Kabar5news – Harga emas belakangan ini alami kenaikan, hal ini dipicu oleh banyak hal, salah satu nya ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik.
Namun, permintaan masyarakat akan investasi emas terus menunjukan tren yang positif. Puncaknya pada 2025, total permintaan sempat mencapai 48,2 ton dan save haven jadi faktor utama lonjakan tersebut.
Harga emas bulan April 2026 sudah menyentuh angka Rp2,8 juta, akan tetapi minat kepemilikian logam mulia terus meningkat, bahkan pemerintah sempat kewalahan karena pasokan dalam negeri yang rapuh.
Mungkin Anda atau sebagian orang ada yang bertanya, kenapa banyak orang tertarik membeli emas padahal harga sedang naik gila-gilaan?
Kilau emas memang menyilaukan mata, warnanya yang kuning cerah bertektur lunak dan tahan karat memiliki nilai prestige yang tinggi.
Bahkan orang-orang zaman dulu rela berkorban demi emas karena dianggap sebagai simbol keabadian, status sosial tertinggi, dan kekuasaan mutlak yang tak lekang oleh waktu.
Kelangkaannya, dan sifatnya yang tahan karat atau kerusakan diterima secara universal di berbagai negara manapun.
Emas Sebagai Simbol Kekayaan

Apabila ditarik ke belakang, sebetulnya manusia sudah mengenal emas sejak zaman prasejarah. Bukti penggunaan emas pada zaman prasejarah setelah ditemukan artefak emas tertua di Bulgaria sekitar 4.600-4.200 SM.
Zaman Mesir Kuno sekitar 3.000 SM, emas digunakan secara luas untuk perhiasan, artefak kerjaan dan “sesembahan” para dewa.
Pada perkembangannya, Kerajaan Lydia, Turki membuat koin emas pertama sebagaoi mata uang. Menyusul beberapa negara di Timur Tengah menjadikan emas sebagai mata uang, sebut saja wilayah Arab masa lampau menggunakan Dinar sebagai alat tukar yang sah dalam perdagangan, pembayaran, dan penyimpananan kekayaan.
Sejak saat itu, emas disukai ribuan tahun lalu berkat warnanya yang khas, keabadian serta nilainya yang tinggi.
Emas Sebagai Save Haven

Di nukil dari berbagai sumber, termasuk National Mining Association, ketertarikan manusia terhadap emas sudah berlangsung lama.
Emas tak hanya digunakan sebagai alat tukar sah dalam perdagangan di wilayah Arab masa lampau, akan tetapi untuk penunjang penampilan lebih cantik bahkan di dalam lihat lahat sekalipun.
Buktinya, jasad wanita dari zaman batu yang ditemukan terkubur di London, mengenakan emas di lehernya, para Kelat pada abad ke-3 SM di giginya terpasang implan emas.
Begitu pun dengan Kaisar Cina yang dikubur bersama kereta emas dan benda berharga lainnya.
Ketertarikan banyak orang pada emas berlangsung hingga sekarang, dari 78 persen suplai emas tahunan di dunia digunakan untuk pembuatan perhiasan.
Emas juga dibeli untuk investasi jangka oanjang. Bisa dalam bentuk perhiasan, emas batangan, koin, atau yang sedang tren belakangan ini adalah emas digital.
Keuntungan investasi emas yakni tidak terpengaruh inflasi, nilai jual cenderung meningkat setiap tahunnya, dan yang paling penting yaitu dapat dimanfaatkan untuk perencanaan masa depan.
Dapat disimpulkan bahwa, emas masih tetap digunakan sebagai simbol kekayaan, baik itu dalam wujud perhiasan maupun logam mulia.
Semakian banyak perhiasan yang dipakai, semakin banyak emas yang dimiliki, atau semakin banyak saldo emas digital, maka semakin kaya orang tersebut.












