Kabar5News – Prosa sastra berjudul “Di Bandung Cinta Bersemi” mencuri perhatian novelis muda, Meta Fischer.
Prosa tersebut rilis di Kabar5News pada 3 februari 2026 lalu, namun Meta baru menyempatkan diri memberikan ulasannya saat ini.
Ia menuturkan, menuturkan bahwa cerita ini bukan sekadar roman, melainkan potret keluarga yang harus berhadapan langsung dengan tekanan zaman, dari masa kolonial hingga pergolakan politik pasca-kemerdekaan.
Dalam novel ini, perjodohan yang dipaksakan ayah Ragil menjadi titik konflik utama. Bagi sang ayah, langkah itu adalah cara menjaga martabat dan keselamatan keluarga.
Namun bagi Ragil, keputusan tersebut berarti kehilangan hak menentukan masa depan.
“Benturan itu nyata, dan saya ingin pembaca merasakan betapa beratnya beban yang harus ditanggung anak muda pada masa itu,” ujar Meta pada Kabar5News, Rabu (11/3/2026).
Ia melanjutkan, kehadiran Hans, seorang “Wong Londo” yang memilih menetap dan menjadi bagian dari Indonesia, memberi dimensi baru dalam cerita.
Hubungan Ragil dengan Hans membuka ruang refleksi tentang identitas, kesetiaan, dan cinta yang melampaui batas-batas sosial maupun politik.
Ia menekankan bahwa tokoh Hans bukan sekadar pelengkap, melainkan representasi harapan bahwa perbedaan bisa menjadi jembatan, bukan penghalang.
Lebih jauh, Meta menilai, kisah Ragil adalah cermin keberanian individu untuk menentukan jalan hidup sendiri.
“Novel ini bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang keberanian melawan arus tradisi dan sejarah,” katanya.
Dengan gaya naratif yang puitis sekaligus realistis, ia berharap pembaca dapat melihat bahwa pilihan pribadi sering kali menjadi bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial.
Prosa ini pun hadir sebagai karya yang mengajak pembaca merenungkan kembali hubungan antara sejarah, tradisi, dan kebebasan individu.
“Sebuah kisah yang luar biasa sekali karena lahir dari keberanian memilih,” pungkasnya.
Tak hanya Meta Fischer, jurnalis senior, Rio Rizalino, juga memberikan pandangannya mengenai prosa “Di Bandung Cinta Bersemi” karya Taufan Hunneman.
Dalam ulasannya, Rio menekankan pada aspek penyusunan cerita yang, menurutnya, tak biasa. Ia mengatakan, prosa ini tak hanya mengangkat kisah Ragil yang menjadi korban pwerjodohan.
Namun, prosa ini juga kaya akan data dan fakta sejarah Indonesia, namun dilihat dari perpektif yang berbeda.
“Ini yang membuat prosa ‘Di Bandung Cinta Bersemi’ layak dibaca oleh semua kalangan,” tutur Rio.
Lebih jauh Rio menilai, peristiwa perjodohan yang dialami oleh Ragil merupakan potret dari budaya Indonesia yang masih terkungkung feodalisme.
Sikap Ragil untuk menolak perjodohan itu, bahkan hingga memutuskan kabur, melambangkan perlawanan terhadap budaya tersebut.
Menurut Rio, Taufan cukup berani dalam menampilkan narasi-narasi perlawanan ini.
Sebab bagi sebagian orang, hal tersebut masih menjadi sesuatu yang tabu, terlebih dalam budaya feodal.
“Latar belakang penulis yang merupakan mantan aktivis 98 yang kritis terhadap tatanan sosial, membuat saya tak heran kalau beliau berani mengangkat tema ini,” tandas Rio.
Secara kesluruhan, Rio mengapresiasi prosa ini. Menurutnya, kekuatan cerita dan kayanya data sejarah membuat prosa “Di Bandung Cinta Bersemi” beda dengan prosa lainnya.











