Kabar5News – Di tahun-tahun awal pemerintahan Orde Baru benar-benar membuka semua hal yang berbau barat. Salah satu indikasi yang sangat terlihat secara terang adalah masuknya dengan deras musik-musik dari musisi barat (baca; Amerika dan Inggris). Mengingat pada masa Orde Lama musik barat menjadi sesuatu yang ilegal.
Pada tahun 1975 satu band rock besar asal Inggris yakni Deep Purple menggelar konser di Jakarta, yang menjadikannya band rock barat pertama yang menggelar konser di Indonesia. Konser berlangsung selama 2 hari, yaitu pada tanggal 4 dan 5 Desember 1975 di stadion utama Senayan, dipromotori oleh majalah Aktuil dan Buena Ventura Group. Konser itu juga menjadi tonggak sejarah musik rock di Indonesia. Namun sayangnya oleh beberapa pihak konser Deep Purple tersebut dikenang sebagai “Malam Neraka”.
Personil Deep Purple yang tampil saat itu adalah formasi Mark IV, terdiri dari David Coverdale (vokal), Tommy Bolin (gitar), Glen Hughes (bass), Jon Lord (keyboard) dan Ian Paice (drum).
Kehadiran Deep Purple saat itu menciptakan antusiasme yang luar biasa di kalangan penggemar musik rock Tanah Air. Puluhan ribu penonton memadati stadion selama dua malam. Majalah Aktuil mencatat sekitar 40.000 hingga 100.000 penonton penyaksikan konser itu.
Nomor-nomor lagu andalan dan ikonik Deep Purple seperti “Smoke on the Water”, “Burn” dan “Strombringer” juga lagu-lagu lainnya digeber di malam konser itu, mendapat sambutan yang fantastis dari penonton. Hal mana itu diakui oleh pihak Deep Purple sendiri.
Konser itu juga menjadi momen penting bagi band rock yang kemudian hari menjadi band rock legendaris Indonesia, yakni God Bless, yang tampil sebagai band pembuka.

Foto : Times Jakarta
Namun dibalik penampilan konser Deep Purple yang luar biasa itu menyisakan serangkaian tragedi dan kontroversi. Yang pertama adalah, kematian seorang kru (crew) pihak Deep Purple bernama Patsy Collins. Ia merupakan kru keamanan Deep Purple. Collins dilaporkan tewas setelah jatuh ke poros lift hotel tempat dimana Deep Purple dan rombongan menginap.
Manajer tour Deep Purple meyakini bahwa insiden ini merupakan rekaya untuk mengintimidasi mereka setelah terjadi perselisihan dengan promotor mengenai pembayaran. Jon Lord dan Glenn Hughes bahkan meyakini bahwa Collins dibunuh.
Yang kedua, penipuan promotor dan masalah pembayaran. Awalnya Deep Purple dijanjikan bayaran mencapai $ 750.000 (US), namun pihak promotor hanya membayar $ 11.000 (US). Konser yang sedianya direncanakan di lokasi berkapasitas 7.000 orang, ternyata dipindahkan ke lokasi yang lebih besar yakni stadion utama Senayan, tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan pihak Deep Purple.
Yang ketiga, terjadi kericuhan yang disebabkan jumlah penonton yang masuk tanpa karcis jauh melebihi penonton resmi yang membeli karcis. Hal itu menyebaban kericuhan besar, pagar-pagar pembatas jebol dan terjadi kerusuhan di pintu masuk. Kerusakan fasiltas di stadion utama Senayan diperkirakan mencapai Rp 2,5 juta, yang kala itu terbilang nilai yang sangat besar.
Semua peristiwa buruk yang dialami oleh Deep Purple tersebut sempat mencoreng reputasi Indonesia di kancah industri musik internasional saat itu. Deep Purple, band lainnya dan juga musisi internasional lainnya menyatakan keengganan menggelar konser di Indonesia.












