Kabar5News – Ketua Forum Bersama Bhinneka Tunggal Ika, Taufan Hunneman kambali menelurkan prosa terbarunya.
Kali ini prosa Taufan berjudul “Kenangan Anak Muda” dan rilis di Kabar5News.id pada Rabu (11/3/2026).
Kemunculan prosa tersebut langsung mencuri perhatian banyak pihak, diantaranya mantan aktivis era 90-an, Herlan Artono.
Kepada Kabar5News, Herlan mengaku telah mengikuti beberapa prosa Taufan yang ditulis sebelumnya.
Menurut Herlan, karya ini menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan prosa pertama sang penulis.
“Tulisan keduanya terasa lebih mengalir. Sejak awal membaca sudah ada ketertarikan untuk terus melanjutkan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kepiawaian Taufan dalam merangkai kata dalam prosa “Kenangan Anak Muda”, menunjukkan kalau penulis memiliki referensi segudang, mulai dari novel, karya sejarah dan sosial politik.
Namun karya ini tak lepas dari kritik Herlan. Ia menilai ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Bagian pembuka dianggap agak membingungkan, terutama bagi pembaca awam.
Narasi awal seolah melompat ke alur berikutnya tanpa transisi yang jelas. “Beberapa pilihan kata pun agak nya dipaksakan bagi saya itu agak menggangu,” tambahnya.
Hal lain yang disayangkan adalah bagian akhir cerita yang dianggap kurang tuntas. Klimaks yang diharapkan tidak benar-benar hadir, sehingga meninggalkan kesan menggantung.
Bagi sebagian pembaca, hal ini bisa menimbulkan rasa kecewa karena perjalanan narasi yang intens tidak diakhiri dengan kepastian.
Meski begitu, Herlan menilai karya ini tetap layak diapresiasi. “Secara keseluruhan, karya ini enak untuk dinikmati. Ada perkembangan yang patut dicatat, meski masih ada ruang untuk perbaikan,” tuturnya.
Pihak lain yang mengulas prosa “Kenangan Anak Muda” karya Taufan Hunneman adalah Rio Rizalino yang merupakan salah satu jurnalis senior.
Kepada Kabar5News.id, Rio mengaku cukup lama mengenal sosok Taufan Hunneman. Ia mengetahui Taufan sebagai mantan aktivis 1998 yang gemar membaca buku.
Rio juga mengenal Taufan sebagai salah satu orator ulung ketika dahulu memimpin aksi demonstrasi.
Namun ia tak begitu mengetahui kalau Taufan juga memiliki kemampuan menulis prosa.
Karena itulah, Rio cukup kaget setelah membaca deretan prosa karya Taufan, termasuk yang berjudul “Kenangan Anak Muda”.
“Cerita yang ditulis Taufan begitu tulus dan mengalir, saya sangat menikmati alur cerita yang dibangun dalam prosa ini,” tutur Rio.
Rio menilai, prosa ini bukan hanya sekadar cerita cinta, karena juga menyelipkan narasi-narasi sejarah melalui tokoh-tokoh seperti Pamoedya Ananta Toer dan Soe Hok Gie.
“Bagi saya ini bagian yang paling menarik, cerita tak hanya dibangun atas kisah asmara, tapi juga informasi atau latar belakang yang berkaitan dengan sejarah, salut, menurut saya ini keren,” puji Rio.
Setelah membaca prosa ini, Rio mengaku tak berani berspekulasi, apakah cerita yang ditulis Taufan fiksi atau bukan.
Menurutnya, jika itu fiksi, maka prosa “Kenangan Anak Muda” adalah sebuah kisah romansa anak muda yang berakhir tragis.
Sejoli Badai dan Wulan akhirnya terpisah karena sebuah pengkhianatan dan perbedaan pandangan mengenai idealisme.
Jika kisah itu bukan fiksi, lanjut Rio, maka prosa ini adalah sebuah tragedi.
“Saya bisa merasakan rasa sakit yang dialami Badai, sehingga harus memilih untuk meninggalkan Wulan,” urai Rio.
“Di saat yang bersamaan, komitmen dan idealisme Badai sebagai aktivis juga diuji dengan memilih untuk menjauh dari kepentingan asing yang masuk ke NGO dengan dalih donasi,” tambahnya.
Terlepas dari fakta atau fiksi, Rio menilai prosa “Kenangan Anak Muda” layak untuk dikembangkan lebih lanjut, misalnya menjadi sebuah novel atau bahkan film layar lebar.












