Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman
Kabar5News – Hidupnya berjalan di lorong gelap,
menyusuri nasib yang tak menentu.
Baginya, semua ini soal kebebasan—
termasuk hak atas tubuhnya dan pilihan-pilihan hidupnya.
Bibir bersentuhan,
saling mendekat,
menggugah hasrat.
Ia melupakan masa di mana kematian membawa duka mendalam.
Jiwa yang pernah hancur,
dialihkan dengan pencarian kenyamanan fisik dan emosional.
Ia tak mengenal cinta,
sebab cinta telah terkubur bersama masa lalunya.
Yang ia kenal hanyalah emosi yang dijaga agar tetap waras,
seolah cinta baginya adalah ilusi yang ia pelihara.
Awal Kisah
Perempuan itu bernama Linda,
seorang janda dengan satu anak—hasil dari kontrasepsi yang gagal saat berhubungan intim.
Memiliki anak dari hubungan tanpa ikatan dianggap aib dan fatal.
Pak Kumis pun menyingkirkannya dari lingkaran para “perani-peranian”.
Masa itu memaksa Linda untuk acak mencari pria yang menginginkan hubungan fisik yang intens dan penuh gairah.
Tak butuh waktu lama,
seorang banker dari bank swasta papan atas memikatnya.
Dari kamar hotel hingga kos-kosan,
tempat favorit pertemuan mereka.
Uang mulai mengalir,
tabungan mulai terisi,
bahkan setiap bulan ia rutin diberi.
Pria itu bernama Senoadji.
Ia beristri dan memiliki anak yang usianya jauh di atas Linda.
Suatu hari, Senoadji menginap di kosan Linda.
Terpuaskan, hingga enggan pulang ke rumah.
Kedekatan fisik ternyata menimbulkan ketergantungan.
Namun hari itu, Linda mendapat tawaran kuliah.
Usianya baru 20 tahun—masih muda dan belum terlambat.
Linda Kuliah
Sebagai mahasiswa baru,
ia mengikuti semua prosesi.
Tertarik pada ilmu sosial dan politik—fakultas yang katanya kurang menjanjikan,
namun tren bicara politik memikat batinnya.
Dalam hati, ia berkata: “Kelak aku bisa jadi anggota partai.”
Perkuliahan dimulai.
Linda sedikit minder,
terpaut usia tiga tahun dari mahasiswa baru lainnya.
Ia memilih sunyi, berteman sedikit.
Namun teman sekelasnya mengusik emosinya.
Ia menyaksikan perdebatan antara dosen muda dan mahasiswa yang tampil kumal,
seolah sengaja menata dirinya demikian.
Pria itu berambut ikal sedikit gondrong,
berwajah putih khas Keindonesiaan,
memakai celana jeans belel (Levi’s 501)
dan sepatu McQueen yang saat itu jarang dimiliki.
Motornya pun sudah dimodifikasi.
Cerewet di kelas,
namun pendiam di luar.
Hidupnya sunyi,
melumat buku-buku kiri,
bergaul dengan teman-teman yang mirip dengannya—
seperti sketsa massal di dinding lukisan para pekerja.
Pria itu bernama Hans.
Baru saja dirundung sunyi.
Kedua orang tuanya meninggal.
Ia memiliki kehidupan misterius bersama tiga sahabatnya:
Jawir (berlogat Jawa kental),
Ipank (sedikit selengean),
dan Siwir (jago administrasi).
Mereka sangat melekat, terutama Hans dan Ipank.
Area favorit Hans adalah perpustakaan.
Saat makan siang, gado-gado jadi menu andalan.
Meski yatim piatu di usia 18,
negara masih menjaminnya lewat uang pensiun ayahnya,
ditambah pemberian dari kakaknya yang seorang pengusaha.
Namun Hans tetap berhemat,
agar bisa membeli buku-buku kesukaannya.
Ia gemar ke toko buku Kalam di bilangan Utan Kayu.
Obrolan Pertama
Kelas pagi itu terlalu cepat.
Hans duduk di pojok, seperti biasa.
Waktu menunjukkan pukul 07.05,
padahal kelas baru mulai 07.30.
Ia antusias,
karena hari itu mata kuliah Pancasila—
tempat ia bisa mengeksplorasi ideologi.
Tak lama, Linda masuk kelas.
Kesempatan baginya menyapa, “Hai.”
Hans mengangguk.
Linda mengulurkan tangan, “Linda.”
Hans menjawab, “Hans.”
Tak lazim di budaya Timur perempuan menyapa dulu,
namun ini satu-satunya momentum.
Di luar kelas, Hans sudah “dimiliki” temannya,
sering dikelilingi mahasiswa lain.
Diskusi kantin, istilahnya.
“Tinggal di mana?”
“Cinere,” jawab Hans.
Linda mulai bertanya:
Kenapa Jerman pecah lalu menyatu?
Kenapa Amerika disebut “Serikat” tapi berbentuk republik?
Pertanyaan demi pertanyaan membuat Hans tertarik.
Empat Bulan Kemudian
Di rumah Hans,
sunyi.
Hanya ia seorang diri.
Pintu diketuk.
Hans mempersilakan Linda masuk.
Kehangatan pertemuan mereka tak lagi canggung.
Kedekatan tumbuh,
hingga mereka terbiasa menghabiskan akhir pekan bersama.
Setiap Jumat malam hingga Minggu,
Linda datang ke rumah Hans—
karena Senoadji bersama keluarganya.
Senin hingga Kamis, waktunya bersama Senoadji.
Linda mencintai Hans.
Ia mencuci pakaiannya,
mencarikan bantuan rumah tangga,
merapikan sudut-sudut ruangan,
membelikan tanaman hias.
Ia menghidupi rumah yang kusam dengan perhatiannya.
Bagi Hans,
Linda adalah teman dalam kesunyian.
Kadang ia menikmati kebersamaan itu,
meski hanya untuk mengisi kekosongan.
Akhir pekan mereka diisi dengan makan bersama,
beristirahat, menonton film,
dan berbagi cerita.
Senin pagi, mereka berangkat kuliah bersama.
Hans mulai membagi waktu dengan teman-temannya,
diskusi kelompok kecil,
anak-anak sosialis yang kritis dan cerdas—
karena disiplin membaca dan saling berbagi wawasan.
Hari-hari Hans demikian.
Ia mencetak kader.
Masa radikal telah berlalu.
Masa penuh gejolak dan euforia telah berlalu.
Yang tersisa hanya sunyi, sepi,
buku, dan hubungan yang tak selalu berlandaskan cinta.
Hans,
sebagai ketua Gerakan Mahasiswa Sosialis (GEMSOS),
dituntut lebih cerdas dari sahabat dan kader-kader mudanya.
Kehidupan Hans yang penuh gejolak adalah sisi dari lorong gelap
yang coba ia damaikan dengan mentari,
agar ada harapan baru.
Bagi Linda,
Hans adalah sosok yang ia cintai.
Meski masih terikat dengan Senoadji,
hubungan itu hanya soal kenyamanan hidup.
Kegairahan Linda pun semu.
Bahkan ekspresi kebahagiaan kadang hanya pura-pura.
Namun saat bersama Hans,
ia merasa seluruh cintanya tertumpah tanpa ragu.
Hans mengetahui segalanya.
Dengan kecerdasannya dan kendali emosinya,
ia tetap menikmati kebersamaan tanpa banyak bertanya,
tanpa menuntut menjadi yang utama.
Selama ini, Linda telah banyak membantunya:
mengerjakan tugas kuliah,
mengikuti kelas tambahan,
memilih buku-buku yang baik,
menuntunnya membaca dengan disiplin,
dan membimbingnya—semua dilakukan karena Hans melihat Linda sebagai seorang kader.
Hari Itu Tiba
Senoadji, pada dasarnya, adalah pria yang baik dan santun.
Namun istrinya tak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga,
karena menderita stroke yang menyebabkan kelumpuhan.
Linda-lah yang selama ini menjadi tempat pelariannya.
Suatu Sabtu siang,
ketika Hans dan Linda sedang bersama,
telepon berdering berkali-kali.
Karena Senoadji yang menelepon,
Linda menghentikan aktivitasnya dan menjawab panggilan itu.
Senoadji berkata,
“Istriku telah meninggal.
Bersiaplah menjadi pendampingku.
Setelah masa berkabung tiga bulan,
kau akan menjadi istriku.
Mulai Senin, kau pulang ke rumah yang telah kusiapkan untukmu di kawasan Kemang.”
Setelah menerima telepon itu,
Linda tetap melanjutkan kebersamaannya dengan Hans.
Namun kali ini, penuh emosi.
Ia mencium Hans,
berbisik dengan lembut,
“Aku mencintaimu, Hans… sungguh mencintaimu.”
Tangis pecah.
Hans memeluknya.
Dingin, namun penuh empati.
Hans berkata,
“Jika kau harus pergi, pergilah.
Itulah pilihan hidupmu.
Lupakan semuanya—rumah ini,
kenanganmu di sini,
dan buku hitam yang kau tulis tentangku.
Jangan lagi kau lanjutkan…
tulislah penutupnya besok,
hari Minggu.
Aku akan membacanya.”
Buku Hitam
Dalam buku itu, Linda menulis:
“Aku menjalin hubungan karena cinta, namun juga karena kebutuhan.
Yang satu adalah ketulusan, yang lain adalah kepura-puraan.
Aku tak punya banyak pilihan.
Kuliah, anakku, kedua orang tuaku yang hanya pedagang kecil, semua harus tercukupi.
Aku adalah pahlawan bagi keluargaku.
Aku berharap kau mengerti.”
—Linda Verowati Puspita
Empat Bulan Kemudian
Linda menikah dengan Senoadji.
Kabar itu sampai ke Hans.
Ia hanya diam.
Namun ia mulai merasakan kehilangan:
Jumat, Sabtu, dan Minggu yang dulu diisi bersama Linda,
Senin pagi naik motor ke kampus,
kebiasaan yang kini hilang.
Namun membaca buku harian Linda membuka semangat baru dalam dirinya:
tentang hidup,
tentang perjalanan manusia,
tentang betapa kapitalisme menciptakan jurang yang dalam.
Rumah yang Berseri
Minggu itu, rumah Hans tampak bersih.
Mpok Minah membersihkan semuanya.
“Mpok, aku ingin makan ayam pedas.
Mulai hari ini dan seterusnya, aku yang menggaji Mpok.
Bukan Linda lagi. Jadi kalau butuh sesuatu, minta ke aku ya,” ujarnya.
Rumah mulai terbuka.
Mentari masuk ke dalam rumah.
Pukul 11 siang,
saat bersiap makan siang,
mobil mewah berlogo segitiga berhenti di depan rumah.
Keluar seorang perempuan berkulit cerah, ramping, berkacamata,
membawa banyak belanjaan.
Hans terkejut—Linda datang.
Ia menyambutnya.
Kali ini, Linda tidak membuka pakaian,
melainkan memeluknya.
Mereka berciuman.
Hans berbisik,
“Aku takut kehilanganmu, Linda.”
Linda menangis.
“Maafkan aku.
Kau sudah membaca semua tulisanku.”
“Iya,” jawab Hans.
“Aku mengerti.”
Linda berkata,
“Hari ini aku datang untuk berpamitan.
Aku punya sedikit uang, tidak banyak—lima puluh juta untukmu.
Aku selalu mengingat masa-masa indah dua setengah tahun bersamamu.
Lanjutkan kuliahmu.
Kau pintar.
Ketua GEMSOS.
Keberpihakanmu kepada rakyat mewakili deritaku.
Aku hanya bisa melawan dengan cara ini—mengubah hidupku.”
Linda pindah kampus ke bilangan Grogol.
Adik-adiknya dirawat Senoadji.
Ibu dan ayahnya dibelikan kios di pasar.
Bahkan anaknya bersekolah di sekolah internasional di daerah Kemang.
Ternyata, Senoadji bukan hanya petinggi di bank swasta,
melainkan pewaris dari Grup Mahardika—pemilik bank, restoran, dan tambang.
Empat Bulan Setelah Pernikahan
Itulah perpisahan.
Linda pergi, air matanya mengalir.
Ia mengendarai mobilnya.
Hans masuk ke kamar,
berteriak dan menangis.
Cintanya mulai tumbuh,
lalu pergi.
Namun Hans berdamai dengan mentari.
Kisah Linda membawanya terus berjuang
untuk sistem yang adil dan manusiawi.













Cerita yang menarik, cinta tidak harus memiliki, terus berkarya bro Taufan
Sangat inspiratif, trrus berksrya Bro Taufan
Cerita yang sangat inspiratif, cinta tidak harus memilkik