Kabar5News — Peta sejarah kuno Jawa Barat diperkirakan akan mengalami revisi signifikan, dan kali ini bukan hanya hasil dari metode ekskavasi biasa, melainkan dari hasil metode sinar laser berteknologi tinggi. Serangkaian investigasi terbaru di Gunung Tangkil, Sukabumi, Jawa Barat, yang dipimpin oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan dukungan Museum Prabu Siliwangi dan peneliti lokal, telah menempatkan gunung yang diselimuti hutan lebat ini sebagai calon kuat situs megalitik paling penting di kawasan tersebut. Penemuan ini merupakan puncak dari sebuah petunjuk kecil yang muncul di awal tahun 2025.
Peneliti menemukan fragmen patung batu di lereng gunung. Analisis pendahuluan menunjukkan bahwa komposisi litik artefak tersebut sangat mirip dengan koleksi megalitik di Museum Prabu Siliwangi.
Koneksi ini diperkuat oleh keberadaan menhir di Desa Tugu dan sisa-sisa batu serupa di Gunung Karang, memperkuat hipotesis bahwa Gunung Tangkil adalah bagian dari jaringan megalitik kuno yang lebih besar di Jawa Barat.
Meskipun bukti fisik awal menjanjikan, tantangan utama situs ini adalah vegetasi hutan yang sangat padat, yang secara efektif menyembunyikan struktur apa pun di bawahnya. Jawaban tantangannya adalah dari inovasi teknologi. Antara 16 hingga 20 September 2025, BRIN mengerahkan teknologi pemetaan canggih LiDAR (Light Detection and Ranging) di atas Gunung Tangkil.

Metode ini menembakkan pulsa laser dari udara yang mampu menembus kanopi hutan lebat dan menghasilkan model elevasi permukaan tanah yang sangat detail. Hasilnya, yang sebelumnya tersembunyi selama ribuan tahun, kini terlihat jelas. Pemindaian LiDAR mengungkap susunan batu dan anomali permukaan yang menunjukkan adanya intervensi manusia yang disengaja dan terstruktur.
Menurut M. Irfan Machmud, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, struktur yang terdeteksi menunjukkan pola yang disengaja. “Kami telah mengidentifikasi struktur batu yang terkonsentrasi di zona tinggi,” jelasnya. “Ini mengindikasikan bahwa area tersebut tidak digunakan secara acak, melainkan mengikuti pola lingkungan yang sesuai untuk aktivitas manusia purba.” Singkatnya, teknologi modern telah membuktikan adanya jejak peradaban purba yang terencana dan terorganisir di Gunung Tangkil.
Penemuan di Gunung Tangkil menegaskan kembali pentingnya perpaduan antara penelitian lapangan tradisional dan teknologi mutakhir dalam arkeologi Indonesia. Meskipun area tersebut belum ditetapkan sebagai situs budaya resmi, bukti-bukti yang terkumpul kini menuntut perhatian serius. Penelitian dan ekskavasi lebih lanjut diharapkan dapat mengkonfirmasi usia situs, memperjelas fungsi struktur-struktur yang terdeteksi LiDAR, dan secara definitif mengubah pemahaman tentang kompleksitas sejarah prasejarah di Jawa Barat.












