUP
0
Kenapa Kita Sering Belibet Saat Bicara? Ini Penjelasan Psikologis dibaliknya

Ilustrasi orang presentasi. Foto: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Kabar5News – Belibet saat berbicara pada dasarnya terjadi ketika proses menyampaikan pikiran menjadi tidak selancar biasanya. Seseorang mungkin sudah mengetahui apa yang ingin dikatakan, tetapi otak membutuhkan waktu lebih lama untuk memilih kata, menyusun kalimat, mengingat informasi, hingga mengubahnya menjadi ucapan.

Proses tersebut sebenarnya berlangsung sangat cepat dan hampir tidak kita sadari dalam percakapan sehari-hari. Namun, ketika otak harus mengolah terlalu banyak informasi sekaligus, kelancaran berbicara dapat terganggu. Kondisi ini bisa terlihat dari munculnya jeda, pengulangan kata, salah mengucapkan kata, atau tiba-tiba lupa dengan apa yang ingin disampaikan.

RELATED POSTS

Sering Merasa Lelah dan Cemas? Bisa Jadi Itu Tanda Window of Tolerance Kamu Terganggu

Suka Tidur Ditemani Podcast? Ini Fakta Menarik di Baliknya

Situasinya bisa semakin terasa ketika seseorang berada dalam kondisi gugup atau menjadi pusat perhatian. Selain memikirkan isi pembicaraan, ia juga mulai memperhatikan bagaimana dirinya terlihat dan dinilai oleh orang lain.

Karena itu, belibet saat berbicara tidak selalu berkaitan dengan seseorang yang tidak menguasai materi atau tidak mampu berkomunikasi. Dari sudut pandang psikologi, ada proses kognitif dan sosial yang ikut bekerja ketika seseorang berusaha mengubah pikiran menjadi bahasa.

Pernah Tahu Jawabannya, Tapi Bingung Mengucapkannya?

Dalam psikologi kognitif, berbicara bukan sekadar mengeluarkan kata dari mulut. Ada serangkaian proses mental yang berlangsung sangat cepat.

Psikolinguistik Willem Levelt menjelaskan bahwa produksi ujaran melibatkan beberapa tahapan, mulai dari menentukan konsep yang ingin disampaikan, memilih kata yang sesuai, menyusun bentuk bahasa, hingga menyiapkan proses pengucapan.

Artinya, sebelum sebuah kalimat terdengar oleh orang lain, otak sebenarnya sudah melakukan pekerjaan yang cukup kompleks.

Karena itu, ketika salah satu proses membutuhkan waktu lebih lama, seseorang dapat mengalami jeda, salah memilih kata, atau mengulang ucapan.

Ternyata Otak Sedang Sibuk Menyusun Kata

Ada satu konsep penting dalam psikologi kognitif yang berkaitan dengan kondisi tersebut, yaitu working memory atau memori aktif.

Psikolog Alan Baddeley menjelaskan memori kerja sebagai sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan dan memanipulasi informasi untuk sementara ketika melakukan aktivitas yang kompleks.

Dalam model Baddeley, terdapat komponen seperti central executive yang mengatur perhatian serta phonological loop yang berkaitan dengan penyimpanan sementara informasi verbal dan suara.

Bayangkan ketika seseorang sedang menjelaskan sebuah cerita. Ia harus mengingat apa yang baru saja dikatakan, memikirkan kalimat berikutnya, memilih kata yang tepat, sekaligus memperhatikan respons lawan bicara.

Semua proses tersebut membutuhkan sumber daya kognitif.

Ketika tuntutannya semakin besar, perhatian dan memori kerja harus membagi kapasitasnya. Akibatnya, proses berbicara yang biasanya terasa otomatis dapat menjadi lebih berat.

Saat Otak Mendadak “Loading” Cari Kata

Kesulitan menemukan kata juga tidak selalu berarti seseorang lupa sepenuhnya.

Dalam teori produksi bahasa Levelt, seseorang perlu mengambil representasi kata dari memori mental sebelum mengubahnya menjadi bentuk bunyi yang bisa diucapkan.

Itulah mengapa terkadang seseorang merasa, “Saya tahu kata itu, tapi lupa menyebutkannya.”

Informasinya terasa dekat, tetapi kata yang dimaksud belum berhasil diakses dengan cepat.

Jeda seperti “apa ya…” kemudian muncul sebagai waktu tambahan bagi otak untuk menemukan dan menyusun kembali informasi yang dibutuhkan.

Gugup Bisa Bikin Kata-Kata Ikut Berantakan

Persoalannya menjadi lebih menarik ketika seseorang berbicara di hadapan orang lain.

Dalam psikologi sosial, kehadiran orang lain dapat memengaruhi perilaku dan performa. Salah satu teori yang terkenal dikembangkan oleh Robert Zajonc melalui konsep social facilitation.

Menurut teori tersebut, kehadiran orang lain dapat meningkatkan tingkat kesiagaan seseorang. Dampaknya terhadap performa dapat berbeda tergantung jenis tugasnya. Tugas yang sederhana atau sudah sangat dikuasai dapat terbantu, sedangkan tugas yang lebih sulit atau kompleks justru dapat terganggu.

Berbicara spontan di depan banyak orang tentu berbeda dengan berbicara santai bersama teman dekat.

Ketika situasinya terasa menekan, seseorang bukan hanya memikirkan “apa yang ingin saya katakan?”, tetapi juga mulai memikirkan “bagaimana saya terlihat di depan mereka?”

Di sinilah perhatian bisa terbagi.

Ketika Pikiran Sibuk Memikirkan Penilaian Orang Lain

Psikolog David Clark dan Adrian Wells melalui cognitive model of social anxiety menjelaskan bahwa dalam situasi sosial yang dianggap mengancam, perhatian seseorang dapat bergeser ke dalam diri atau self-focused attention.

Alih-alih sepenuhnya memperhatikan percakapan, seseorang bisa mulai memantau dirinya sendiri: apakah suaranya terdengar gugup, apakah ia terlihat salah, apakah orang lain memperhatikan kesalahannya, atau apakah jawabannya terdengar meyakinkan.

Akibatnya, sebagian sumber daya perhatian yang seharusnya digunakan untuk menyusun dan menyampaikan pesan justru digunakan untuk mengawasi diri sendiri.

Misalnya ketika harus presentasi.

Seseorang sebenarnya sudah menguasai materi, tetapi tiba-tiba muncul pikiran, “Jangan sampai salah,” “Suara saya gemetar nggak?” atau “Mereka menilai saya bagaimana?”

Semakin banyak perhatian tersedot ke pikiran tersebut, semakin sulit pula mempertahankan fokus pada isi pembicaraan.

Bukan Berarti Tidak Bisa Bicara

Dari sini terlihat bahwa belibet saat berbicara tidak selalu berarti seseorang tidak memahami materi atau tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam kondisi tertentu, justru ada terlalu banyak proses yang berlangsung secara bersamaan.

Otak harus mengambil informasi, memilih kata, menyusun kalimat, mengingat apa yang sudah disampaikan, memperhatikan lawan bicara, sekaligus mengendalikan perhatian terhadap diri sendiri.

Ketika situasinya semakin kompleks atau penuh tekanan, proses tersebut dapat menjadi lebih sulit.

Dengan kata lain, seseorang mungkin tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi mengalami hambatan ketika mengubah pikiran tersebut menjadi ucapan yang lancar.

Jadi, Kenapa Kita Bisa Mendadak Belibet?

Jika dirangkum, psikologi kognitif dan psikologi sosial memberikan dua potongan penjelasan yang saling melengkapi.

Dari sisi kognitif, teori Alan Baddeley menunjukkan pentingnya memori kerja dalam mempertahankan dan mengolah informasi, sedangkan Willem Levelt menjelaskan bahwa produksi bicara membutuhkan serangkaian proses mulai dari konsep hingga artikulasi.

Sementara dari sisi sosial, teori Robert Zajonc menunjukkan bahwa kehadiran orang lain dapat memengaruhi performa, sedangkan model David Clark dan Adrian Wells menjelaskan bagaimana perhatian yang terlalu terarah pada diri sendiri dapat mengganggu pemrosesan dalam situasi sosial yang menimbulkan kecemasan.

Jadi, ketika seseorang tiba-tiba berkata “eee…” atau berhenti mencari kata, bisa saja otaknya sedang melakukan banyak pekerjaan sekaligus.

Sesekali mengalami hal tersebut merupakan bagian dari dinamika normal dalam berbicara. Namun, jika kesulitan berbicara muncul terus-menerus, semakin berat, atau terjadi secara tiba-tiba dan disertai gejala lain, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, belibet bukan selalu soal tidak tahu harus berkata apa. Kadang, otak justru sedang terlalu sibuk mengatur apa yang ingin kita katakan dan bagaimana kita akan terlihat di hadapan orang lain.

Tags: Alan Baddeleybelibet saat bicarabicaraClark dan Wellsfakta psikologiKabar5Newskecemasan sosialkomunikasimemori kerjaotakpsikologi kognitifpsikologi komunikasipsikologi sosialRobert ZajoncWillem Leveltworking memory
Previous Post

Antrean BBM Makassar Mulai Landai, Dirut Pertamina Turun Langsung Pantau SPBU

Next Post

TNI AD Percepat Pembangunan Infrastruktur Jembatan dan Sumur Bor di Beberapa Wilayah Nusantara

Fajar Novryanto

Fajar Novryanto

Related Posts

Sering Merasa Lelah dan Cemas? Bisa Jadi Itu Tanda Window of Tolerance Kamu Terganggu

Sering Merasa Lelah dan Cemas? Bisa Jadi Itu Tanda Window of Tolerance Kamu Terganggu

by Fajar Novryanto
31 Oktober 2026
0

Kabar5News - Pernah merasa masalah datang bertubi-tubi hingga sulit berpikir jernih? Pekerjaan menumpuk, tuntutan sehari-hari, hingga paparan informasi di media...

Suka Tidur Ditemani Podcast? Ini Fakta Menarik di Baliknya

Suka Tidur Ditemani Podcast? Ini Fakta Menarik di Baliknya

by Fajar Novryanto
29 Oktober 2026
0

Kabar5News - Bagi sebagian orang, suasana kamar yang sunyi justru membuat pikiran semakin ramai menjelang tidur. Berbagai kekhawatiran tentang pekerjaan,...

Mengapa Orang Dewasa Masih Suka Beli Mainan? Ini Penjelasan Psikologisnya

Mengapa Orang Dewasa Masih Suka Beli Mainan? Ini Penjelasan Psikologisnya

by Fajar Novryanto
26 Oktober 2026
0

Kabar5News - Membeli boneka, mengoleksi figur karakter, atau merakit mainan tidak selalu identik dengan masa kanak-kanak. Banyak orang dewasa tetap...

Cegah Osteoporosis Sejak Dini, Ini Olahraga yang Baik untuk Kesehatan Tulang

Cegah Osteoporosis Sejak Dini, Ini Olahraga yang Baik untuk Kesehatan Tulang

by Fajar Novryanto
21 Oktober 2026
0

Kabar5News - Menjaga kesehatan tulang sering kali baru menjadi perhatian ketika seseorang memasuki usia lanjut. Padahal, upaya mencegah osteoporosis perlu...

Kenapa Minuman Panas Berbahaya bagi Kerongkongan? Ini Penjelasan Sainsnya

Kenapa Minuman Panas Berbahaya bagi Kerongkongan? Ini Penjelasan Sainsnya

by Fajar Novryanto
19 Oktober 2026
0

Kabar5News - Kopi atau teh sering menjadi pilihan untuk memulai hari. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya...

Next Post
TNI AD Percepat Pembangunan Infrastruktur Jembatan dan Sumur Bor di Beberapa Wilayah Nusantara

TNI AD Percepat Pembangunan Infrastruktur Jembatan dan Sumur Bor di Beberapa Wilayah Nusantara

Cuaca Panas Bikin Haus? Ternyata Tak Semua Minuman Bisa Mengganti Cairan Tubuh

Cuaca Panas Bikin Haus? Ternyata Tak Semua Minuman Bisa Mengganti Cairan Tubuh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Pasukan Elite TNI Gelar Latihan Bersama Pasukan Khusus Australia di Bogor

Pasukan Elite TNI Gelar Latihan Bersama Pasukan Khusus Australia di Bogor

31 Oktober 2026
Sering Merasa Lelah dan Cemas? Bisa Jadi Itu Tanda Window of Tolerance Kamu Terganggu

Sering Merasa Lelah dan Cemas? Bisa Jadi Itu Tanda Window of Tolerance Kamu Terganggu

31 Oktober 2026
  • 595 Followers
  • 24k Followers

MOST VIEWED

  • Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In