Kabar5News – Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah India melaporkan lima kasus terbaru di Barasat, Benggala Barat, per 25 Januari 2026. Dua kasus awal terkonfirmasi pada tenaga kesehatan yang diduga tertular saat menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat yang kemudian meninggal dunia sebelum sempat menjalani pemeriksaan laboratorium.
Beberapa hari setelahnya, tiga kasus tambahan dilaporkan. Otoritas kesehatan India langsung memberlakukan karantina, pelacakan kontak, dan pengawasan darurat. Sekitar 180 orang telah menjalani pemeriksaan, dengan sejumlah kontak berisiko tinggi ditempatkan dalam karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami virus ini. Menurut World Health Organization (WHO), Nipah dikategorikan sebagai priority pathogen karena berpotensi menimbulkan wabah besar dengan dampak serius.
Infeksi virus Nipah pada manusia dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga ensefalitis (radang otak) yang fatal. Dalam berbagai wabah sebelumnya, tingkat kematian dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus ini. Penanganan medis bersifat suportif, yakni meredakan gejala dan menjaga kondisi pasien tetap stabil.
Bagaimana Cara Penularannya?
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui:
Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar, mengonsumsi buah yang terkontaminasi air liur atau bekas gigitan kelelawar, kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi, seperti droplet, urine, atau darah.
Masa inkubasi virus berkisar antara 4 hingga 14 hari. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi pusing, kantuk berlebihan, penurunan kesadaran, kejang, hingga tanda-tanda gangguan neurologis akibat ensefalitis akut.
Deteksi virus Nipah dilakukan melalui pemeriksaan PCR, serupa dengan metode tes Covid-19, menggunakan sampel usap hidung atau tenggorokan, serta dapat juga melalui cairan serebrospinal, urine, atau serum darah.
Respons Negara-Negara Asia
Sejumlah negara Asia Tenggara bergerak cepat merespons kasus di India. Thailand menerapkan skrining ketat bagi pelancong yang tiba dari India, khususnya Benggala Barat. Penumpang dengan gejala seperti demam, batuk, sesak napas, kebingungan, atau kejang diminta segera mencari pertolongan medis, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan hewan atau pasien terinfeksi dalam 21 hari terakhir.
Nepal juga memperketat kewaspadaan di pintu masuk negaranya. Langkah ini diambil karena virus Nipah dinilai sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan dampak serius, mengingat belum adanya vaksin dan terapi spesifik.
Bagaimana dengan Indonesia?
Hingga saat ini, Indonesia belum melaporkan adanya kasus virus Nipah. Meski demikian, Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan peringatan dini melalui situs infeksiemerging.kemkes.go.id sejak 13 Januari 2026.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk:
1. Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar.
2. Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
3. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama bagi pelancong dari negara terdampak.
Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala dalam 14 hari setelah kembali dari wilayah terjangkit.
Dewan Penasehat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, menekankan pentingnya memperketat pengawasan di pintu masuk internasional. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di bandara dan pelabuhan diminta siaga untuk menapis pelaku perjalanan dari wilayah terdampak, termasuk negara yang memiliki mobilitas tinggi dengan India.
Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati
Dengan tingkat fatalitas yang tinggi dan belum adanya vaksin maupun obat khusus, pencegahan menjadi langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman virus Nipah. Pengawasan perjalanan, deteksi dini, serta kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keamanan pangan menjadi kunci utama agar Indonesia tidak kecolongan.
Kewaspadaan bukan berarti kepanikan. Justru dengan informasi yang tepat dan respons yang cepat, risiko penyebaran dapat ditekan. Belajar dari pengalaman pandemi sebelumnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi benteng utama menghadapi potensi wabah penyakit menular seperti virus Nipah.












