Kabar5News – Sejarah seringkali bekerja dengan cara yang misterius. Siapa sangka bahwa dentuman meriam di perbukitan Menoreh dan gerilya Pangeran Diponegoro di pedalaman Jawa pada abad ke-19 memiliki kaitan erat dengan peta geopolitik Eropa?. Tanpa perlawanan sengit Sang Pangeran, wajah negara Belgia mungkin tidak akan seperti yang kita kenal sekarang.
Pada tahun 1825, Belanda sedang menikmati kekuasaannya sebagai Kerajaan Bersatu Belanda (Verenigd Koninkrijk der Nederlanden), yang mencakup wilayah Belanda sekarang dan Belgia. Namun, stabilitas ini guncang ketika Pangeran Diponegoro mengobarkan perlawanan besar di Jawa.
Bagi Belanda, ini adalah Perang Jawa (1825–1830) yang menguras segalanya. Untuk meredam taktik gerilya Diponegoro, Jenderal de Kock terpaksa menerapkan strategi Benteng Stelsel. Strategi ini sangat efektif namun luar biasa mahal karena mengharuskan Belanda membangun ratusan benteng kecil di seluruh pelosok Jawa.
Selama lima tahun peperangan, Belanda menghabiskan sekitar 20 juta gulden, angka yang fantastis pada masa itu. Untuk menutupi lubang keuangan akibat Perang Jawa, Raja Willem I mengambil kebijakan yang tidak populer: menaikkan pajak secara drastis.
Beban pajak ini paling berat dirasakan oleh wilayah selatan kerajaan, yaitu wilayah yang sekarang menjadi Belgia. Rakyat Belgia, yang mayoritas beragama Katolik dan mulai mengalami industrialisasi, merasa dianaktirikan.
Mereka merasa uang pajak mereka “dibakar” untuk membiayai perang kolonial di belahan dunia di timur jauh yang tidak memberikan keuntungan bagi mereka.
Puncaknya terjadi pada tahun 1830. Saat Belanda masih terengah-engah menyelesaikan sisa-sisa perlawanan Diponegoro (yang baru saja ditangkap secara licik pada Maret 1830), semangat revolusi menjalar ke Brussels.
Pada Agustus 1830, pecahlah Revolusi Belgia. Belanda berada dalam posisi yang sangat lemah dikarenakan faktor, kas negara sudah terkuras habis untuk membiayai pasukan di Jawa, sebagian besar perwira terbaik dan ribuan tentara Belanda masih tertahan atau tewas di Jawa akibat malaria dan pertempuran Jawa dan fokus militer Belanda terpecah antara mempertahankan koloni di Timur dan menjaga keutuhan wilayah di Barat.
Andai saja Perang Jawa tidak terjadi, Belanda diyakini memiliki sumber daya militer dan finansial yang cukup untuk memadamkan kerusuhan di Brussels dalam hitungan minggu. Belgia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya pada 4 Oktober 1830.












