Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman
Kabar5News – Hari terbaiknya telah berlalu.
Ia tetap setia menunggu.
Namun, tidak demikian halnya dengan Angeli.
Pada masa itu, usia menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan.
Karena itu, Angeli memilih untuk meninggalkan cinta dan janji, lalu menjatuhkan pilihan pada seorang intelektual—salah satu petinggi HSI (Himpunan Sarjana Indonesia), onderbouw dari PKI.
Itu adalah era ketika jargon revolusi dan Nasakom menghipnotis rakyat. Bahkan kalangan kelas atas pun ikut larut dalam propaganda. Maka, ketika Angeli menikah dengan Soewardi, seluruh keluarga menyetujui dengan serempak, seolah menjadi paduan suara yang harmonis.
Pernikahan itu berlangsung mewah. Para petinggi partai Palu Arit hadir, begitu pula menteri-menteri kabinet dari unsur yang sama. Bahkan, tiga serangkai politbiro turut hadir.
Hotel Indonesia dipenuhi nuansa merah—meriah dan mewah.
Padahal, Angeli sebenarnya memiliki kekasih hati: seorang pemuda bernama Jhon Ulrich Lucien.
Ayahnya berdarah Jerman-Belanda, sementara ibunya keturunan Belanda-Minahasa.
Sejak usia dewasa, Jhon mengalami banyak kisah hidup yang tragis.
Ia sempat mendekam di kamp konsentrasi di Cileungsi, lalu melarikan diri ketika Jepang dinyatakan kalah.
Saat itu, tentara Jepang mengalami kemerosotan moral dan enggan menjaga kamp, sehingga Jhon harus mengurus adik-adiknya: Ron, Noek, dan si bungsu, Rob.
Kakaknya, Harry, bekerja sebagai pelaut kapal Belanda dan sempat singgah sebentar di Indonesia karena tidak mendapat cuti panjang.
Sementara Donald dan Richard bekerja di biro keamanan Sekutu yang kemudian berpusat di Australia.
Keduanya difungsikan sebagai agen Belanda karena selain fasih berbahasa Indonesia, mereka juga menguasai bahasa Jawa.
Dari seluruh keluarga, hanya Jhon yang tidak bergabung dengan militer Belanda.
Keluarga Hunn dikenal sebagai keluarga anti-komunis.
Mereka cenderung mengikuti pemikiran Sutan Sjahrir, yang dianggap mirip dengan gagasan politik SPD (Sozialdemokratische Partei Deutschlands) di Jerman Barat.
Sosialisme Jerman telah mereduksi semangat revolusi dan memilih jalur parlementer—sebuah pendekatan revisionis yang tidak diakui oleh Komunis Internasional.
Di Indonesia, komunisme dianggap sangat hipokrit.
Sejak tahun 1948, mereka memberontak karena menolak kebijakan RERA (Revitalisasi dan Rasionalisasi), program dari Mohammad Hatta untuk memodernisasi TNI.
Program ini menetapkan persyaratan ketat yang tidak dapat dipenuhi oleh laskar rakyat—yang cenderung berhaluan komunis—sehingga mereka dieliminasi.
Upaya mereka untuk menguasai militer pun kandas.
Pemberontakan itu dikenal sebagai Peristiwa Madiun 1948—kegagalan dalam membentuk Uni Soviet Indonesia.
Bahkan sejak PKI pulih dari peristiwa Madiun, partai itu mulai dipimpin oleh generasi muda. Arah dan kiblat ideologinya pun bergeser—dari Stalin ke Mao Tse Tung.
Di bawah pengaruh Mao, PKI yang baru, yang dipimpin oleh anak-anak muda, justru menjadi lebih hipokrit. Selain ikut serta dalam pemilu, mereka juga aktif merongrong pemerintahan, menciptakan suasana yang selalu panas, dan membentuk kondisi penuh konflik.
Kaum ulama dimusuhi.
Golongan Eropa dibenci.
Bahkan tanah-tanah mereka dirampas.
Dualisme inilah yang menjadi watak hipokrit PKI: di satu sisi mendukung pemimpin besar revolusi, namun di sisi lain justru melemahkan negara melalui infiltrasi di berbagai lini.
Bagi keluarga Angeli, kehadiran Soewardi dianggap sebagai berkah. Selain menaikkan derajat keluarga yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pedagang kelas atas biasa, kini mereka juga dipandang memiliki kekuasaan.
Itulah sebabnya ayah Angeli, Mas Marco, selalu membanggakan menantunya. Berbeda dengan istrinya, Martha, perempuan Minahasa yang justru cenderung mendukung hubungan Angeli dengan Jhon—pemuda tampan, tinggi, dan bermata biru, yang juga berasal dari darah Minahasa.
Kisah Cinta Mereka
Jhon dan Angeli adalah murid HBS, hanya terpaut satu tingkat.
Ayah Angeli adalah seorang pedagang, sedangkan ibunya, Martha, berasal dari Minahasa.
Ayah Angeli menganut kepercayaan Kejawen, sementara Martha beragama Kristen Protestan.
Angeli sendiri cenderung agnostik. Namun, sejak berjumpa dengan Jhon di HBS, ia mulai sering terlihat bersamanya di gereja yang terletak di kawasan Gambir.
Angeli sangat menyayangi Jhon. Bahkan, ia mulai percaya bahwa doa mampu menjaga kekasihnya itu.
Jhon adalah pemuda yang jenaka. Hidupnya tampak ringan, seolah tanpa beban.
Ketika ayah dan ibunya pergi, Jhon-lah yang paling sering menemani adik-adiknya.
Sebagai anak tengah, ia memiliki jarak usia yang jauh dengan kakak dan adiknya.
Pada suatu masa, ibunya menempuh pendidikan di Belanda, sehingga Jhon sempat dianggap sebagai anak bungsu dalam keluarga.
Jhon sangat disayangi oleh ibunya. Namun, tidak demikian halnya dengan ayah Angeli.
Bagi sang ayah, orang Eropa—baik Belanda, Jerman, Inggris, maupun Prancis—semuanya dianggap bermental kolonialis.
Meskipun tidak menyukai Jhon, ia tak berdaya menghadapi istrinya yang mendukung hubungan mereka.
Ketika Jhon bergabung dengan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta), kemarahan ayah Angeli memuncak.
Ia melaknat Jhon sebagai kontra-revolusi dan mengecamnya sebagai antek-antek neokolonialisme.
Janji Menanti
Setelah ibunya pergi ke Belanda, Jhon memutuskan untuk pergi ke Kaskasen, sebuah daerah di Minahasa. Di sana, masih tinggal beberapa kerabatnya—dua paman bermarga Snijder dan seorang tante yang menikah dengan pria lokal.
Jhon berpamitan setelah ia menolak keinginan ayahnya untuk menikah lagi dengan perempuan dari keluarga Potman. Ia sangat menyayangi adiknya, Ron—yang kelak menjadi anggota TNI dan melepaskan kewarganegaraan Belanda. Ron bahkan pernah melatih seorang perwira TNI AD yang kemudian menjadi perwira tinggi dari Makassar dan menjabat sebagai Panglima TNI pada era 1980-an. Dari sanalah Ron mulai mendapat perhatian.
Saat perpisahan, Jhon meneteskan air mata dan memeluk Ron erat.
Dengan suara berat, ia berkata:
“Hidup di era ini menuntut kita untuk rela melepaskan apa yang kita cintai—bahkan jika itu adalah yang paling berharga sekalipun.”
Kata-kata itulah yang kelak menguatkan Ron untuk meninggalkan identitas Eropanya.
Jhon juga sangat mencintai Angeli.
Menjelang kepergiannya, ia sempat bertemu Angeli di Rivoli, tempat anak-anak muda biasa berkumpul saat itu.
Mereka membicarakan hidup, masa depan, dan cita-cita. Semua itu direstui oleh ibu Angeli.
Angeli meyakinkan Jhon bahwa ia akan menepati janji untuk menanti. Namun, pada akhirnya, ia mengingkari janji itu dan memilih menikah dengan pria lain.
Jhon sendiri tidak berani menikahi Angeli karena ia berencana pindah ke Minahasa, ke tanah leluhurnya. Ia ingin membawa Angeli tinggal di sana.
Rencana ini didukung oleh ibu Angeli, yang selalu merindukan kampung halamannya di Tondano. Namun, sebagai perawat di Rumah Sakit Saint Carolus, ia tidak memiliki cukup waktu untuk cuti, apalagi kondisi negara saat itu belum sepenuhnya stabil.
Barulah pada awal 1960-an, ibu Angeli pergi ke Minahasa untuk mencari Jhon. Ia ingin memastikan bahwa Jhon baik-baik saja dan menyampaikan kabar bahwa Angeli akan segera menikah, berharap Jhon bisa kembali ke Jakarta untuk mencegah pernikahan itu.
Namun, Martha tidak berhasil menemukan Jhon.
Sementara itu, Jhon telah tiba di Kaskasen dan mulai bekerja di tanah keluarga.
Komoditas di sana beragam: cengkeh, vanili, kopra, tembakau, dan lainnya.
Ia belajar segalanya dari awal, bekerja dengan tangannya sendiri, dan tetap bersemangat karena semua itu ia lakukan demi Angeli.
Pada masa itu, propaganda komunis begitu masif. Kedekatan pemimpin besar revolusi dengan proyek politik Nasakom menciptakan kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa.
Suara-suara yang menginginkan otonomi daerah mulai terdengar di berbagai penjuru.
Jhon menyimak dan mengikuti perkembangan itu.
Di Kaskasen, berdirilah Posko Politik Semesta Rakyat. Banyak diskusi berlangsung di sana, dan Jhon pun mulai bergabung.
Sebagai lulusan HBS—sekolah elit berdurasi lima tahun yang setara dengan SMA plus diploma—Jhon terbiasa membaca dan berpikir kritis.
Sebagai bagian dari golongan Eropa, ia bersekolah bersama para elit Eropa, Tionghoa, dan pribumi terpelajar.
Jhon sangat tertarik pada pemikiran Douwes Dekker dan Indische Partij, partai radikal kaum Indo yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Inilah yang membedakan Jhon dari Donald dan Richard, bahkan dari sepupunya Fredi yang bergabung dengan CIA dan kelak menetap di San Diego bersama pasangan hidupnya yang berasal dari keturunan Hispanik.
Ketertarikan dan kecakapan Jhon membuatnya bergabung dengan kaum sipil Permesta, yang kelak akan berkolaborasi dengan militer.
Bagi Jhon, Permesta adalah pengingat bahwa otonomi daerah penting agar tidak terjadi kesenjangan sosial-ekonomi, sekaligus sebagai gerakan perlawanan terhadap komunisme.
Peristiwa Permesta telah usai.
Perdamaian pun tercapai.
Jhon pergi ke Filipina, lalu melanjutkan perjalanan ke Eropa dan akhirnya menetap sementara di Belanda.
Namun, dua tahun kemudian, dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk kembali.
Ia pulang demi cintanya.
Dengan hati yang bergelora, Jhon menapaki tanah Jakarta—tempat ia lahir dan dibesarkan.
Ia menuju rumah lamanya di Kwitang. Namun, suasana di sana sepi dan hampa.
Ron sedang mengikuti pendidikan Para Komando di Kalijati.
Noek dalam perjalanan ke Belanda, kecewa terhadap menteri yang berhaluan komunis.
Sementara Rob tinggal di Bogor bersama istrinya dan juga bersiap untuk pindah ke Belanda.
Ayahnya tampak tua dan kesepian, ditemani oleh ibu tiri yang tidak disukai Jhon.
Percakapan mereka singkat, hanya sekadar basa-basi.
Jhon lalu menuju Salemba Raya, tempat tinggal Angeli.
Ia mendapati rumah itu masih berdiri.
Ditekannya tombol bel.
Pintu terbuka.
Martha terkejut melihat Jhon.
Ia memeluknya sambil menangis—air mata penyesalan mengalir deras.
Seakan merasa bersalah karena telah membiarkan Angeli menikah.
Dari balik pintu, Soewardi mengintip, memastikan siapa yang datang.
Dengan suara lirih, Martha berkata, “Maafkan aku, Jhon. Angeli sudah tidak tinggal di sini. Ia telah menikah dan pindah ke Menteng…”
Seketika itu juga, hati Jhon hancur.
Luluh lantak.
Dadanya sesak.
“Bagaimana bisa?” pikirnya.
“Janji suci itu pun ia langgar.
Bagaimana bisa?
Bukankah ia berjanji akan menanti sampai kapan pun?”
Jhon semakin geram saat mengetahui bahwa suami Angeli adalah pilihan ayahnya sendiri—seorang teknokrat di Kementerian Industri dan petinggi HSI (Himpunan Sarjana Indonesia), onderbouw dari PKI.
“Kenapa harus komunis? Kenapa harus komunis?”
Jhon menggigil dalam amarah.
“Belum cukupkah mereka menyerbu rumahku?
Belum cukupkah mereka memporakporandakan keluargaku?
Mereka anti-Barat.
Mereka anti-golongan Eropa.
Kenapa harus suaminya PKI?”
Hari itu, Jhon menyaksikan simbol palu arit di mana-mana.
Jargon neokolim menggema di segala penjuru.
Kali ini, Jhon harus mengakui: ia kalah.
Kalah oleh naluri mudanya di Permesta.
Kalah dalam percintaan.
Kalah dalam menghadapi ibu tirinya.
Ia pun memilih tinggal sementara di rumah lamanya di Jalan Kwitang.
Tahun 1964, Jhon meninggalkan Indonesia.
Di Belanda, ia bekerja di kantor Wali Kota Amsterdam sebagai perencana tata kota.
Setahun kemudian, pecah peristiwa 1965.
Tujuh jenderal dibunuh oleh PKI.
Penjarahan terjadi di mana-mana.
Rakyat muak dan marah.
Keluarga Angeli tak luput dari amuk massa.
Soewardi ditangkap dan tak sempat melarikan diri.
Ia dijebloskan ke Penjara Cipinang, lalu dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik golongan B.
Angeli mengalami depresi. Ia mengandung seorang bayi dan mengasuh satu anak kecil.
Ayahnya, Marco Kusumano—nama aslinya Soetapo Kusumano—ikut terseret.
Demi citra kebarat-baratan, ia mengganti namanya menjadi Marco.
Saat era neokolim, ia kembali berganti nama menjadi Mahardika Kusuma.
Semua itu ia lakukan demi koneksi dagang dan akses ke proyek-proyek pemerintah.
Dengan kedekatannya pada PKI, ia memperoleh banyak proyek dan rutin menyumbang 10% ke HSI dan 10% ke PKI.
Selain itu, ia juga menghidupi seorang anggota Gerwani sebagai gundik, yang kerap ia temui di Hotel Nirwana, Kampung Melayu.
Semua peristiwa itu menjadi terang benderang.
Martha pun bertekad kuat untuk kembali ke Minahasa bersama Angeli.
Tak lama kemudian, mereka pindah ke Belanda.
Tahun 1978, Jhon akhirnya bersedia menemui Angeli dan ibunya.
Pertemuan itu hangat, namun hati Jhon telah dingin.
Cintanya telah padam dan punah.
Di tahun yang sama, Ron dikaruniai anak bungsu dari seorang gadis asal Banyumas.
Anak itu kelak menjadi salah satu demonstran pada era reformasi 1998.
Jhon telah memutuskan untuk hidup melajang.
Tahun 1992, Jhon kembali ke Indonesia.
Ia bertemu Ron dan tinggal selama dua bulan.
Jhon menjalin kedekatan dengan putra bungsu Ron, yang saat itu mulai tertarik membaca buku-buku revolusi sejak masa SMA.
Persahabatan mereka perlahan mengubah watak sang anak—yang semula manja, lebih banyak mengurung diri di kamar, mendengarkan musik rock, dan membaca buku-buku ideologis.
Melalui surat-surat Jhon yang dikirim sepanjang hidupnya, putra bungsu Ron yang semula cenderung Marxis akhirnya berubah haluan.
Ia mulai membaca karya-karya Sutan Sjahrir.
Buku Perjuanganku menjadi titik balik yang mengubah hidupnya selamanya.
Ia mendapatkan dua mentor luar biasa.
Dari mereka, ia memahami makna kerakyatan yang sejati—yang sangat berbeda dari jargon komunis yang hanya menjual kemiskinan demi kepentingan partai.
Jhon menetap selamanya di Belanda, di pusat kota Amsterdam.
Ron memilih tinggal di rumah pensiunan TNI hingga akhir hayatnya.
Putra bungsu Ron akhirnya memahami arti kebangsaan.
Ia tumbuh menjadi seorang Indonesia sejati—dengan kesadaran penuh akan makna kemerdekaan dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Jhon wafat pada tahun 2007.
Ia memilih menjalani euthanasia setelah berjuang melawan penyakit prostat yang telah lama dideritanya.
Dalam surat terakhirnya, ia menulis:
“Aku akan mengakhiri hidupku. Penyakit ini benar-benar menyiksa. Tubuhku tak lagi berfungsi seperti dulu. Hidup melajang sebenarnya menyenangkan—mudah dan ringan. Jika ingin mencari hiburan, selalu ada cara. Tapi kamu jangan seperti aku. Menikahlah. Dan, jauhilah perempuan seperti Angeli—dia punya bakat meninggalkan.”
“Ini surat terakhirku. Aku akan segera disuntik. Waktuku sudah habis.”
Salam,
Jhon













Luar biasa Broo, bakat terpendam dari seorang aktivis 98
Menharu biru perjalanan cinta penuh makna John, apakah hidup memang seharusnya demikian, tidak lepas dari timbal balik bila diberikan sesuatu hingga akhirnya masuk dalam kelam politik. Gundik tidak pernah lepas dari laki laki sukses. Prosa ini membuat kita nyata ada disuatu zaman seperti judulnya “Cerita Cinta Satu Zaman”
Pada akhirnya “Cerita Cinta Satu Zaman” bukan sekedar kisah romansa yang mungkin juga biografi sejarah. Ini adalah pengingat bahwa indonesia dibangun dengan banyak wajah, banyak latar, banyak cinta yang disatukan oleh tekad untuk berharap dan bertahan.
Prosa yang ditulis oleh Taufan Huneman menegaskan bahwa setiap bab kelam sejarah ada hati, “hati yang memilih untuk tetap mencintai”.