Kabar5News – Batik dan tenun Indonesia kembali menunjukkan potensinya di industri fesyen internasional. Melalui perpaduan warisan budaya dan pendekatan desain modern, kain tradisional Nusantara diperkenalkan kepada pelaku industri fesyen dalam ajang Première Classe Paris, Prancis, pada 2–5 Oktober 2026.
Kehadiran tersebut menjadi bagian dari program PINTU Residency 2026, yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis untuk mengeksplorasi kekayaan tekstil tradisional melalui karya kontemporer. Lebih dari sekadar memamerkan busana, kolaborasi ini juga membawa cerita mengenai proses kreatif, keterampilan perajin, dan upaya menerjemahkan identitas budaya ke dalam desain modern.
Batik dan Tenun dalam Sentuhan Modern
Dua koleksi yang ditampilkan, AU LARGE dan GARUDA, mengangkat karakter wastra dari daerah berbeda di Indonesia. Keduanya memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat dikembangkan menjadi busana modern tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budayanya.
Koleksi AU LARGE merupakan hasil kolaborasi Gabriel Marcella Budiono dan desainer Prancis Lisa Rayar. Koleksi ini mengangkat batik dari Mojokerto dengan inspirasi maritim, mempertemukan karakter batik lokal dengan gagasan desain yang terinspirasi budaya laut Prancis.
Gabriel menilai kekayaan wastra Indonesia menjadi sumber inspirasi penting dalam pengembangan koleksi tersebut.
“Wastra Indonesia sangat kaya, terutama batik. Di sini kami melihat prosesnya langsung di depan mata dan belajar bersama para pengrajin,” ujar Gabriel, dikutip dari laporan JF3.
Sementara itu, koleksi GARUDA melibatkan Beatrice Angelica dan desainer asal Paris, Mickaël Nana. Keduanya mengembangkan tenun dan songket Lombok melalui pendekatan desain yang memadukan warisan tekstil Indonesia dengan teknik penjahitan busana Barat.
Menghargai Keterampilan di Balik Kain
Daya tarik wastra Indonesia tidak hanya terletak pada motif, warna, atau bentuk akhirnya. Teknik pembuatan dan keterampilan para perajin juga menjadi bagian penting yang membentuk nilai budaya setiap kain.
Dalam proses pengembangan koleksi GARUDA, Mickaël menekankan bahwa kolaborasi tidak dilakukan dengan memaksakan rancangan yang sudah jadi. Sebaliknya, desain dikembangkan bersama para perajin melalui pertukaran gagasan dan proses kreatif.
“Kami tidak datang untuk memaksakan desain. Kami datang untuk berbagi dan mengungkapkan keinginan, lalu selangkah demi selangkah membangunnya bersama para pengrajin perempuan ini secara profesional dan kreatif,” ujar Mickaël, dikutip dari JF3.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi lintas negara dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Desainer membawa perspektif dan pendekatan baru, sementara para perajin berkontribusi melalui pemahaman mendalam terhadap material serta teknik tradisional.
Beatrice juga menyoroti pentingnya penghargaan terhadap proses pembuatan tekstil. Menurutnya, usaha dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghasilkan kain kerap tidak sepenuhnya dipahami oleh orang yang melihat hasil akhirnya saja.
“Saya sangat senang bisa belajar langsung dari para pengrajin dan berkolaborasi sebagai desainer untuk membuat koleksi yang indah bersama,” ujar Beatrice dalam laporan yang sama.
Dari Mojokerto dan Lombok Menuju Paris
Perjalanan kedua koleksi tersebut menunjukkan bahwa wastra Indonesia memiliki peluang untuk berkembang di luar penggunaan tradisionalnya. Batik Mojokerto dan tenun Lombok dapat hadir dalam rancangan kontemporer ketika karakter material, teknik pembuatan, dan nilai budayanya dipahami sebagai bagian dari proses desain.
Ajang Première Classe Paris juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan karya kepada pelaku industri fesyen profesional, termasuk calon pembeli dan mitra internasional. Kehadiran dalam lingkungan tersebut membuka ruang bagi desainer untuk memperluas jaringan sekaligus mengenalkan potensi tekstil Indonesia.
Meski demikian, tampil di panggung internasional bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keberlanjutan kolaborasi, konsistensi kualitas, pengembangan produk, dan keterlibatan perajin tetap menjadi faktor penting agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kolaborasi AU LARGE dan GARUDA memperlihatkan bahwa memperkenalkan wastra Indonesia ke dunia bukan hanya soal membawa kain ke luar negeri. Lebih dari itu, ada upaya untuk menerjemahkan warisan budaya ke dalam bahasa desain yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus mempertahankan cerita dan keterampilan yang melekat pada setiap helai kain.












