Kabar5News – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Australia atas sambutan hangat saat kunjungannya di Sydney, Rabu (12/11/2025).
Dalam jumpa pers bersama Perdana Menteri Anthony Albanese usai meninjau kapal HMAS Canberra, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dan Australia karena posisi geografis mereka “ditakdirkan” menjadi tetangga yang baik.
“Tetangga yang baik akan saling membantu di saat-saat sulit,” ujarnya, mengutip pepatah budaya Indonesia yang mengatakan bahwa ketika bencana datang, tetanggalah yang paling dekat untuk memberikan bantuan.
Presiden juga menyebut bahwa dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Australia sebagai Kepala Negara, kedua negara telah mencapai kesepakatan penting di bidang pertahanan dan keamanan.
Kesepakatan ini, kata Prabowo, memperkuat kemitraan strategis antarnegara tetangga guna menjaga stabilitas kawasan, “Kita telah melakukan diskusi yang sangat baik, perjanjian penting antara Australia dan Indonesia, yang berkomitmen untuk menjalin kerja sama yang erat di bidang pertahanan dan keamanan.”
Sejarah Hubungan Diplomatik Indonesia-Australia: Sejak Kemerdekaan hingga Era Strategis
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia bukanlah sesuatu yang baru, akar kerjasama kedua negara telah terbentuk sejak masa awal kemerdekaan Indonesia.
Australia menjadi salah satu negara pertama yang mendekati Indonesia pasca-Proklamasi 1945 dan mendukung pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.
- Awal Hubungan: 1945–1965
Setelah kemerdekaan Indonesia, Australia mendirikan misi diplomatik di Indonesia dan mulai membangun hubungan bilateral. Walaupun terdapat perbedaan budaya dan politik, “kedekatan geografis” telah mendorong Australia-Indonesia untuk saling mendukung dalam forum internasional.
- Masa Ketegangan: 1965–1999
Meski terdengar erat, hubungan kedua negara tidak selalu mulus. Peristiwa seperti Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1963-1966) dan keterlibatan Australia di Timor Leste (1999) memunculkan ketegangan diplomatik.
- Reformasi Kerja Sama: 2000-2010
Memasuki era reformasi di Indonesia dan perubahan politik di Australia, kedua negara menandatangani Lombok Treaty pada 2006 sebagai landasan kerjasama keamanan dan pertahanan.
Kemudian, hubungannya terus diperkuat melalui berbagai MoU (memorandum of understanding) di bidang maritim, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
- Era Strategis Kontemporer: 2015–2025
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia meningkatkan kerja sama menjadi Comprehensive Strategic Partnership sejak 2018, dengan lima pilar utama: ekonomi, orang ke orang, maritim, pendidikan & pengembangan, serta keamanan.
Pencapaian terbaru adalah pengumuman kesepakatan keamanan bersama pada kunjungan Prabowo ke Australia di November 2025, yang disebut sebagai tonggak “era baru” dalam kemitraan kedua negara.
Implikasi bagi Masa Depan Kedua Negara
Dengan latar sejarah yang sudah panjang dan kompleks, pernyataan Presiden Prabowo bahwa Indonesia dan Australia adalah “tetangga yang ditakdirkan” bukan hanya retorika simbolik.
Pernyataan itu mencerminkan kebutuhan strategi nyata: dua negara yang berbatasan langsung secara geografis dan berbagi kepentingan maritim, keamanan, ekonomi, serta tantangan global seperti perubahan iklim, sumber daya laut, dan keamanan siber.
Kerja sama yang diperkuat di bidang pertahanan dan keamanan diharapkan akan berhulu pada dampak-praktis: patroli maritim bersama, latihan militer, interoperabilitas angkatan bersenjata, dan kolaborasi dalam pengembangan teknologi pertahanan.
Pada saat yang sama, kerjasama ekonomi dan pendidikan juga harus terus diperkuat agar hubungan tidak hanya bersifat militer atau strategis tetapi menyentuh kehidupan rakyat.












