Kabar5News – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu punya cerita tersendiri bagi Kota Bandung. Tahun ini, kawasan ikonik Jalan Braga kembali menjadi titik pusat kepadatan wisatawan. Seolah tidak ada habisnya, jalanan dengan ornamen batu andesit ini dipenuhi lautan manusia yang ingin merayakan pergantian tahun.
Sebagaimana diwartakan ribuan wisatawan dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, hingga luar Pulau Jawa, memadati trotoar Braga. Mereka tampak asyik berswafoto di depan gedung-gedung tua bergaya art deco, menikmati sajian kopi di kafe-kafe estetik, hingga sekadar berjalan santai menikmati udara sejuk Bandung.
Di balik hiruk-pikuk klakson kendaraan dan tren konten media sosial saat ini, Jalan Braga menyimpan memori sejarah yang sangat panjang. Nama “Braga” sendiri diyakini berasal dari kata dalam bahasa Sunda, Ngabaraga, yang berarti bergaya atau pamer. Nama ini sangat relevan dengan fungsi kawasan ini pada awal abad ke-20.
Dahulu, sekitar tahun 1900-an, Braga hanyalah sebuah jalan kecil yang berlumpur dan dikenal sebagai Karreweg atau jalan pedati. Transformasi besar terjadi ketika para pengusaha Belanda mulai mendirikan toko-toko mewah untuk melayani kebutuhan para Preangerplanters (tuan tanah perkebunan teh yang kaya raya).
Sejarah mencatat beberapa poin penting mengenai masa keemasan Braga:
- Pusat Belanja Mewah: Di sinilah berdiri toko Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka) dan toko De Vries yang legendaris sebagai department store pertama di Bandung.
- The Paris of Java: Karena banyaknya butik yang menjual mode terbaru langsung dari Paris, Bandung mendapat julukan Parijs van Java. Jalan Braga adalah “Champs-Élysées” versinya Indonesia.
- Kawasan Art Deco: Arsitek-arsitek ternama Belanda seperti C.P. Wolff Schoemaker menjadikan Braga sebagai taman bermain arsitektur mereka, meninggalkan warisan gedung-gedung cantik yang masih tegak berdiri hingga sekarang.
Kini, meski zaman telah berganti, Braga tidak kehilangan taringnya. Program Braga Free Vehicle atau Braga Bebas Kendaraan yang sesekali diterapkan pemerintah kota memberikan ruang lebih bagi pejalan kaki untuk benar-benar merasakan atmosfir tempo doeloe tanpa gangguan asap knalpot.
Wisatawan tidak hanya datang untuk belanja, tetapi juga untuk “berburu” nostalgia. Penjual lukisan yang berjejer di sepanjang trotoar tetap menjadi ciri khas yang tak tergerus zaman, bersanding manis dengan gerai-gerai kuliner modern yang menyasar generasi milenial dan Gen Z.
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Braga di sisa libur Nataru ini, disarankan untuk menggunakan transportasi umum atau memarkir kendaraan agak jauh dari area utama, mengingat kepadatan lalu lintas yang cukup ekstrem. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan demi kelestarian salah satu cagar budaya terpenting di Kota Bandung ini.












