Kabar5News – Gunung Lawu (3.265 mdpl), yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, bagi kebanyakan orang Jawa telah lama dianggap sebagai gunung suci (Ardha Purusa dalam konsep Jawa Kuno), sakral dan diselimuti oleh aura misteri. Namun siapa sangka, pada tanggal 11 Mei 1838, seorang Eropa mencatat perjalanan penting di dunia eksplorasi ilmiah di Hindia Timur, sebutan Indonesia kala itu, dengan mendaki Gunung Lawu. Orang Eropa itu bernama Franz Wilhelm Junghuhn.
Ia berprofesi sebagai naturalis, botanis, dan geolog berkebangsaan Jerman yang kemudian bekerja pada pemerintah kolonial Belanda ini, memulai salah satu ekspedisi gunung berapi paling pentingnya di Pulau Jawa, yaitu ke Gunung Lawu.
Ekspedisi ini bukan sekadar pendakian petualangan, namun juga misi ilmiah, mencerminkan semangat eksplorasi bangsa Eropa pada abad ke-19. Junghuhn melihat Lawu bukan hanya sebagai formasi geologis, tetapi juga sebagai laboratorium alam yang kaya akan data.
Junghuhn memiliki tiga fokus utama dalam ekspedisinya :
1. Dokumentasi Geologi dan Vulkanologi
Sebagai seorang geolog, Junghuhn melakukan survei mendalam mengenai struktur Gunung Lawu. Lawu merupakan gunung berapi purba yang kini cenderung pasif (tipe stratovolcano), namun jejak aktivitas vulkaniknya sangat penting bagi pemahaman geologi Jawa. Ia mencatat komposisi batuan, mengamati kondisi kawah (meski Lawu tidak memiliki kawah aktif yang besar), serta mencoba merekonstruksi sejarah erupsi gunung tersebut. Catatan ini menjadi dasar bagi studi geologi modern di wilayah tersebut.
2. Inventarisasi Flora (Botani)
Sebagai seorang botanis ulung, saat mendaki ia tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga secara teliti mengumpulkan, mengklasifikasi, dan mendokumentasikan setiap jenis tanaman yang ia temukan pada zona-zona ketinggian yang berbeda. Eksplorasi Lawu memberinya kesempatan untuk mengaplikasikan sistem klasifikasi iklimnya yang terkenal, yang mengkategorikan wilayah berdasarkan ketinggian tempat (kini dikenal sebagai Klasifikasi Iklim Junghuhn). Dari hutan hujan tropis di kaki gunung hingga vegetasi khas pegunungan tinggi di puncak, setiap sampel dimasukkan ke dalam herbariumnya yang kelak menjadi koleksi berharga. Ia memberikan gambaran detail mengenai transisi ekosistem di Lawu.
3. Penemuan Situs-Situs Kuno di Puncak
Aspek yang paling unik dari eksplorasi Lawu adalah dokumentasi Junghuhn mengenai jejak-jejak peradaban. Lawu telah lama menjadi pusat kegiatan spiritual dan ritual.
Di puncak Lawu, terutama di daerah yang kini dikenal sebagai Hargo Dumiling dan sekitarnya, Junghuhn mencatat penemuan struktur-struktur batu yang tertata rapi. Ia menemukan adanya altar, pondok-pondok kecil, dan penataan batu persegi yang menunjukkan aktivitas manusia yang intensif dan berkesinambungan, yang kemungkinan besar terkait dengan pemujaan leluhur atau dewa gunung. Catatan ini tidak hanya penting bagi ilmu geologi dan botani, tetapi juga membuka mata para sejarawan dan arkeolog terhadap signifikansi Gunung Lawu dalam kebudayaan Jawa sebelum era modern.
Ekspedisi Gunung Lawu pada Mei 1838 menjadi salah satu bab dalam mahakarya Junghuhn, Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (Jawa, Bentuknya, Pakaian Tumbuhannya, dan Struktur Dalamnya). Laporannya mengenai Gunung Lawu tidak hanya memuaskan rasa ingin tahu ilmiah Eropa, tetapi juga melestarikan catatan tentang bentang alam, keanekaragaman hayati, dan situs budaya Jawa yang mungkin tidak akan pernah tercatat tanpa ketelitiannya.











