Kabar5News – Fenomena child grooming kembali menjadi sorotan publik. Praktik ini bukan sekadar pelecehan seksual biasa, melainkan proses manipulasi psikologis yang dilakukan secara sistematis oleh orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan keterikatan emosional dengan anak sebelum melakukan eksploitasi.
Pakar Psikologi UMJ sekaligus Ketua PP ‘Aisyiyah dan Dosen PG-PAUD FIP UMJ, Dr. Rohimi Zam Zam, S.Psi., SH., M.Pd., Psi., menegaskan bahwa child grooming adalah kejahatan yang dirancang secara bertahap.
“Child grooming bukanlah tindakan yang terjadi secara instan, melainkan sebuah proses bertahap dan sistematis. Pelaku biasanya berpura-pura menjadi teman, figur yang dipercaya, atau sosok yang memberikan perhatian dan rasa aman, sehingga perlahan menurunkan pertahanan korban maupun lingkungan sekitarnya,” jelas Rohimi.
Menurutnya, proses manipulasi ini dimulai dengan membangun kepercayaan dan kelekatan emosional. Pelaku berusaha menjadi figur yang dekat, memahami, dan dapat diandalkan. Bahkan, tidak jarang pelaku juga membangun citra baik di hadapan keluarga korban.
“Pelaku membangun kepercayaan kepada korban dan keluarganya dengan niat jahat yang tersembunyi. Mereka memanfaatkan kerentanan emosional anak, seperti rasa kesepian atau masalah di rumah, lalu membuat korban merasa istimewa dan bergantung,” tambahnya.
Modus child grooming dapat terjadi secara langsung di lingkungan sekitar, termasuk keluarga, sekolah, atau pergaulan sehari-hari. Namun di era digital, praktik ini semakin marak melalui media sosial, aplikasi pesan, hingga permainan daring. Komunikasi intens di ruang privat digital kerap menjadi pintu masuk manipulasi yang sulit terdeteksi.
Ciri Anak Mengalami Grooming
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak tiba-tiba memiliki kedekatan yang tidak wajar dengan orang dewasa berusia jauh lebih tua, sering membela atau memuji sosok tertentu secara berlebihan, serta menjauh dari teman sebaya. Anak juga bisa mulai tertutup, menerima hadiah atau perlakuan khusus yang tidak lazim, hingga menunjukkan perubahan perilaku seperti mudah marah, sensitif, atau menarik diri dari lingkungan.
Perubahan tersebut sering dianggap sebagai bagian dari fase pertumbuhan, padahal bisa menjadi sinyal adanya manipulasi yang lebih dalam. Karena itu, orang tua dianjurkan menggali informasi dengan pendekatan yang tenang agar anak merasa aman untuk bercerita.
Dampak Psikologis yang Serius
Rohimi menegaskan bahwa dampak child grooming sangat serius, baik secara fisik maupun mental.
“Anak dapat mengalami trauma psikologis mendalam, kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma. Selain itu, muncul masalah perilaku seperti agresivitas, menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan menjalin hubungan yang sehat, hingga kebingungan identitas diri,” ujarnya.
Selain gangguan emosional, korban juga berisiko mengalami gangguan tidur, penurunan prestasi belajar, perubahan pola makan, serta rasa malu dan bersalah yang berkepanjangan. Dalam jangka panjang, trauma tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kualitas relasi interpersonal.
Peran Orang Tua dan Guru
Dalam upaya pencegahan, Rohimi menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan dan komunikasi terbuka.
“Pengawasan bukan untuk membatasi, tetapi untuk melindungi. Guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan perlindungan anak. Mereka perlu memahami konsep child grooming, mengenali perubahan perilaku siswa, serta menjalin komunikasi yang kuat dengan orang tua,” tegasnya.
Sinergi antara rumah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah dan menangani child grooming. Orang tua perlu mengajarkan batasan pribadi sejak dini, membangun kepercayaan dengan anak, serta memberikan edukasi tentang risiko interaksi di dunia digital.
Child grooming adalah manipulasi halus yang dapat terjadi kapan saja, baik secara langsung maupun online. Dengan kewaspadaan, komunikasi terbuka, dan pendampingan yang tepat, anak-anak dapat terlindungi dari kejahatan yang sering tersembunyi di balik kedekatan dan kepercayaan.












