Kabar5News – Bagi masyarakat Indonesia, nama Wieteke van Dort mungkin tidak sepopuler bintang pop masa kini. Namun, begitu melodi riang dengan lirik “Geef Mij Maar Nasi Goreng” diputar, kenangan tentang hubungan historis dan kerinduan akan tanah kelahiran langsung bangkit. Wieteke van Dort bukan sekadar penyanyi; ia adalah simbol dari identitas Indo (campuran Belanda-Indonesia) yang berhasil mengabadikan rasa rindu lewat seni.
Lahir pada 16 Mei 1943 di Surabaya, Jawa Timur, Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort menghabiskan masa kecilnya di tengah hangatnya alam tropis Indonesia. Pengalaman masa kecil inilah yang membentuk jiwanya. Ia tumbuh besar dengan melihat keseharian masyarakat Surabaya, mencicipi masakan lokal, dan mendengar dialek bahasa Indonesia yang kemudian ia bawa hingga ke Belanda.
Pada usia 14 tahun, saat keluarganya sedang berlibur di Belanda, situasi politik antara Indonesia dan Belanda memanas (terkait sengketa Irian Barat). Hal ini membuat keluarganya tidak bisa kembali ke Indonesia. Wieteke pun harus beradaptasi dengan dinginnya Eropa, namun hatinya tetap tertinggal di Jawa.
Wieteke mencapai puncak popularitasnya melalui karakter fiksi bernama Tante Lien dalam program televisi The Late Late Lien Show. Melalui karakter ini, ia tampil mengenakan kebaya, bersanggul, dan berbicara dengan aksen “Indisch” yang kental, perpaduan antara bahasa Belanda dan dialek Melayu-Indonesia.
Acara tersebut menjadi oase bagi komunitas Indo di Belanda yang merindukan kampung halaman (tanah kelahiran). Tante Lien membawa kembali aroma dapur Indonesia, hangatnya sinar matahari, dan keramahan yang tidak mereka temukan di Belanda.
Fenomena Lagu “Nasi Goreng”
Lagu paling ikonik yang pernah ia bawakan adalah “Geef Mij Maar Nasi Goreng (Berikan Saja Aku Nasi Goreng)” yang ditulis pada tahun 1977. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang tidak cocok dengan makanan Belanda yang dingin dan hambar seperti stamppot, lalu merindukan masakan Indonesia yang kaya rempah seperti nasi goreng, sambal, kerupuk, dan sate.
Lagu ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan pernyataan identitas. Liriknya mencerminkan betapa kuatnya pengaruh budaya kuliner Indonesia dalam membentuk jati diri orang-orang Belanda-Indo di perantauan.
Sepanjang kariernya, Wieteke van Dort konsisten menjadi duta budaya. Ia dianugerahi gelar Knight of the Order of Orange-Nassau atas jasanya dalam bidang seni dan kontribusinya bagi komunitas Indo. Hingga akhir hayatnya pada Juli 2024, ia tetap dicintai sebagai sosok yang mampu mencairkan ketegangan sejarah melalui musik dan komedi yang humanis.












