Kabar5News – Presiden Prabowo Subianto angkat bicara mengenai maraknya kasus perundungan atau bullying di sekolah, beberapa waktu belakangan.
Dalam kunjungannya ke SMPN 4 Kota Bekasi, Senin (17/11/2025), Prabowo menegaskan bahwa tindakan bullying harus segera diatasi karena dapat merusak masa depan generasi muda.
Pernyataan ini muncul setelah publik dikejutkan oleh kasus tragis seorang siswa di Tangerang Selatan yang meninggal dunia akibat kekerasan yang diduga dilakukan teman sekelasnya.
Kasus tersebut bukan hanya menjadi alarm bagi orang tua dan sekolah, tetapi juga membuka diskusi lebih luas mengenai dampak psikologis bullying yang kerap tak terlihat.
Luka fisik mungkin sembuh, namun luka mental dapat bertahan bertahun-tahun bahkan memengaruhi perjalanan hidup seorang anak.
Oleh karena itu, memahami dampak psikologis bullying adalah langkah penting untuk membangun lingkungan belajar yang aman dan sehat.
Seperti apa dampak dari bullying dan bagaimana cara mengatasinya agar tidak terus menelan korban? Simak ulasan berikut ini.
- Trauma Emosional Berkepanjangan
Korban bullying sering mengalami trauma emosional yang muncul dalam bentuk ketakutan, kecemasan, hingga hilangnya rasa aman ketika berada di lingkungan sekolah.
Trauma ini biasanya muncul karena tekanan berulang, baik berupa ejekan, ancaman, maupun kekerasan fisik.
Pada banyak kasus, korban sulit mengungkapkan perasaannya karena takut stigma atau dibalas kembali oleh pelaku.
Trauma yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius di kemudian hari.
- Penurunan Kepercayaan Diri
Bullying yang terjadi secara terus menerus membuat korban merasa lemah, tidak berharga, dan berbeda dari orang lain.
Komentar merendahkan, penghinaan, atau serangan terhadap kondisi fisik dan mental dapat merusak rasa harga diri korban.
Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang mudah ragu, tidak percaya diri, dan sulit mengambil keputusan penting dalam hidup.
Dampak ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kemampuan sosial maupun karier.
- Potensi Gangguan Kesehatan Mental
Banyak penelitian menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami:
- Depresi
- Gangguan kecemasan (anxiety disorder)
- Stres kronis
- PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)
- Keinginan menyakiti diri sendiri
Berbagai tekanan tersebut membuat korban merasa terjebak dalam lingkaran rasa takut dan tidak memiliki ruang aman untuk bernafas.
Dalam kasus ekstrem, bullying bisa berujung pada tindakan fatal seperti keinginan bunuh diri.
- Prestasi Akademik Menurun
Gangguan psikologis yang dialami korban berpengaruh langsung pada kemampuan mereka menyerap pelajaran.
Rasa takut untuk datang ke sekolah, hilangnya fokus, hingga kekhawatiran akan serangan baru membuat aktivitas belajar tidak dapat berlangsung optimal.
Tidak sedikit kasus bullying yang menyebabkan korban sering izin, menghindari kelas tertentu, atau kehilangan motivasi belajar sama sekali.
- Mengganggu Proses Sosialisasi Anak
Bullying membuat anak merasa bahwa dunia luar tidak aman dan korban cenderung:
- Menarik diri dari pergaulan
- Sulit mempercayai orang lain
- Merasa tidak memiliki teman sejati
- Mengalami ketakutan ketika harus berinteraksi dengan kelompok baru
Jika dibiarkan, hal ini dapat menghambat perkembangan sosial dan kemampuan berkomunikasi mereka hingga dewasa.
Cara Menangani dan Mencegah Bullying
Untuk menghentikan rantai kekerasan, perlu kerja sama dari semua pihak: sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendampingan Psikologis Sejak Dini.
Korban harus mendapatkan konseling yang tepat agar rasa trauma tidak melekat terlalu lama.
- Membangun Budaya Sekolah yang Aman.
Sekolah perlu menyediakan sistem pelaporan yang mudah, aman, dan melindungi identitas korban.
- Edukasi Anti-Bullying.
Guru dan siswa harus dibekali pemahaman tentang empati, kekerasan verbal, dan dampak sosial dari perilaku intimidatif.
- Kolaborasi Orang Tua dan Guru.
Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak, sementara guru perlu proaktif mengawasi dinamika pertemanan siswa.
- Penegakan Aturan dengan Tegas.
Regulasi dari pemerintah harus diperkuat agar setiap sekolah memiliki mekanisme penanganan bullying yang jelas dan terukur.
Kasus yang menjadi sorotan belakangan ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pendidikan agar benar-benar menjadi ruang aman bagi semua anak.
Dengan pemahaman yang benar dan penanganan yang komprehensif, bullying dapat dicegah sebelum menimbulkan dampak yang lebih buruk.












