Kabar5News – Memasuki awal tahun 2026, intensitas hujan ekstrem kembali dialami beberapa wilayah di Indonesia. Pemandangan genangan air dan banjir bandang seolah menjadi “tamu rutin” yang datang setiap kali hujan turun dengan intensitas lebat. Fenomena ini bukan lagi sekadar siklus musiman biasa, melainkan sinyal kuat adanya pergeseran anomali iklim yang kian mengkhawatirkan.
Dahulu, masyarakat mengenal siklus banjir besar atau curah hujan ekstrem dalam periode empat hingga lima tahunan. Namun kini, pola tersebut tampaknya telah usang. Hujan dengan intensitas tinggi kini terjadi hampir setiap tahun, bahkan setiap kali musim hujan tiba, membawa ancaman banjir yang mengintai setiap saat.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa siklus cuaca ekstrem di Indonesia memang mengalami pemendekan frekuensi. Jika pada dekade 1980-an siklus hujan ekstrem berada di rentang 10-20 tahun, kini siklus tersebut menyempit menjadi hanya 2-5 tahun, bahkan dalam beberapa kasus terjadi setiap tahun.
Profesor Erma Yulihastin, Pakar Klimatologi dari BRIN, menyebutkan bahwa kita sedang memasuki era “Musim Turbulens”. Perubahan iklim telah menciptakan ketidakseimbangan panas di atmosfer yang memicu gerakan udara tidak teratur. Akibatnya, hujan yang turun bukan lagi hujan stabil, melainkan hujan dengan magnitudo besar yang jatuh dalam waktu singkat.
Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Para ahli menunjuk beberapa faktor krusial berdasarkan kajian ilmiah:
- Pemanasan Global dan Hukum Clausius-Clapeyron
Secara fisika, atmosfer yang lebih hangat memiliki kapasitas untuk menyimpan uap air yang lebih banyak. Setiap kenaikan suhu sebesar 1^\circ\text{C}, atmosfer dapat menampung sekitar 7% lebih banyak uap air. Ketika uap air ini jenuh, air yang tumpah ke bumi menjadi jauh lebih ekstrem dan intens dibandingkan berdekatan dengan suhu normal. - Suhu Permukaan Laut yang Menghangat
Perairan Indonesia yang hangat menjadi “bahan bakar” utama pembentukan awan konvektif. Pada awal 2026, suhu muka laut yang tetap tinggi meski di tengah fenomena La Niña lemah, mempercepat proses penguapan. Hal ini menyediakan energi tambahan bagi sistem cuaca untuk memproduksi hujan lebat secara terus-menerus. - Gangguan Gelombang Atmosfer (MJO)
Aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah maritim Indonesia memperkuat pembentukan awan hujan. Fenomena ini sering kali “bertabrakan” dengan angin monsun, menciptakan daerah konvergensi (pertemuan angin) yang statis di atas daratan Indonesia, menyebabkan hujan turun berhari-hari di satu wilayah. - Degradasi Lingkungan dan “Run-off” Tinggi
Faktor alam diperparah oleh kondisi daratan. Urbanisasi yang masif mengubah lahan resapan menjadi beton. Secara ilmiah, ini meningkatkan koefisien limpasan air permukaan (run-off). Karena tanah tak lagi mampu menyerap air, hujan dengan durasi singkat sekalipun langsung memenuhi drainase yang sudah tidak memadai, sehingga banjir terjadi hampir seketika.
Kondisi di awal 2026 ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Masyarakat diimbau untuk tidak lagi menggunakan patokan “siklus 4 tahunan” dalam mengantisipasi bencana.
Mitigasi bencana banjir harus diubah secara struktural, mulai dari normalisasi sungai hingga perbaikan sistem drainase perkotaan yang mampu menampung debit air ekstrem. Tanpa langkah adaptasi yang serius, hujan di tahun 2026 ini akan menjadi ancaman bagi mobilitas warga.












