Oleh: Yoega Diliyanto
(Pemerhati Ekonomi dan Mantan Aktivis 98)
Kabar5News – Beredar video Presiden AS Donald Trump dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa sudah ada kesepakatan dengan Indonesia bahwa impor Amerika Serikat dari Indonesia akan dikenakan tarif sebesar 19%. “Mereka akan membayar 19% dan kita tidak membayar apapun, kita akan memiliki akses penuh ke Indonesia” kata Trump.
Kesepakatan ini lebih rendah setelah sebelumnya Trump menetapkan tarif 32% Sebagai bagian dari kesepakatan Indonesia berkomitmen akan membeli Energi dari Amerika Serikat sebesar USD 15 Milyar, USD 4,5 Milyar untuk produk pertanian dan membeli 50 Boeing 777.
Banyak yang pesimis terhadap kesepakatan tersebut? Sebetulnya betulkah kesepakatan ini merugikan Indonesia? Mari kita periksa.
Kita lihat postur perdagangan kedua negara pada 2022 sd 2024. Pada tahun 2022 Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) adalah USD 28 Milyar sementara Impor dari dari AS adalah USD 11 Milyar, AS mengalami defisit perdagangan USD 16,6 Milyar.
Pada tahun 2023 Ekspor Indonesia ke AS USD 26,4 Milyar sementara Impor dari AS sebesar USD 11,4 Milyar, AS defisit USD 15 Milyar dan pada tahun 2024 ikspor Indonesia sebesar (Estimasi) USD 25 Milyar dan impor dari AS sebesar USD 11 Milyar, AS Defisit USD 14 Milyar.
Bagaimana pengaruh penerapan tarif 19% terhadap ekspor Indonesia? Karena Trump menerapkan tarif ini tidak hanya ke Indonesia, artinya kondisi ini adalah kondisi yang tidak terhindarkan.

Negosiasi menurunkan tarif menjadi 19% adalah kesepakatan terbaik. Kondisi ini tidak akan berpengaruh banyak karena tarif terhadap Indonesia termasuk masih rendah dibanding negara lain, yang akan menanggung justru adalah konsumen di AS karena akan membeli barang lebih mahal, meskipun demikian tetap lebih murah membeli dari Indonesia tentunya karena manufaktur di AS ongkos produksinya tinggi. Ekspor Indonesia ke AS berupa produk tekstil, sepatu dan permesinan dan karet.
Sementara penerapan tarif 0% untuk seluruh produk AS ke Indonesia ini memang akan mengurangi pendapatan negara dari bea masuk. Namun ini juga kesempatan untuk manufaktur dalam negeri untuk mendapatkan bahan baku yang lebih murah untuk produk mesin, suku cadang pesawat , bahan kimia dan peralatan elekronik.
Salah satu yang penting adalah import terbesar Indonesia dari AS adalah kedelai yang produknya dan turunannya banyak di konsumsi masyarakat Indonesia, yaitu sebesar 1,9 juta ton atau 17% dari total impor. Ini memastikan pasokan kedelai tercukupi dan harga yang stabil.
Untuk kewajiban impor energi dari AS kita akan melihat langkah pemerintah kedepan namun seperti kita tahu AS adalah salah satu produsen energi terbesar setelah era Shale Revolution yang mampu mengekstraksi minyak dan gas dari batuan, impor kita dari AS semestinya mampu memastikan stok tersedia dan harga yang stabil.
Secara umum, sepertinya AS akan tetap defisit terhadap Indonesia (Indonesia akan mengalami Surplus Perdagangan) mengingat tarif negara lain yang lebih tinggi dan barang substitusi yang tidak mudah didapatkan/diproduksi di AS, kebutuhan impor di Indonesia juga masih ada filter seperti terkait quota impor, kewajiban produk halal dan lain sebagainya yang akan memastikan Indoesia tidak akan dibanjiri produk AS.
Seperti kata Stephen Marks, professor ekonomi dari Pomona College di California keuntungan buat AS terhadap Indoneisa lebih bersifat politis ketimbang Ekonomi.