Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman
Kabar5News – Hari itu, Tomohon sepi dan panas benderang tidak seperti biasanya.
Opa Untu menatap jalan yang mulai ramai dilalui. Tatapannya kosong, menyiratkan satu perasaan kuat, yakni masa lalu yang ia sesali, kisah yang harus ia simpan sebagai luka sepanjang masa.
Opa Untu menikah dengan Oma Sonya. Mereka dikaruniai lima orang anak: satu putra berparas tampan dan berbadan tegap layaknya orang Indo—Alex namanya— serta empat putri: Helen, Magda, Maria, dan Lisbet.
Sebagai mantan pasukan KNIL yang kemudian bergabung dengan TNI AD, naluri kemiliteran sudah tertanam dalam diri Opa Untu, hal itu sekaligus menjadi harapan ayahnya.
Ayahnya, Lodewijk Vincen, ingin sekali melihat Untu menjadi pasukan KNIL. Karier Opa Untu pun meningkat pesat, beragam pertempuran ia ikuti, hingga akhirnya menjadi perwira di KNIL.
Ketika pasukan Jepang mendarat di Manado, Opa Untu dipaksa melakukan perlawanan bawah tanah bersama A.B. Andu dan J.E. Tatengkeng.
Mereka melakukan sabotase, menjalin kontak dengan kelompok Sjahrir yang dikenal tak mau berkompromi dengan Jepang.
Perlawanan terhadap romusha dan krisis pangan memaksa anak-anak muda serta mantan pasukan KNIL untuk gencar melawan. Namun sial bagi Andu yang tertangkap. Di sinilah Jepang melakukan pemberantasan yang keji dan brutal.
Opa Untu, istrinya Sonya, Alex, serta adik-adiknya harus mengungsi ke gunung-gunung. Masa itu adalah masa bahagia bagi Opa Untu. “Biar jo torang su samua susah, tapi torang selalu bersama,” ucapnya kala itu.
Sonya, meski terbiasa hidup dengan gaya Belanda, harus menyesuaikan diri. Ia adalah lulusan sekolah perawat di Belanda, lalu mengabdi di Rumah Sakit Zending Protestan di Tomohon, merawat orang-orang setiap hari.
Sampai satu ketika, ia harus menyerahkan kehendaknya saat sang suami memilih melawan Jepang. Semua ia tinggalkan: rumah di Tomohon Tengah, ekosistem hidupnya, bahkan rumah panggung Minahasa tempat ia bercengkrama dengan anak-anak dan suami, harus berganti dengan alam bebas.
Tak terasa, cinta kasih keluarga ini semasa perlawanan terhadap Jepang begitu hangat dan penuh pengorbanan. Sonya tahu, keluarganya yang masih berdarah Belanda harus masuk ke dalam kamp konsentrasi.
Ibunya, kakak-kakaknya, bahkan ayahnya yang telah sepuh, semua ditahan di sisi kanan Rumah Sakit Bethesda, dekat dengan Gereja Sion Tomohon.
Sebagai laki-laki, Opa Untu berharap kelak Alex bisa menjadi perwira militer. Karena itu, masa gerilya menjadi kesempatan bagi Opa Untu untuk mengajari Alex beragam kemampuan: menembak, memasang jebakan, menggunakan pisau komando, bahkan baris-berbaris. Hidup di gunung penuh aktivitas.
Peristiwa kemerdekaan tahun 1945 membawa mereka turun gunung. Banyak masyarakat menyambutnya, merah putih berkibar. Opa Untu yang tegar pun tak kuasa menahan tangis haru.
Sekalipun hidup di gunung, pendidikan bagi anak-anak tetap dijaga. Menulis dan membaca diajarkan oleh Sonya, yang menguasai dua bahasa: Belanda dan Melayu. Anak-anak pun mengerti dan membaca berita tentang proklamasi, seruan-seruan merdeka disambut hangat.
Tujuh hari setelah Ir. Sukarno dan Bung Hatta menyampaikan proklamasi, berita kemerdekaan di Minahasa disiarkan melalui radio dan surat kabar.
Karena berita itulah para gerilyawan turun gunung, terjadi pelucutan senjata Jepang, dan munculnya Dr. G.S.S.J. Ratulangi yang menjabat sebagai Gubernur Sulawesi tahun 1945–1946, sebagai perwakilan pemerintah pusat.
Dilema dialami Opa Untu saat Belanda kembali datang. Pasca proklamasi, sebagai opsir KNIL, ia harus memilih. Sonya-lah yang memberi keyakinan pada Opa Untu.
“Tunas baru ini adalah harapan bagi kita. Kelak tanah Minahasa akan memberi kehidupan sekaligus kebebasan. Rumah kita, Kakaskasen, bukan lagi cerita tentang kolonialisme, tapi tentang kemandirian kita.
Biar kita tidak lagi makan roti dengan keju, biar kita tidak lagi tersedia susu coklat hangat, tapi Minahasa adalah rumah kita—merdeka dan bebas. Kelak anak-anak kita makan dari tangan para petani kita, minum dari air kita.
Kolonialisme bukan lagi harapan. Mereka menukar roti dengan harga diri kita. Mereka kasih kita susu untuk mengambil kekayaan alam tanah Minahasa.”
Kata-kata Sonya begitu kuat dalam nurani Opa Untu. Dibuanglah satu per satu pangkatnya, kebanggaannya sebagai Letnan KNIL.
Ia mulai mendorong Alex untuk masuk militer. Karena perawakan dan reputasinya, Alex dengan mudah diterima masuk TNI pada tahun 1948, setelah peristiwa Madiun yang dikenal dengan Madiun Affair, satu peristiwa yang didalangi oleh PKI di bawah pimpinan Musso, melakukan pemberontakan dengan mendirikan Soviet Indonesia.
Mereka memanfaatkan kemarahan laskar, yang juga kecewa terhadap program RERA (Rekonstruksi dan Rasionalisasi) yang merampingkan pasukan rakyat.
Alex menjadi salah satu prajurit TNI Ia memegang teguh prinsip-prinsip nasionalisme, militer, serta profesionalisme, sebagaimana yang ia dapat dari ayahnya, Opa Untu.
Minahasa, 1950
Pasca proklamasi Republik Indonesia, negeri ini didera ketidakstabilan politik. Kabinet silih berganti, jatuh bangun, sementara ketidakpuasan muncul di berbagai daerah.
Tak luput, pemberontakan pun lahir atas nama ideologi maupun agama. Namun dari semua itu, ketidakadilan antara pusat dan daerah semakin nyata.
Pemilu 1955, yang pertama kali berlangsung, mencerminkan realita masyarakat: komunisme hadir melalui agitasi dan kampanye negatif, memanfaatkan kaum miskin di Minahasa.
Komunisme tidak laku di sana, namun di Jawa kemudian mendapatkan tempat tersendiri.
Hasil pemilu 1955 mencerminkan tiga kekuatan: nasionalis (PNI), religius (Masyumi dan NU), serta komunis (PKI).
Oleh Sukarno, formula ini disebut Nasakom. Masyumi menolak karena unsur komunisnya, sementara NU dan kelompok lain bergabung untuk mengimbangi agar PKI tidak dominan.
Lucunya, ideologi PKI—marxisme—lahir dari revolusi non-parlemen untuk merebut kekuasaan, namun di Indonesia mereka menggunakan cara-cara sosialisme melalui parlemen.
Mental dasarnya tetap ingin merebut kekuasaan. Bagi orang Minahasa, Nasakom tak ubahnya “persatuan yang dipaksakan,” bukan cermin keadilan, apalagi kesejahteraan. Jurang antara Jawa dan daerah semakin lebar.
Program-program populis disinyalir menunjukkan bahwa presiden terkooptasi oleh PKI.
Akibatnya, konflik pun muncul: Bung Hatta mengundurkan diri, PSI dan Masyumi mengambil jarak. Bagi mereka, politik adalah akal sehat dan demokratis, bukan kultus individu.
Apalagi agitasi berbahaya dengan jargon kontra revolusi, “kabir” serta “tujuh setan desa,” yang banyak dimanipulasi menjadi kebencian dan permusuhan.
Para perwira pemberani menentang fenomena ini. Dewan Gajah dan Dewan Banteng lahir, dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon (22 Desember 1956) dan Letkol Ahmad Husein di Makassar.
Dewan Gajah menuntut otonomi daerah dan desentralisasi, kemudian bergabung dengan Permesta (Perjuangan Semesta) di Sulawesi, dipimpin Letkol Ventje Sumual. Pemikiran Dewan Banteng pun lahir untuk pembangunan daerah yang tertinggal dari Jawa.
Dukungan meluas dari Jawa, para elit partai di Sumatera (kecuali PKI) ikut bergabung. Kemudian Dewan Banteng bergabung dengan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).
Opa Untu menyaksikan semua ini, dan bergabung dengan Permesta. Kemudian Alex pun ikut serta. Sebagai militer, ia melihat dua tokoh Minahasa sebagai legenda sekaligus idolanya: Ventje Sumual dan Alexander Evert Kawilarang, selain ayahnya sendiri.
Deklarasi Permesta, 2 Maret 1957 di Makassar, Sulawesi, dipimpin oleh Ventje Sumual, menandai dimulainya pertempuran.
Perang sengit terjadi di sekitar Danau Tondano, Manado, Bitung, dan Tomohon. Operasi Merdeka (kini menjadi nama Kodam di Sulut) dan Operasi Sapta Marga merupakan operasi militer besar-besaran di Tomohon, pusat kota, daerah Bethesda, Gereja Sion, hingga ke Gunung Mahawu, di mana tembak-menembak berlangsung hebat.
Opa Untu terpisah dari anaknya, Alex. Alex tewas, tertembak di bagian dada, seketika terjungkal tak bernyawa.
Anak muda berusia dua puluhan itu gugur, korban perang saudara sesama anak bangsa.
PRRI–Permesta bukanlah pemberontakan, melainkan koreksi atas perilaku kekuasaan, peringatan tentang otonomi daerah dan bahaya komunisme.
Namun koreksi itu menewaskan anak muda yang penuh harapan.
“Alex…!” Sonya menjerit, menangis histeris. Opa Untu diam membisu, pistol jatuh ke tanah, tubuhnya terkulai lemas tak berdaya.
Januari 1958
Duka menyelimuti. Tangis Sonya tak berhenti, sementara Opa Untu hanya menitikkan air mata di sela-sela operasi militer bersandi Merdeka dan Sapta Marga.
Ia mengenakan pakaian hitam, meninggalkan seragam hijaunya. Permesta menguburkan anak lelaki sulung.
Keempat putrinya menggiringi peti mati. Tak ada suara berbisik, hanya tangisan.
Opa Untu merasa bersalah, tak sanggup menjaga anaknya. Sonya menyalahkan Opa Untu. Bibit perpecahan dalam keluarga pun tumbuh.
Pertempuran Tomohon berakhir dengan kemenangan TNI, merebut kota itu pada 16 Agustus 1958.
Sebelumnya, Manado jatuh pada 24 Juni 1958, dan Tondano pada 2 Juli 1958.
Selepas penguburan Alex, Januari 1958, Opa Untu kembali ke medan pertempuran di daerah-daerah yang belum dikuasai TNI.
Sisa-sisa perjuangan dilanjutkan, dendam dan rasa bersalah menjadi motif pribadi. Ia bertempur membabi buta, seakan nyawa tak lagi penting.
20 Oktober 1961
Pasukan terakhir menyerah. Selesai sudah permusuhan sesama anak bangsa. Abolisi dan amnesti diberikan kepada tokoh Permesta melalui Keputusan Presiden Nomor 322 Tahun 1961.
Beberapa tentara dipersilakan kembali, bahkan mendapat kompensasi.
Yang bergabung kembali dengan TNI diberikan rumah di daerah Cawang, dikenal dengan nama Bumi Serasi (BS), yang kelak menjadi kampung anak-anak Manado, cukup disegani di Terminal Cililitan pada dekade 1980–1990-an.
Namun Opa Untu menolak semua fasilitas itu. Ia mundur dari TNI, tak menerima opsi bergabung kembali.
Selepas 20 Oktober 1961, semua menjadi dingin.
Sonya kehilangan jati dirinya. Ia tak lagi semesra dahulu, hidupnya penuh basa-basi.
Kadang ia memberi silent treatment untuk menghukum Opa Untu.
Semua ini bukan karena Permesta, melainkan karena kematian Alex— ketidakmampuan Opa Untu menjaga anak sulungnya.
Opa Untu tenggelam dalam duka:
- minum,
- mabuk,
- bahkan berjudi.
Sikap Sonya dingin, tak antusias, padam gairah hidup. Di sisi lain, Opa Untu mabuk, dan pulang dengan amarah.
Ia memaksa Sonya menerima kedekatan yang tak lagi berlandaskan cinta. Penolakan berujung tamparan, tinju di wajah, hampir setiap hari.
Perubahan sikap keduanya membuat suasana indah seperti di gunung hilang. Pertengkaran, bahkan pengkhianatan, muncul dari Opa Untu.
Seorang janda beranak satu menjadi tempat singgah Opa Untu. Dua hari tak pulang, bahkan dua minggu.
Hingga suatu hari, janda bernama Sofi memberanikan diri datang ke rumah Opa Untu. Pertengkaran pun terjadi, karena Sofi ingin mengusir Sonya.
Tak terhindarkan, hari itu Sonya terusir dan pergi selamanya.
Sonya membawa keempat anaknya, lari dan menetap. Semula di daerah Maumbi, Air Madidi, kemudian menetap di Likupang.
1981
Sonya meninggal di rumah anaknya, Magda. Ia terawat dan bahagia. Sonya tidak pernah menikah lagi, cintanya tetap pada Opa Untu. Sekalipun pahit hidupnya, ia selalu mengenang hal-hal baik.
Keempat putrinya kembali satu per satu. Opa Untu membagi warisan, namun mereka menolak. Keempatnya tinggal berdekatan, sesekali melihat ayahnya.
Melihat anak-anaknya sudah berkeluarga, memiliki anak, serta watak yang baik untuk memaafkan, membuat Opa Untu bahagia sekaligus sedih.
“Maafkan Papa ya, Nak. Helen, maafkan aku. Magda, maafkan aku. Maria, maafkan aku. Hanya Lisbet yang tidak ingin berkunjung, hingga kematian Opa Untu.”
Setiap hari, jalanan yang ditatapnya mengingatkan semua peristiwa tentang istrinya yang sejatinya setia, saat anak-anaknya membawa ayah mereka ke Gunung Lokon, di belakang kampung halamannya, Kakaskasen.
Di gunung ini, kita pernah bahagia. Di gunung ini, kita selalu bernyanyi: “Tuhanlah Gembalaku, dibimbing-Nya lah aku.”
“Sonya… Sonya… Tak seharusnya kuperlakukan kau seperti itu. Aku telah berkhianat padamu. Seharusnya kuberi ruang untukmu berduka, bukan kekerasan, bukan pengkhianatan.”
2024
Aku pulang ke kampung. Kubawa bunga, kunyalakan lentera malam Natal.
Kuburmu mengingatkanku, di balik perang ada derita yang selalu ku kenang.
Minahasa, 1950
selalu dikenang sepanjang waktu.












