Kabar5News – Pertamina Patra Niaga menyelenggarakan Pertamina Sustainable
Aviation Fuel Forum 2025 pada Kamis (16/10) sebagai bentuk komitmen dalam mendorong
transformasi energi di sektor penerbangan nasional. Forum ini menjadi wadah diskusi strategis
antar pelaku industri dan mitra untuk mempercepat penerapan Sustainable Aviation Fuel (SAF)
di Indonesia.
SVP Business Development PT Pertamina (Persero), Wisnu Medan Santoso, menjelaskan
bahwa pengembangan SAF telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk
memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor aviasi.
“Kami memandang SAF bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi solusi strategis untuk
menggerakkan ekonomi sirkular. Indonesia memiliki potensi besar dari limbah minyak jelantah
(Used Cooking Oil/UCO), dan Pertamina berkomitmen untuk memanfaatkannya menjadi energi
bersih bernilai tinggi,” ujar Wisnu.

Wisnu menambahkan, Pertamina telah melakukan penelitian dan pengembangan SAF selama
lebih dari satu dekade, mulai dari konversi bahan baku, proses penyulingan, hingga sertifikasi
kualitas produk. SAF Pertamina telah memenuhi standar internasional yang menjadi acuan
dalam industri penerbangan global. “Produk kami telah melewati fase uji coba penerbangan bersama Pelita Air dengan hasil yang sangat positif. Tanpa perlu modifikasi signifikan pada mesin pesawat, SAF kami menunjukkan performa yang stabil, aman, dan efisien,” tambahnya.
Airbus Indonesia menyatakan dukungannya terhadap upaya Pertamina dalam mempercepat
pengembangan SAF di Tanah Air. Ridlo Akbar, Senior Manager Business Growth Airbus
Indonesia, menegaskan bahwa, saat ini, SAF merupakan solusi paling realistis untuk
mendukung dekarbonisasi industri aviasi. “Sebagai drop-in fuel, SAF dapat digunakan langsung tanpa perlu modifikasi pesawat atau infrastruktur bandara. Secara teknis, SAF mampu menurunkan emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil, menjadikannya langkah signifikan menuju penerbangan rendah emisi,” jelas Ridlo.

Ridlo juga menambahkan bahwa seluruh pesawat Airbus mampu terbang dengan penggunaan
SAF hingga 50% campuran dan menargetkan mampu terbang menggunakan 100% SAF pada
tahun 2030. “Kami percaya dengan kolaborasi erat antara produsen bahan bakar, produsen
pesawat, regulator & pembuat kebijakan, serta operator maskapai, SAF dapat menjadi standar
baru penerbangan global,” ujarnya.
Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai nasional yang telah menggunakan SAF pada
penerbangan regular. Heri Martanto, Caretaker Corporate Sustainability Group Head Garuda
Indonesia, menyampaikan bahwa Garuda Indonesia telah menggunakan SAF pada
penerbangan internasional rute Amsterdam–Jakarta.

“Hasil uji menunjukkan performa mesin pesawat tetap stabil dan aman. Tidak ada implikasi
teknis yang mengganggu operasional, bahkan SAF memberikan kontribusi nyata dalam
penurunan emisi karbon hingga 80%,” ungkap Heri.
Heri menambahkan bahwa Garuda Indonesia akan terus berpartisipasi aktif dalam mendukung
penggunaan SAF di berbagai rute penerbangan. “Kami menargetkan pada tahun 2027 Garuda
Indonesia juga sudah menggunakan SAF tidak hanya pada bandara internasional namun juga
pada penerbangan dari bandara di Indonesia, sesuai target SAF Roadmap Indonesia, dan pada
tahun 2030 terus dilakukan peningkatan penggunaan SAF sesuai target yang ditetapkan oleh
ICAO secara global,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, para panelis juga menyoroti bahwa keberhasilan pengembangan SAF
tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada sinergi antara pemerintah,
industri, dan masyarakat. Diperlukan dukungan regulasi, insentif ekonomi, serta pembangunan
infrastruktur yang mendorong skala produksi SAF agar dapat bersaing secara komersial
dengan bahan bakar fosil.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra
menyampaikan melalui penyelenggaraan Pertamina Sustainable Aviation Fuel Forum 2025,
Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk berada di garis depan dalam
pengembangan energi bersih bagi industri penerbangan.
“Forum ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi dan menegaskan kesiapan
teknis Indonesia dalam menghadirkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang kompetitif
dan berstandar global,” terangnya.
Melalui pengembangan SAF, Pertamina Patra Niaga berkomitmen mewujudkan ekosistem
energi yang lebih hijau, berdaya saing, dan mendukung percepatan pencapaian Net Zero
Emission 2060.












