Kabar5News – Film terbaru yang diproduksi oleh sineas kenamaan Indonesia, Joko Anwar, berjudul “Legenda Kelam Malin Kundang” telah menjadi salah satu perbincangan hangat di kalangan penggemar sinema menjelang akhir tahun 2025. Bersama rumah produksi Come and See Pictures, Joko Anwar yang kali ini lebih fokus berperan sebagai produser dan penulis naskah, menghadirkan sebuah reinterpretasi gelap, modern, dan penuh lapisan psikologis dari cerita rakyat legendaris asal Sumatera Barat, Malin Kundang.
Film yang disutradarai oleh dua talenta muda berbakat, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, ini sedang tayang di bioskop mulai 27 November 2025. Film ini bukan sekadar daur ulang kisah klasik tentang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, melainkan sebuah dekonstruksi berani yang membawa mitos tersebut ke dalam ranah misteri, drama keluarga, dan horor psikologis yang mencekam. Pendekatan ini bertujuan agar cerita rakyat tetap hidup dan relevan bagi penonton modern, khususnya generasi muda yang kerap tidak suka “diceramahi” secara langsung.
Dalam kisah aslinya, Malin Kundang adalah simbol anak yang melupakan asal-usulnya dan berkhianat kepada ibu kandungnya setelah sukses merantau, dan akhirnya dikutuk menjadi batu. Film ini mengambil esensi tersebut, namun mengubahnya menjadi eksplorasi isu yang jauh lebih kompleks dan intim yaitu trauma antargenerasi dalam keluarga.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa film ini terinspirasi dari pertanyaan yang lebih dalam mengenai kebenaran di balik narasi cerita rakyat, yang menurutnya sering disederhanakan atau dikendalikan oleh pihak berkuasa. Sosok ibu, yang dalam versi klasik adalah simbol tradisi yang menuntut kepatuhan, dalam adaptasi ini bisa dimaknai sebagai representasi tradisi atau masa lalu yang mengekang.
Karakter utama dalam film ini adalah Alif (diperankan oleh Rio Dewanto), seorang seniman micro painting yang sukses di kancah internasional. Kehidupan Alif yang harmonis bersama istrinya, Nadine (Faradina Mufti), dan anaknya, mendadak terguncang. Setelah mengalami kecelakaan parah, Alif selamat namun menderita amnesia, terutama pada ingatan masa lalunya dan keluarganya.
Titik balik cerita dimulai ketika seorang perempuan (Vonny Anggraini sebagai Amak) datang dan mengaku sebagai ibu kandungnya. Kebingungan Alif, yang sama sekali tidak mengingat wajah ibunya, mendorongnya masuk ke dalam labirin rahasia kelam. Film ini lantas bertransformasi menjadi drama misteri-thriller di mana Alif harus menelusuri tempat-tempat tersembunyi di Jakarta dan memeriksa kode-kode dalam catatannya sendiri untuk mengungkap kebenaran yang mengerikan tentang masa lalunya.
Di situlah letak perbedaan yang paling mencolok, kutukan bukan lagi terjadi secara harfiah menjadi batu, melainkan berupa bencana psikologis yang mengancam kehancuran rumah tangganya dan masa depan keluarganya. Film ini menggunakan simbolisme batu dari legenda asli sebagai metafora untuk “dampak berat dari trauma yang mengeras” atau beban emosional yang dibawa dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Film ini sangat direkomendasikan bagi penonton yang menyukai misteri, horor psikologis, dan drama keluarga yang tidak takut untuk menyajikan narasi gelap dan menantang.












