Kabar5News – Penemuan struktur punden berundak setinggi sekitar 20 meter di kawasan Situs Cibalay, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, menjadi temuan penting dalam kajian arkeologi Jawa Barat.
Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat menyebut temuan ini sebagai salah satu bukti kuat keberadaan tradisi megalitik berskala besar yang berkembang di kawasan lereng Taman Nasional Gunung Halimun Salak sejak masa prasejarah.
Struktur punden berundak dengan tujuh hingga sepuluh teras tersebut ditemukan menjelang akhir kegiatan delineasi dan inventarisasi potensi cagar budaya yang berlangsung selama dua pekan.
Modifikasi kontur alam yang tampak jelas pada susunan teras batu menunjukkan bahwa Situs Cibalay bukan sekadar lanskap alami, melainkan ruang ritual yang dirancang secara sadar oleh masyarakat masa lalu.
Jejak Sejarah Situs Cibalay
Secara historis, Situs Cibalay telah lama dikenal sebagai kawasan pemujaan leluhur.
Keberadaan situs ini mencerminkan praktik kepercayaan masyarakat prasejarah yang menempatkan alam khususnya kawasan pegunungan sebagai ruang sakral.
Dalam tradisi megalitik Nusantara, gunung diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur dan kekuatan adikodrati.
Kawasan Cibalay diperkirakan berkembang sebagai pusat aktivitas ritual sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke wilayah Nusantara.
Hal ini terlihat dari pola susunan batu, orientasi teras, serta pemanfaatan topografi alami yang khas dalam tradisi megalitik.
Punden Berundak dan Konsep Kosmologi Kuno
Punden berundak yang ditemukan di Situs Cibalay memiliki nilai penting dalam sejarah arsitektur Indonesia.
Struktur bertingkat ini mencerminkan konsep kosmologi kuno yang membagi ruang secara vertikal, dari dunia manusia menuju dunia leluhur.
Beberapa ciri utama punden berundak di Situs Cibalay antara lain:
- Susunan teras bertingkat yang mengikuti kontur alam.
- Penggunaan batu besar sebagai elemen utama struktur.
- Orientasi ritual yang mengarah ke kawasan pegunungan.
- Ketinggian signifikan yang menunjukkan status sakral kawasan.
Dalam kajian arkeologi, punden berundak dipandang sebagai bentuk arsitektur sakral tertua di Indonesia dan diyakini menjadi cikal bakal pembangunan candi pada masa Hindu-Buddha.
Pola bertingkat yang ditemukan di Cibalay memiliki kesinambungan konsep dengan bangunan candi pada periode selanjutnya.
Situs Cibalay sebagai Lanskap Budaya
Hasil inventarisasi terbaru mencatat sedikitnya 38 titik potensi cagar budaya di kawasan Cibalay, dengan 33 di antaranya merupakan temuan baru.
Data ini menunjukkan bahwa Situs Cibalay bukanlah situs tunggal, melainkan bagian dari lanskap budaya yang luas dan kompleks.
Keberadaan berbagai titik ritual ini memperlihatkan bahwa kawasan Cibalay berkembang melalui proses panjang dan berlapis, mencerminkan dinamika sosial, spiritual, dan budaya masyarakat prasejarah yang pernah menghuni wilayah tersebut.
Pelestarian dan Makna Sejarah Cibalay Hari Ini
Masuknya kawasan Cibalay dalam rencana pengembangan geopark Kabupaten Bogor menempatkan situs ini sebagai aset sejarah dan budaya yang strategis.
Upaya delineasi dilakukan untuk memperjelas batas kawasan budaya, menentukan zona perlindungan, serta memastikan pemanfaatannya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat setempat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan Situs Cibalay.
Temuan punden berundak ini tidak hanya memperkaya khazanah sejarah Nusantara, tetapi juga membuka peluang penelitian lanjutan untuk mengungkap lebih dalam perjalanan peradaban awal di Jawa Barat.












