Kabar5News – Industri perfilman Indonesia tengah berada di masa keemasannya, khususnya untuk genre horor. Jika dulu kita hanya menjadi penonton setia karya-karya Hollywood, kini kondisinya berbalik. Film horor garapan sutradara tanah air mulai mencuri perhatian besar di Amerika Serikat, menciptakan tren baru yang disebut-sebut sebagai kekuatan besar sinema Asia setelah Korea Selatan.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada pergeseran besar dalam cara penonton global mengakses konten. Masuknya film-film horor Indonesia ke platform streaming raksasa seperti Netflix menjadi katalis utama.
Melalui Netflix, batasan geografis runtuh; penonton di Ohio atau New York kini bisa dengan mudah menyaksikan kearifan lokal berbalut mistis khas Nusantara hanya dengan satu klik.
Namun, keberhasilan ini tidak hanya terbatas di layar kaca ponsel atau TV. Beberapa judul besar bahkan berhasil menembus jaringan bioskop komersial di Amerika Serikat.
Kualitas sinematografi yang semakin apik, dipadukan dengan narasi horor yang orisinal dan tidak hanya mengandalkan jump scare, membuat distributor internasional mulai berani memboyong film Indonesia ke pasar Negeri Paman Sam.
Berikut adalah tiga film horor Indonesia yang tayang di pasar Amerika:
1. Badarawuhi di Desa Penari (Dancing Village: The Curse)

Film ini mencatat sejarah dengan melakukan Gala Premieredi Los Angeles pada tahun 2024. Bekerja sama dengan Lionsgate, salah satu studio besar di Hollywood, film garapan sutradara Awi Suryadi ini berhasil memperkenalkan sosok entitas mistis penari dari tanah Jawa kepada penonton Barat.
Keunikan visual dan unsur budaya yang kental menjadi daya tarik utama bagi penonton Amerika yang mencari pengalaman horor yang berbeda dari biasanya.
2. Siksa Kubur (Grave Torture)

Karya dari sutradara kenamaan Joko Anwar ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film internasional. Setelah rilis di Indonesia, film ini segera merambah ke platform Netflix global. Grave Torturemenawarkan premis yang sangat unik dan provokatif mengenai eksistensi kehidupan setelah mati, yang ternyata sangat relevan dan menarik bagi audiens di Amerika Serikat.
Keberanian Joko Anwar dalam mengeksplorasi tema religi dan eksistensialisme lewat genre horor menjadikannya salah satu film yang paling banyak dibicarakan di berbagai forum kritikus film luar negeri.
3. Pengabdi Setan 2: Communion (Satan’s Slaves 2: Communion)

Film ini tidak hanya meledak di dalam negeri, tetapi juga mendapatkan distribusi luas di bioskop-bioskop luar negeri dan platform streamingkhusus horor seperti Shudderyang sangat populer di Amerika Utara.
Kritikus film di AS banyak memuji kemampuan Joko Anwar dalam menciptakan atmosfer mencekam yang setara dengan film-film The Conjuring.
Beberapa pakar film menyebutkan bahwa penonton Amerika mulai jenuh dengan formula horor Barat yang cenderung berulang (seperti slasher atau rumah berhantu standar). Horor Indonesia menawarkan sesuatu yang segar bagi mereka :
- Unsur Folklor & Mitologi: Kepercayaan pada santet, jin, dan tradisi lokal dianggap eksotis sekaligus mengerikan.
- Kualitas Visual yang Berani:Penggunaan praktikal efek dan sinematografi yang makin kelas dunia.
- Sentimen Budaya:Nilai-nilai keluarga yang kuat dalam film horor kita memberikan keterikatan emosional yang berbeda bagi mereka.












