Kabar5News – Ada berita yang unik beberapa hari lalu yang menjadi sorotan dan menciptakan kehebohan di media sosial. Sebuah band bergenre blackened death metal asal Austria, bernama Belphegor, saat berada di Solo, Jawa Tengah, para personelnya berfoto di tempat yang terlalu “umum” dan biasa bagi orang Indonesia yakni di depan rumpun pohon pisang!.
Hal itu menjadi unik dikarenakan citra band metal tersebut terkesan garang dan menyeramkan. Tema lirik-lirik lagunya kelam, berfokus pada tema-tema satanic dan okultisme (berkaitan dengan hal-hal mistis). Nama band itu sendiri diambil dari nama salah satu iblis dalam mitologi.
Akhirnya tidak sedikit warga-net malah mengaitkan dengan hal mistis yang masih banyak dipercaya oleh orang Indonesia, yakni personil Belphegor berfoto di depan rumpun pohon pisang dikarenakan rumpun pisang merupakan tempat yang digemari hantu pocong atau bahkan sarang hantu pocong merupakan bagian dari rituil mereka!.

Kepercayaan ini muncul bukan tanpa alasan. Pohon pisang, dengan daunnya yang lebar dan rumpun yang lebat, seringkali menciptakan suasana yang gelap, lembap, dan sunyi, menjadikannya lokasi yang dianggap angker di malam hari.
Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa pocong seringkali menggantungkan diri atau berdiri diam di antara rimbunnya pelepah pisang, menyamar dalam kegelapan. Oleh karena itu, melewati kebun pisang sendirian di malam hari dianggap sebagai pantangan. Mitos ini menjadi bagian dari kekayaan cerita horor Nusantara.
Meski ada yang berpendapat demikian, namun tentu saja banyak juga yang menganggap foto itu sesuatu yang lucu, memperlihatkan sisi “normal” dan santai sebuah band yang secara penampilan garang ternyata masih punya rasa humor. Usut punya usut ternyata para personil Belphegor secara spontan meminta berfoto di sana karena menganggap pohon pisang adalah pemandangan langka yang tidak mereka temui di negara asal mereka.
Bagi masyarakat di banyak negara Eropa, khususnya negara Austria, buah-buahan tropis seperti pisang, nanas, dan kelapa memiliki status yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Buah-buahan itu seringkali dianggap mewah atau setidaknya bukan komoditas harian yang tumbuh di halaman belakang.
Iklim Eropa yang tidak memungkinkan tanaman tropis tumbuh subur di alam bebas. Akibatnya, semua pasokan buah-buahan tropis harus diimpor dari negara-negara yang beriklim tropis, seperti di Amerika Selatan, Asia, atau Afrika. Proses impor yang melibatkan rantai pasok panjang, pendinginan, dan pajak logistik membuat harga jual di supermarket menjadi jauh lebih mahal dibandingkan buah lokal mereka (seperti apel atau berry). Oleh karena itu, bagi banyak warga Eropa, pisang atau nanas adalah suguhan yang dihargai, bukan sekadar camilan biasa. Bahkan konon buah-buahan tropis, termasuk pisang disuguhkan pada hari-hari istimewa, seperti hari Natal.
Kedatangan band Belphegor, ke Solo, Jawa Tengah, untuk tampil di Rock In Solo Festival 2025. Salah satu festival musik keras paling bergengsi dan ditunggu-tunggu di Indonesia, yang secara rutin diselenggarakan di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
Dimulai sejak tahun 2004, festival ini telah tumbuh dari gig lokal kecil menjadi acara berskala internasional. Lokasi digelarnya perhelatannya cukup ikonik yakni di Benteng Vastenburg. Selain Belphegor, Rock In Solo pernah juga menghadirkan musisi-musisi internasional lainnya seperti Mayhem, Behemoth, Cannibal Corpse dan masih banyak lagi.












