Kabar5News – Apa yang terlintas dalam benak pembaca saat istilah mudik mencuat ke permukaan menjelang Hari Raya Idul Fitri?
Apakah sekedar perjalanan pulang ke kampung halaman? Atau bagian tradisi budaya yang mengakar sejak lama di Nusantara?
Sebenarnya, kata mudik sendiri mempunyai sejarah dengan beragam makna mendalam yang tidak mudah terlupa begitu saja, semakin berkembang seiring berjalannya waktu.
Jadi, mudik sendiri bukan sekedar pulang kampung biasa, tapi mempunyai akar budaya serta bahasa tersendiri.
Asal Muasal Kata Mudik
Mudik berasal dari Bahasa Jawa ngoko yang berupa singkatan Mulih Dhisik atau pulang dulu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu istilah tersebut telah mengalami banyak perubahan.
Kata mudik kalau dalam Bahasa Jawa disebut sebagai desa atau daerah yang berlawanan sekali dengan kota. Selanjutnya, istilah tersebut selalu identik aktivitas pulang kampung yang dilakukan oleh perantau maupun pekerja migran.
Saat ini mudik identik dengan momen lebaran, padahal tidak selalu berkaitan dengan perayaan keagamaan tersebut.
Awalnya kata itu merujuk pada kepulangan sementara ke kampung halaman, entah mengunjungi keluarga, saudara, bahkan melakukan ritual tradisional tertentu.
Sejarah Terciptanya Tradisi Mudik di Indonesia
Usut punya usut, aktivitas mudik sudah ada sejak zaman kerajaan. Tepatnya pada era Majapahit.
Ketika itu, para perantau yang tinggal dan bekerja di kota besar selalu kembali lagi ke kampung halaman untuk membersihkan makam leluhur, lalu berkumpul penuh kehangatan bersama keluarga.
Sedangkan fenomena mudik seperti yang terjadi saat ini, awal berkembangnya mulai tahun 1970-an.
Pada waktu itu, Jakarta mengalami perkembangan ekonomi pesat. Sehingga memantik pendatang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di sana.
Sekitar lebih dari 80% pendatang yang mencari nafkah di sana hanya memperoleh jatah libur panjang saat Hari Raya Idul Fitri.
Maka dari itu, banyak pekerja memanfaatkan waktu libur panjang untuk pulang kampung.
Kejadian serupa juga terjadi pada pekerja yang berada di beberapa kota besar lain seperti Surabaya, Bandung, Medan.
Perkembangan zaman semakin pesat, membuat kota-kota besar menjadi sasaran empuk bagi perantau untuk mendapatkan pekerjaan layak.
Jika tiba waktunya libur panjang, fenomena mudik semakin kuat hingga menjadi tradisi rutin tahunan yang tidak bisa terpisahkan saat Hari Raya Idul Fitri.










