kabar5news . – Di tengah dunia yang kian cepat, tuntutan untuk terus produktif, sibuk, dan “berhasil” telah menjadi standar tidak tertulis yang menekan banyak anak muda. Budaya ini dikenal dengan istilah toxic hustle culture sebuah pola pikir yang memuja kerja keras tanpa henti, bahkan mengorbankan kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Namun kini, semakin banyak generasi muda yang berani mengambil sikap berbeda: mereka memilih gaya hidup “no pressure”.
Alih-alih mengejar validasi lewat pencapaian, anak muda mulai mencari makna hidup lewat keseimbangan, ketenangan, dan kejujuran terhadap diri sendiri. Mereka tidak lagi merasa harus selalu ‘on’ sepanjang waktu. Istirahat, menyendiri, atau bahkan sekadar menikmati kopi di pagi hari tanpa agenda kerja yang padat, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap budaya hustle yang melelahkan.
“Gue nggak mau hidup buat ngejar ekspektasi orang terus. Kalau capek, ya istirahat. Kalau nggak mood, ya diem dulu. Nggak harus selalu produktif biar dibilang sukses,” ujar Rina (25), seorang ilustrator freelance asal Jakarta Selatan.
Media sosial pun memainkan peran besar dalam tren ini. Banyak akun yang kini membagikan konten bertema slow living, mental health awareness, hingga anti-burnout tips. Anak muda tak lagi malu menunjukkan sisi lelah dan rapuh mereka justru dianggap sebagai bentuk kejujuran emosional yang sehat.
Di sisi lain, gaya hidup “no pressure” bukan berarti pasif atau malas. Mereka tetap berkarya dan berproses, namun dengan cara dan ritme yang lebih manusiawi. Prinsip yang dipegang: hidup harus dijalani, bukan dikejar sampai habis-habisan.
Fenomena ini pun memunculkan komunitas-komunitas baru: ruang aman untuk saling bercerita tanpa tekanan, kelas-kelas seni untuk healing, hingga gerakan digital yang mengkampanyekan pentingnya berhenti sejenak.
“Sukses itu bukan cuma soal kerja 24/7. Tapi juga soal bisa bangun pagi dengan tenang, makan enak, dan nggak panik tiap buka WhatsApp,” tambah Raka (28), seorang barista dan pegiat komunitas kreatif di Bandung.
Gaya hidup “no pressure” bukan sekadar tren, tapi mungkin sebuah evolusi cara berpikir anak muda tentang hidup yang sehat dan bermakna. Di tengah dunia yang sibuk mengejar segalanya, mereka justru memilih untuk menemukan diri sendiri dalam diam, istirahat, dan kejujuran.