Kabar5news
Rabu,4 Februari , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home GAYA HIDUP

Di Bandung Cinta Bersemi

Kisah cinta Ragil dan Hans yang bersemi setelah kemerdekaan Indonesia, dibalut sisi tragis namun bertabur bunga asmara

Redaksi by Redaksi
3 Februari 2026
in GAYA HIDUP
1
Di Bandung Cinta Bersemi

Ilustrasi Ragil dan Hans (Foto: Microsoft Copilot)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman

Kabar5News – Dengan sedikit keberanian,
ia mulai melawan,
antara kepatuhan dan kebebasan.
Niat baik ayahnya
telah melukainya.
Ia percaya pada mimpinya:
keluar dari desa,
tanah kelahirannya sudah cukup
memberi kesan mendalam
tentang arti tragedi.

RELATED POSTS

Sejarah Hari Kanker Sedunia 4 Februari, Berawal dari Deklarasi Paris

Kecap Asin yang Enak Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik, Bikin Rasa Masakan Tambah Maknyus

Ayahnya berniat menjodohkan Ragil dengan juragan, sahabat sekaligus koleganya. Maksud ayahnya sederhana: agar puterinya hidup bahagia dengan kepastian, martabat, serta menjaga nama baik keluarga.

Namun tidak bagi Ragil.
Tanah ini telah cukup menyaksikan penderitaan, tragedi demi tragedi.

Saat kecil, usia tujuh tahun,
ia melihat kakeknya dipukuli oleh para Nippon.
“Bersujud hanya kepada Allah SWT!” pekik kakeknya.
Satu-satunya pria yang ia cintai,
sosok panutannya,
harus meninggal, meninggalkan dirinya.

Ayahnya hanya diam,
membisu,
sebagai opsir polisi Tokubetsu Keisatsusutai di Gombong.

Gombong sendiri awalnya tanah tak bertuan,
dibuka oleh Kiai Gigombong sebagai hunian bagi Laskar Diponegoro.
Nama Kiai itu lantas diabadikan menjadi nama Dusun Gombong.
Mereka yang tidak dibuang ke Menado atau Makassar,
dipusatkan di tanah itu.

Ragil selalu mendengar cerita kakeknya, Mbah Jenggot,
tentang kehebatan orang Jawa, para ksatria.
Dengan penuh kebanggaan, Mbah Jenggot menceritakan leluhurnya yang ikut menjadi Laskar Diponegoro.

“Ndok, jika kau besar nanti,
jangan tinggalkan asal-usulmu.
Ingatlah, kamu orang Jawa,
dari mana kamu berasal.
Itu tidak akan menghilangkan identitasmu.”

Semua pesan kakeknya ia ingat.
Air matanya menetes,
melihat betapa kejam ayahnya
yang menjodohkan dirinya dengan kolega yang usianya hampir sama dengan ayahnya.

Selepas Indonesia merdeka, Jepang menyerah.
Wirodikaryo bergabung dengan barisan laskar Banyumas
yang bergerak hingga Keresidenan Kedu
untuk menghadapi agresi militer Belanda.

Kemerdekaan menjadikannya polisi di Gombong,
namun ia memilih berhenti pada tahun 1955,
selepas PKI merajalela di daerah selatan.
Ia tidak ingin mengulang sejarah keluarganya,
saat bergabung dengan polisi Nippon
dan tidak berbuat apa-apa ketika ayahnya dipukuli pasukan Jepang.
Itu sebab Ragil tidak menghormatinya.

Kenangan itu membekas.
Sementara ibunya, yang berasal dari Karanganyar, Solo,
hanya bisa berdiam diri.

“Hidup memang harus memilih, Ragil.
Kelak kamu tahu mengapa ayahmu memilih diam.
Di zaman sulit ini kita masih bisa makan,
meski beras dicampur jagung.
Perkebunan keluarga dan sawah setiap panen tidak pernah dijarah,
karena posisi ayahmu.
Janganlah engkau membenci ayahmu.
Sudahi tangismu,
mbahmu akan sedih di surga jika kau terus menangis.
Sudah tiga hari kau mengurung diri di kamar.
Pergilah bermain dengan kakak-kakakmu.”

Semua ingatan itu tiba-tiba muncul,
di hari ayahnya menyampaikan keinginannya.

“Perempuan di tanah Jawa tidak memiliki hak apa pun.
Ingat itu, Ragil,” ujar ayahnya.

“Tidak perlu persetujuan darimu.
Pernikahan akan segera digelar setelah satu Suro (1 Muharram).
Kita akan mengadakan pesta besar.
Keluarga besar bergabung: Ksatriodikoromo dan Ksatriodiwiyono.
Usaha dagang di pasar Gombong, warung makan, toko roti, tempat kopi,
bahkan dua tanah perkebunan dan sawah.
Kamu harus paham, Ragil.
Di tanah Jawa, khususnya Jawa Selatan,
menjadi keluarga kuat adalah keharusan.”

“Kamu ingat, Ragil,
partai komunis sudah mulai naik.
Sekalipun di Kebumen PNI masih menang,
NU nomor dua, PKI nomor tiga.
Demikian juga di Banyumas, PKI nomor tiga,”
Mengapa aku mengkhawatirkan itu semua?
PKI pada tahun 1924–1926 melakukan perlawanan terhadap Belanda
dengan mogok dan aksi yang belum matang.
Itu hanya membuat banyak laskar pejuang kita dihabisi.

Lihat ibumu, perempuan kuat,
menyimpan derita panjang akibat ulah komunis.
Di Karanganyar, pusat gerakan pemogokan,
ayah-ibunya, yakni mbahmu, yang tidak tahu apa-apa, disiksa kejam oleh kolonialis Belanda.
Ibumu tidak mau ikut,
karena punya kedudukan di jawatan perkebunan,
tapi tetap diancam, bahkan hendak diculik.
Itu sebab ibumu membawa keluarganya ke tanah ini, Gombong.”

Tahun 1926–1927, gerakan itu dipicu oleh konferensi di Candi Prambanan (Desember 1925),
untuk melawan Belanda melalui aksi pemogokan dan perlawanan, baik dari buruh hingga petani,
dengan Bandung sebagai pusat komite perlawanan.
Pusat perlawanan terjadi di Batavia, Banten, Sumatera Barat, dan Surakarta.

Dalam peristiwa itu, Tan Malaka menolak aksi pemogokan. Ia juga merevisi ajaran komunisme Lenin, serta menggabungkannya dengan semangat religiusitas sebagai basis perjuangan.

Sebelum aku mengundurkan diri,
PKI sempat naik menjadi nomor tiga di Banyumas, Kebumen, dan Magelang,
sebab memprovokasi.
Bahkan tidak heran, ayahmu ini dianggap sebagai antek Jepang.

Dengan kamu menikah dengan Dirno,
maka keluarga kita akan kuat.
Paham itu, Ragil!!

Kamu harus memahami,
keluarga kita bisa berdiri, makan dengan cukup, dan kakak-kakakmu bisa bekerja dengan baik semua karena kecerdasan aku dan ibumu dalam mengelola situasi.
Itulah sebabnya hatiku perih, hancur, tetapi kematian ayahku di tangan Jepang tidak membolehkan aku menangisinya… setelah kekalahan orang Jawa.

Kita harus mampu menjaga jarak dengan kekuasaan, tetapi tidak menjauh.
Sebab jika menjauh, kita mudah difitnah serta dirampas apa yang kita punya.

Dirno memiliki reputasi usaha yang baik.
Keluarga para ksatria serta keluarga Wiro juga mirip dengan kita.
Kalau aku Wirodikaryo, sedangkan dia Wirodirno—keluarga para ksatria.

Ragil diam,
masih teringat kakeknya,
detik-detik sakratul maut.
Dalam nafas terakhirnya,
ia menyebut nama Allah SWT.

“Ragil… kamu cucu kesayanganku.
Jaga dirimu baik-baik.
Anak setan Londo akan menikahimu.
Jiwanya ksatria,
pejuang negeri ini.
Biar penglihatanku ini menjadi doa untukmu.”

Nyanyian tembang Jawa
mengiringi kematiannya.
Diayun-ayun di atas pohon asem,
kelak menjadi kuburannya.
Hingga hari ini, doa serta banyak orang masih nyekar ke makam pohon asem,
tempat Mbah Jenggot alias Kyai Bintoro II wafat.

Makam itu menyimpan kisah penderitaan para laskar Jawa yang gagah perkasa,
ditipu Belanda,
sementara Diponegoro dibuang jauh ke tanah Makassar.
Sekalipun sanak saudara Kyai Bintoro II tumbuh dan hidup di Tondano, Sulawesi Utara.

Jelang 1 Suro

Dalam tradisi Jawa,
1 Suro merupakan hari yang sakral.
Masyarakat beramai-ramai datang ke pantai,
di daerah Gombong.
Pantai selatan masih satu hamparan dengan pantai di Yogyakarta, Cilacap, serta pantai selatan lainnya.
Pantai itu dikenal dengan budaya mistis,
yang dipercaya sebagai tempat penyucian segala benda,
sekaligus sebagai ajang penyerahan sesembahan.

Tradisi ini juga sering menjadi ajang pulang kampung,
sebab makna sakralisasi jauh melampaui Idul Fitri,
terutama bagi orang Jawa yang memegang tradisi malam Suroan.

Ragil memiliki kakak tertua yang sangat menyayanginya.
Ia tinggal di daerah Bandung,
sebagai perwira Parako (Para Komando)
yang kemudian berganti nama menjadi PGT (Pasukan Gerak Tjepat), yang merupakan pasukan elit komando TNI AU.

Kedatangan Masban dan istrinya, Sartika,
membuat Ragil sedikit melupakan kesedihannya.
Ia tidak suka dijodohkan, apalagi dipaksa menikah dengan pria tua, duda beranak tiga.
“Oh, betapa malang nasibku.
Seolah tiada lagi hati ini sebagai tempat bersandar.”

Kakaknya datang membawa keceriaan.
Ragil berteriak kencang sekali,
sebab sejak tahun 1950 ia tak pernah lagi berjumpa dengannya.

Dengan gagah, Masban berkata:
“Lihat, Dik, kakakmu ini sudah berpangkat Letnan Satu.”

Ragil menangis haru,
dikenalkan dengan istrinya, Sartika,
yang kemudian sering dipanggil Butika,
asli orang Bandung.

Kedatangan Masban kurang disambut oleh ayahnya,
sebab Masban pergi dari tanah Gombong akibat pertengkaran hebat dengan sang ayah.
Namun maksud dan tujuan kepulangannya hanya untuk menengok Ragil,
serta ingin membawa gadis tinggi semampai dengan rambut panjang terurai,
adik kesayangannya.

Tika, yang belum memiliki anak,
begitu sayang pada Ragil sejak pandangan pertama.
“Wajahnya mirip kamu, Mas.”
“Ya iyalah, wong adikku,” jawab Masban dengan aksen Banyumasan, sedikit bangga.

Masban memeluk ibunya.
Sedih, perih bagi sang ibu,
seolah satu kutukan baginya:
semua laki-laki di rumahnya pergi.

Ibunya pun menyadari,
kakak lelakinya pergi bergabung dengan TNI,
dan pada peristiwa 1948 ikut memberantas PKI di Madiun.
Surat yang dikirim hanya berisi satu kalimat,
memohon kepada adiknya, yakni ibu Ragil:

“Sudah kutuntaskan
semua dendam serta pembalasan keluarga kita.
Kulumat habis gerombolan Musso.
Kubedil mereka, para pendiri Uni Indonesia Soviet.”

Apakah perempuan
hanya menembang saja di rumah,
melihat lelaki
pergi menjauh dari kampung halaman?

“Ban, tanah kita siapa yang akan menggarap kelak jika ayahmu tak lagi kuat menyangkul?
Bahkan Parman pun sudah pergi bersama Sutikno.
Mereka, para sepupumu, ikut menjadi KKO dan polisi keluarga Wiroprawito.
Tanah leluhur akan terbengkalai jika ayahmu menua.
Bahkan ibu ini sudah tak kuat harus memasak makanan di restoran,
meskipun usaha itu membuat kita hidup makmur dan sejahtera.”

“Tidak, Bu. Ini sudah jadi jalanku.
Aku juga dengar dari keluarga Prapti tentang nasib adikku, Ragil,
yang hendak dinikahkan secara paksa.
Janganlah budaya ini ada pada keluarga kita.
Kasihan Ragil.
Hidupnya selalu merasa sepi,
bahkan kakak-kakaknya, Sumiati dan Sumiatun,
tak kuasa membuatnya senang,
apalagi dengan pernikahan paksa ini.
Cukuplah deritanya, jangan dibebani dengan feodalisme.”

“Aku hendak membawanya ke Bandung,” ujar Masban.

Mendengar itu, ayahnya menghardik Masban:
“Mentang-mentang kamu sudah Letnan,
kamu bisa semena-mena bertindak?
Tidak! Kataku tidak!
Dia akan segera menikah!”

Masban dan Wirodikaryo bertengkar hebat,
bahkan hendak adu jotos.
Ibunya, Sulima, berteriak-teriak.
Semua saudara melerai,
sebab dusun itu hampir semua masih sanak keluarga.
Masban akhirnya menginap di rumah sepupunya,
dua rumah dari rumah ayahnya.
Ia tak kuasa menahan amarah:
“Jika aku masih satu rumah,
akan kutikam dengan pisau komandoku.”

===

Malam tiba.
Malam Suro.
Semua pergi ke pantai selatan.
Jaraknya jauh,
tapi demi tradisi semua dilakoni.

Masban dan Sartika bersiasat hendak membawa kabur Ragil.

“Gil, kamu mau dengan lelaki itu?”
“Enggak, Mbakyu.”
“Lalu kamu pasrah?”
“Tidak, Mbakyu. Aku hanya patuh.
Sudah lelah aku melawan.”
“Jangan, Dik. Kamu harus ke Bandung.
Kita kabur. Aku akan membawamu bersama Masban.”

Saat selesai 1 Suro,
malam jelang pergantian hari,
mereka pergi.
Semua sudah disiapkan oleh Masban.
Ia meminta bantuan teman-teman kecilnya,
dan para saudara setuju jika Ragil akan dikeluarkan malam itu.

Mendapatkan sedikit penjelasan,
Ragil punya harapan.
Ada cahaya dalam gelapnya sisa feodalisme.

Ragil kabur.
Masban dan Sartika menjadi penolongnya.

Kelak, saat ajal tiba tahun 1999,
ia mengingat dan berkata kepada anak bungsunya:
“Masban dan Butika telah melepaskanku dari jerat feodal.
Ijinkan aku pergi daripadamu, bungsu kesayanganku.
Air mata ini berat kurasa.
Tubuh yang akan pergi meninggalkan raga.
Kujaga engkau di malam hari,
saat mereka mencarimu.
Dalam jantung yang tak kuasa detaknya,
aku hanya berdoa kelak kamu selamat.

===

Bus malam.
Kereta api.
Dalam perjalanan yang melelahkan,
Ragil sangat senang.
Lepas dari kampungnya,
terlebih ia melihat kebebasannya.

Tahun 1957,
Hans baru saja melepaskan kewarganegaraan Nederland alias Belanda.
Di Kalijati, dalam pendidikan Parako (Para Komando),
komandannya menekankan bahwa TNI tidak boleh memiliki dwi-kewarganegaraan,
meskipun undang-undang tentang kewarganegaraan belum dirilis.
Undang-undang itu baru keluar tahun 1962,
yang menyebabkan berbondong-bondong orang Belanda, Tionghoa, dan lainnya
mengganti nama mereka sebagai bagian dari politik kewarganegaraan.

Di hadapan Pengadilan Negeri Kalijati tahun 1957,
Prajurit Dua Hans melepaskan golongan Eropanya
dan menerima status sebagai warga negara Indonesia.

Di tahun yang sama, sebagai TNI yang baru,
ia ikut dalam operasi militer penumpasan DI/TII,
lalu Permesta,
yang membawanya ke kampung ibunya,
bahkan harus berhadapan dengan sanak saudaranya sendiri.
Namun uji kesetiaannya kepada Merah Putih tak diragukan lagi.

Dari Kalijati ia pindah ke Margahayu.
Di sana ia mempunyai komandan bernama Masban,
kakak dari Ragil.

“Hans!” panggil Masban.
“Kamu sudah punya pacar?”
“Siap, Dan. Belum.”
“Kenapa kamu belum punya pacar?”
“Siap, Dan. Belum ada jodoh.”

“Hahahaha…
Kau ini masih saja seperti zaman dulu,
menunggu kekasih di depan pintu.
Kalau kau menjemput kekasih dengan cara begitu,
seumur hidup kau akan membujang.
Tapi jangan seperti sepupuku juga, Yusuf,
yang hobinya pacaran terus.”

“Bisa kau nanti selepas apel sore datang ke rumahku.
Kukenalkan pada adikku,
dari Jawa.
Masih polos dia.
Aku percaya padamu.
Cukur kumismu yang jarang-jarang itu,
dan pakailah kemeja terbaikmu.”

Sore, Perjumpaan Ragil dan Hans.

Ragil teringat pada penglihatan kakeknya.
Wajah lelaki itu putih, hidungnya mancung, tubuhnya tinggi.
Wangi, rambutnya pirang,
serta melafalkan bahasa Melayu dengan aksen Belanda.
Sebab dahulu, di rumah keluarganya,
mereka harus menggunakan bahasa Belanda,
sehingga bahasa Indonesia tidak dikenal.

Ayah Hans adalah seorang pengusaha
yang jatuh miskin karena nasionalisasi.
Dua rumahnya di kawasan Menteng diambil,
satu vila di Bogor pun dirampas.
Perusahaannya diambil alih,
dan semua asetnya dinasionalisasi.
Hanya tersisa sebuah rumah di Kwitang,
itu pun karena dijadikan mess pekerja ayahnya.

Pertemuan Ragil dan Hans
memicu getaran seluruh sel tubuhnya.
Kaku, gemetar,
dan denyut jantung berdebar keras.

Ragil.
Hans.

Tiga bulan kemudian mereka menikah.
Saksi dari pihak Ragil adalah Masban dan Sartika,
sedangkan dari pihak Hans seorang sahabat kecilnya dari Pejambon,
Frans, yang usianya tiga tahun lebih tua dari Hans
dan berpangkat Sersan Kepala.

Pernikahan itu melahirkan anak perempuan dan laki-laki.
Pada tahun 1964, mereka mendapatkan cuti dan pulang ke kampung.
Ayah Ragil masih marah,
sedangkan ibunya, Sulima, menerimanya dengan senang hati.
“Wong Londo, tapi tentara toh.
Senangnya aku.
Wes tampan,” ujarnya.

Tahun 1967,
Hans diterjunkan ke Kalimantan
untuk memberantas sisa-sisa komunis di sana,
yang mendirikan pusat perlawanan selepas kegagalan perlindungan kaum komunis di Blitar Selatan.

Ayah Ragil menerima surat dari Hans,
yang menceritakan betapa murkanya ia atas kekejian komunis.
Di Kalimantan, katanya, adalah ajang pembalasan dari semua itu.

Wirodikaryo, yang terbaring sakit sejak peristiwa pemukulan dirinya oleh BTI (Barisan Tani Indonesia, organisasi onderbouw PKI).
saat peristiwa reclaiming tanah pada akhir tahun 1964,
membaca surat dari Hans, menantunya.

Dipanggilnya Sulima, istrinya.
Menangis ia berkata:
“Aku salah terhadap Ragil.
Suaminya orang baik.
Aku menyesal menjodohkannya dengan Dirno yang berhati licik.
Aku tahu, Dirno-lah otak di balik semua peristiwa pemukulan itu oleh BTI.
Bahkan keluarga kita diteror.
Melalui PKI, Dirno ingin jadi penguasa tunggal.
Tapi akulah yang jadi penghalangnya,” ujarnya sambil menangis kejar.

Peristiwa pembalasan oleh keluarga besar Wirodikaryo
menyebabkan pertikaian penuh darah
dari tahun 1964 hingga 1967.

Ragil pun mewajibkan anak-anaknya menonton film G30S/PKI,
bukan sebagai doktrinisasi,
melainkan sebagai pengingat:
tahun 1926 keluarga ibunya menjadi korban agitasi dan propaganda,
lalu tahun 1964 terjadi reclaiming tanah oleh BTI.

Belum lagi Hans,
yang sejak tahun 1964 keluarganya di Jakarta tak luput dari aksi teror:
mulai vandalisme, ancaman, hingga umpatan “anjing nekolim,
kalian penghisap darah rakyat.”
Padahal ayah Hans juga korban kebijakan nasionalisasi
dan massa aksi diam.

Apalagi aktivitasnya di Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada dekade 1960-an.
Sejak PSI dibubarkan, usaha ayah Hans semakin sulit dijalankan.

Kelak, anak Hans belajar tentang sosialisme Indonesia
dari Murdianto alias Om Anto,
pengasuh Pusat Pendidikan Politik Guntur 49.

Idolanya adalah Sjahrir:
muda,
cerdas,
tragis.

Continue Reading
Tags: prosa sastrasastraTaufan Hunneman
Previous Post

Apa Itu Waste to Energy? Solusi Pemerintah Ubah Sampah Jadi Listrik

Next Post

Modus dan Dampak Child Grooming, Manipulasi Halus Berujung Trauma Mendalam

Redaksi

Redaksi

Related Posts

Sejarah Hari Kanker Sedunia 4 Februari, Berawal dari Deklarasi Paris

Sejarah Hari Kanker Sedunia 4 Februari, Berawal dari Deklarasi Paris

by Fajar Novryanto
4 Februari 2026
0

Kabar5News - Setiap tanggal 4 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) sebagai bentuk komitmen internasional dalam memerangi...

Kecap Asin yang Enak Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik, Bikin Rasa Masakan Tambah Maknyus

Kecap Asin yang Enak Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik, Bikin Rasa Masakan Tambah Maknyus

by Damayanti Rizalino
4 Februari 2026
0

Kabar5news -  Selain memberikan rasa gurih yang mendalam pada masakan, kecap asin berfungsi untuk menyeimbangkan rasa serta mempertajam aroma. Banyak...

Amankah Mengonsumsi Daging Ikan Sapu-Sapu?

Amankah Mengonsumsi Daging Ikan Sapu-Sapu?

by Mera Puspita Sari
3 Februari 2026
0

Kabar5News - Belum lama ini viral konten olahan makanan siomay sampai abon yang menggunakan bahan dasar ikan sapu-sapu. Fenomena menghebohkan...

Modus dan Dampak Child Grooming, Manipulasi Halus Berujung Trauma Mendalam

Modus dan Dampak Child Grooming, Manipulasi Halus Berujung Trauma Mendalam

by Fajar Novryanto
3 Februari 2026
0

Kabar5News - Fenomena child grooming kembali menjadi sorotan publik. Praktik ini bukan sekadar pelecehan seksual biasa, melainkan proses manipulasi psikologis...

7 Tradisi Sambut Bulan Ramadan di Indonesia, Tiap Daerah Punya Ciri Khas

7 Tradisi Sambut Bulan Ramadan di Indonesia, Tiap Daerah Punya Ciri Khas

by Fajar Novryanto
2 Februari 2026
0

Kabar5News - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di berbagai daerah Indonesia mulai terasa berbeda. Masyarakat bersiap tidak hanya secara...

Next Post
Modus dan Dampak Child Grooming, Manipulasi Halus Berujung Trauma Mendalam

Modus dan Dampak Child Grooming, Manipulasi Halus Berujung Trauma Mendalam

Pertamina Hulu Energi Fokus Migas Non-Konvensional dan Deepwater untuk Amankan Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang

Pertamina Hulu Energi Fokus Migas Non-Konvensional dan Deepwater untuk Amankan Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang

Comments 1

  1. Ping-balik: Sinopsis yang Bersastra: Catatan Marlin Dinamikanto Tentang Prosa 'Di Bandung Cinta Bersemi' - Kabar5news

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Cara Upload Video Supaya Terbaca Algoritma TikTok

Cara Upload Video Supaya Terbaca Algoritma TikTok

4 Februari 2026
Keunggulan Rumah Beratap Genteng, Program Gentengisasi Prabowo untuk Indonesia ASRI

Keunggulan Rumah Beratap Genteng, Program Gentengisasi Prabowo untuk Indonesia ASRI

4 Februari 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prompt Gemini Foto Pakai Jas Hitam dan Pegang Bunga Mawar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In