Kabar5News – Istilah El Nino mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Fenomena iklim ini kerap menjadi momok karena dampaknya yang secara langsung memengaruhi pola cuaca di tanah air. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di balik istilah tersebut?
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas kondisi normalnya. Secara etimologi, El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”, karena fenomena ini awalnya sering terdeteksi oleh nelayan di pesisir Peru saat menjelang Natal.
Ketika El Nino terjadi, suhu permukaan air laut di Pasifik menjadi lebih hangat. Hal ini memicu perubahan pola angin dan sirkulasi atmosfer global. Bagi Indonesia, yang secara geografis berada di wilayah Pasifik barat, fenomena ini menyebabkan pergeseran pola cuaca, di mana udara menjadi lebih kering dan curah hujan berkurang secara drastis dibandingkan kondisi normalnya.
El Nino Terburuk di Indonesia
Indonesia memiliki catatan panjang mengenai dampak buruk El Nino. Fenomena ini tercatat pernah menimbulkan dampak yang sangat signifikan dalam sejarah iklim Indonesia, terutama pada tahun 1982-1983 dan 1997-1998.
Pada peristiwa tersebut, Indonesia mengalami musim kemarau yang sangat panjang dan ekstrem. Dampaknya tidak hanya terbatas pada kekeringan yang meluas di berbagai sektor pertanian, namun juga memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di berbagai wilayah, menyebabkan kabut asap hingga gangguan kesehatan dan ekonomi yang serius.
Waspada Musim Kemarau 2026
Memasuki tahun 2026, perhatian publik kembali tertuju pada potensi perubahan iklim. Baru-baru ini, muncul diskusi mengenai prediksi fenomena yang disebut sebagai “El Nino Godzilla” yang dikaitkan dengan kondisi bulan April 2026.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan yang lebih terukur. Berdasarkan data terbaru, BMKG menyatakan bahwa istilah tersebut bersifat hiperbolis. Prediksi resmi BMKG menunjukkan peluang adanya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat dengan kemungkinan sekitar 50-60 persen setelah memasuki semester kedua tahun 2026.
Meskipun demikian, BMKG tetap menekankan kewaspadaan nasional. Masyarakat perlu mencatat bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan dimulai lebih awal, yakni pada rentang April hingga Juni 2026, dan diperkirakan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Sinergi antara kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan air serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi kekeringan menjadi kunci penting dalam memitigasi dampak cuaca ekstrem ke depannya.











