Kabar5news
Rabu,11 Maret , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home HIBURAN

Kenangan Anak Muda

Kisah percintaan dua anak manusia yang akhirnya dipisahkan oleh pengkhianatan. Bukan hanya soal perasaan tapi juga komitmen terhadap idealisme dalam perjuangan

Redaksi by Redaksi
11 Maret 2026
in HIBURAN
0
Kenangan Anak Muda

Ilustrasi Badai dan Wulan (Foto: Microsoft Copilot)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman

Kabar5News – Selepas pulang, ia membaca buku. Hidupnya monoton, bahkan bisa dikatakan statis.

RELATED POSTS

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

Minahasa 1950

Dari kitab suci, di bawah bendera revolusi, hingga novel karya Pramoedya Ananta Toer.

Buku yang ia baca didapat dari perburuan di pasar gelap atau Pasar Senen, atau sesekali ia beli diam-diam di Kramat Jati.

Ia tumbuh dengan pena sekaligus kepekaan sosial.

Namanya Badai.

Ia baru saja menghabiskan sebuah novel yang menyayat hati:

kisah perempuan berjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi.

Hatinya bergoncang mengenang seorang perempuan yang membunuh lelaki yang mengeksploitasinya, lalu dipenjara.

Batas antara kebenaran makin terasa absurd.

Ia pun mulai bertanya-tanya tentang makna kebenaran itu sendiri.

Badai dilahirkan di Jakarta, tepatnya saat ITB bergejolak tahun 1978.

Mahasiswa kala itu berdemonstrasi menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri ke kampus ITB.

Tokoh-tokoh seperti Rizal Ramli, Heri Ahmadi,

serta Indro Cahyono merupakan aktivis mahasiswa saat itu.

Yang paling radikal adalah Indro Cahyono,

yang kemudian menjadi aktivis Skephi (NGO lingkungan hidup).

Dalam menyelami kehidupan literasinya sejak SMA,

Badai sangat kritis terhadap lingkungan, juga terhadap mata pelajaran di sekolah.

IPS adalah mata pelajaran favoritnya.

Sejarah, tata negara, hingga geografi tak terkalahkan.

Selepas bel istirahat, ia sering menghilang bersama teman-temannya.

Sesekali, toilet menjadi tempat favorit untuk mengisap marijuana.

Kebiasaan buruk yang sekaligus menjadi aib dalam perilakunya.

Marijuana ia gunakan untuk menenangkan emosinya yang sering meledak-ledak.

Selain itu, novel juga membawa hatinya terus peka, bahkan kadang hanyut dan larut.

Saat membaca Tetralogi Pulau Buru—dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, hingga Rumah Kaca—ia melahap habis.

Bahkan ia mencari Sang Pemula, kisah Tirto Adisuryo, tokoh pers yang mengilhami Pram menulis seluruh tetralogi itu.

Badai lahir dan besar di mess perwira.

Ibunya adalah penyimpan sejarah tentang cinta, pelarian bersama suaminya,

sekaligus dendam kebencian yang teramat dalam terhadap PKI.

Badai membaca buku-buku karya Pram.

Membelinya sembunyi-sembunyi, membacanya pun harus sembunyi.

Sampai suatu ketika, ia mengetahui bahwa Pramoedya Ananta Toer adalah bagian dari Lekra,

yang ikut andil memberangus karya-karya Manikebu.

Karena memahami arti kebebasan, ia melihat absurditas Pram sebagai seorang moralis di satu sisi,

namun di sisi lain ikut membunuh kreativitas sastra yang mengkritik doktrin revolusi.

Sekalipun banyak perdebatan soal peran Pram,

Lekra tetap sangat bertanggung jawab. Badai merasa kecewa ketika mengetahui bahwa Lekra ikut dalam penindasan intelektual.

Sore hari, atau Minggu pagi, saat pergi ke toko buku bekas Abang Lae—begitu ia memanggilnya— Badai disodori sebuah buku.

Judulnya Catatan Seorang Demonstran, diterbitkan Yayasan Obor, ditulis oleh Soe Hok Gie.

Lembar demi lembar ia membacanya.

Kekaguman pada Gie demikian terpancar melalui wajahnya.

Ia sangat antusias, dan relatif aman membaca buku itu di depan ibunya.

Di kamar, alunan musik Iwan Fals mengiringi.

Satu linting ia hisap perlahan.

Asap ditahan, dinikmati. Fly… membaca, dan ia terbang ke satu era:

saat pergolakan 1966.

Gie nama yang memikatnya.

Banyak persamaan dirinya dengan Gie, demikian batinnya berkata.

Seolah ia hidup dalam Gie, demikian pula Gie hidup dalam dirinya.

Sedemikian parah halusinasinya, efek dari marijuana membuat dunia nyata menjadi dunia khayal.

***

17 Agustus 1992.

Parade karnaval tujuhbelasan membawanya menonton di lapangan.

Dari kejauhan, Badai melihat seorang perempuan cantik dan ayu.

Kulitnya putih, berlesung pipit, dengan wajah orientalis, dan ada tahi lalat di dagunya

Rasa penasarannya seakan memuncak.

Badai mencari tahu siapa gerangan gadis manis itu.

Syukurlah ia punya teman bernama Ardani, yang memiliki “database” semua perempuan cantik.

Dan siapakah dia?

“Onde mande… selera kau tinggi juga ternyata. Kau tak lihat, parade ini makin ramai karena kehadirannya. Wulansari namanya. Bapaknya teknisi pesawat, rumahnya di blok atas. Banyak saingan. Lagian dia anak kelas 3, tak mau dengan kau anak kelas 1. Kau mending sama Vetri atau Lia. Suka sekali dia sampaikan salam untukmu.”

Vetri sering bertanya, kenapa kau tak pernah meminta minum lagi selepas bermain bola.

Sampai-sampai botol dan gelas ia taruh setiap Sabtu di depan teras rumahnya. Namun Badai hanya berkata,

“Aku kasihan dengan Vetri. Gadis ayu, tapi terlalu kalem. Aku tak terlalu cocok dengan yang kalem-kalem. Ah, bagaimana dengan Lia?”

“Ah, terlalu agresif. Aku takut.”

Padahal mereka itu idaman banyak pria di komplek kita.

Kau tahu, Badai, banyak pria sebaya sebel padamu.

Beberapa kali cowok mengutarakan cinta, tapi mereka selalu menyebut namamu.

“Sial benar,” ujar mereka.

Dan lihat, dia sedang menatap kita.

Badai memberi senyum, Wulan pun tersenyum.

Hari ini mataku memandangnya.

Inikah cinta monyet pertamaku?

Duh, anak kelas 3 SMA, pastinya terpaut lebih tua.

Bukankah cinta memang tidak mengenal status, ras, bahkan latar belakang?

Seharusnya ia berdiri secara independen.

Apalagi soal agama, seharusnya cinta membebaskan dari semua itu.

***

Wulan hobi membaca buku.

Novel yang dibacanya kebanyakan karya Y.B. Mangunwijaya, Sindhunata, dan beberapa filsuf Barat.

Ia mulai tertarik pada feminisme sekaligus menjadi pemerhati lingkungan hidup.

Kesamaan hobi itulah yang membawa mereka sering berjalan bersama setiap Sabtu ke Pasar Senen, Gramedia Matraman, dan Kramat Jati yang tak jauh dari asrama mereka.

Badai mulai memberanikan diri memegang tangannya saat menyeberang.

Tangan Wulan dengan rela diberikan.

Bahkan saat mereka berada di angkot jurusan Cililitan–Kampung Melayu, dengan sadar kepala Wulan menempel pada bahu Badai.

Cinta Badai mulai tumbuh, demikian juga Wulan.

Mereka pasangan serasi, sama hobi sekaligus sama latar belakang.

Badai naik ke kelas 2, sementara Wulan mulai masuk kuliah.

Ia bergabung dengan sebuah NGO radikal yang bergerak di bidang feminisme.

Namun Wulan membatasi, bahwa feminisme yang ia pilih adalah feminisme hukum, yakni yang memperjuangkan kesetaraan perempuan baik secara budaya maupun hukum.

Baginya, budaya patrilineal melahirkan hukum yang cenderung maskulin, sehingga perempuan didesain untuk menjadi inferior.

Wulan protes jika R.A. Kartini dijadikan ikon feminisme.

Pada satu kesempatan ia katakan itu kepada Badai.

“Apa sebab?” ujar Badai.

“Seorang feminis sejati harus berani melawan feodalisme. Sedangkan surat-surat R.A. Kartini hanya menggambarkan keinginan kesetaraan, namun ketidakmampuan melawan.

Bagiku, Rohana Kudus lebih cocok, karena ia memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan.

Ia mendirikan sekolah perempuan, memperjuangkan hak pendidikan.”

Tulisan-tulisan di surat kabar, lalu aktivitas Rohana Kudus, menyiratkan bahwa ia pejuang sejati, bahkan melampaui zamannya ketika bicara keterwakilan perempuan dalam politik.

Wulan mengidolakan Rohana Kudus, yang konsisten sekaligus berpikiran maju bagi kaum perempuan.

***

Badai dan Wulan banyak menghabiskan waktu bersama.

Sesekali Badai ikut ke kantor NGO tempat Wulan bekerja.

Tahun 1993, gerakan politik bawah tanah mulai bergerak.

Badai semakin asyik berdiskusi dengan kelompok NGO perempuan.

Diskusi membuat waktu larut hingga malam, pukul 22.00.

Badai bergegas mencari telepon umum untuk memberitahu ibunya bahwa ia tidak pulang, sekaligus meyakinkan bahwa semua aman.

Ia khawatir, sebab ibunya memiliki sakit jantung.

Badai menginap di kantor NGO.

Karena hanya mereka berdua yang tinggal di sekretariat, malam itu kedekatan mereka semakin dalam.

Wulan, dengan penuh keyakinan, menuntun Badai yang masih belia untuk merasakan keintiman yang baru pertama kali ia alami.

Wulan tampak tenang, sementara Badai masih diliputi rasa canggung.

Namun perlahan ia menyadari, bahwa kedewasaan Wulan—tiga tahun lebih tua darinya—membuat segalanya terasa wajar.

Badai sungguh mencintai Wulan.

Kesungguhan hatinya selalu tertuju padanya.

Ia bahkan mulai melupakan kebiasaan lama, tak lagi mencari pelarian lewat marijuana, dan semakin jarang tenggelam dalam buku.

Kedekatan itu berulang, sekali, dua kali, hingga semakin sering.

Lebih banyak terjadi di ruang sekretariat NGO, tempat mereka berbagi rasa, dan menumbuhkan cinta yang semakin kuat.

***

Masuk Kuliah

Badai mulai kuliah di kampus favorit.

Ia berjumpa dengan seorang dosen eksentrik, seorang feminis, namun ia curiga bahwa dosen pria ini anti terhadap lembaga perkawinan.

Kuliah filsafat terasa mengasyikkan, namun entah mengapa rasa malas selalu menggeluti Badai.

Apalagi ditambah dengan bacaan Ivan Illich dan model pendidikan anti-mainstream yang diterapkan kaum sosialis.

Selain itu, aktivitas NGO membuatnya banyak terlibat kampanye, semakin sibuk setelah Wulan menjadi ketua NGO perempuan.

Wulan pun lebih sering ke luar negeri, berhubungan dengan lembaga pendonor sekaligus membangun jaringan di sana.

Mr. Paul Parker, ketua NGO internasional yang menjadi lembaga pendonor di kawasan ASEAN, berkantor pusat di Brussel.

Interaksi Wulan dengan Paul semakin intens, terutama saat ia menyampaikan program kerja tahunan berikut anggarannya.

Hubungan intens ini berbuah kedekatan fisik yang singkat, tanpa cinta, namun sama-sama dinikmati dan dianggap sebagai cara membangun kepercayaan.

Bagi Wulan, kedekatan itu adalah strategi sekaligus kebutuhan situasional.

Desember hingga Februari, tiga bulan kesendirian membuat Wulan merasakan dorongan yang kuat.

Ia melihatnya sebagai bagian dari kemerdekaan seorang perempuan: membebaskan tubuh dari sekat-sekat yang mengikat, hingga akhirnya secara tidak langsung menolak lembaga pernikahan.

***
Hubungan Wulan dengan Parker bukan lagi sekadar pertemuan situasional, melainkan ikatan yang terus merindu dan saling mengikat.

Tak heran, suatu ketika Wulan harus berkelit dari Badai saat Paul Parker datang ke Jakarta.

Dengan lihai ia meyakinkan Badai bahwa lima hari ke depan ia tak bisa dihubungi karena urusan keluarga.

Badai percaya semua itu.

Badai cinta terlalu dalam.

“Dia yang pertama menyentuh hatiku,” ujarnya.

Ia percaya kelak Wulan akan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Wulan cukup dikenal di kalangan teman-teman kampus Badai.

Badai pun bangga memacari Wulan, ketua NGO perempuan yang radikal.

Namun wajah yang familiar itu, justru menjadi jerat bagi Wulan.

Sabtu sore, Wulan bersama Paul, terlihat akrab di sebuah kafe hotel bintang lima di Jakarta Pusat.

Mereka bergaya ala Barat: bermesraan, berpelukan, hingga berciuman.

Tak disangka, Amir Fuad—sahabat Badai—melihat mereka.

Saat itu ia menjadi pendamping tamu pernikahan sepupunya.

Datang lebih awal, ia diajak kakaknya menunggu di kafe, dan menyaksikan pertunjukan cinta di ruang publik.

Penglihatan Amir semakin jelas: bukankah itu kekasih Badai, yang sering ia lihat di kantin kampus? Amir diam, menunduk, lalu pergi.

Seminggu, sebulan, hingga tiga bulan kemudian, peristiwa itu disampaikan Amir kepada Badai.

Awalnya Badai marah, namun Amir berkata, “Perlu kita buktikan. Saat Wulan izin, kita akan ke hotel itu.”

Desember. Wulan tidak ke Brussel, melainkan Paul yang datang ke Jakarta, menghindari istrinya dengan dalih kedinasan.

Persis seperti yang disampaikan Amir.

Mereka menginap sejak Jumat, dan Sabtu pagi sarapan bersama.

Wulan mengenakan pakaian santai, Paul pun demikian.

Makan, bercengkerama, dan kembali menunjukkan keintiman. Badai menyaksikan, lalu menghampiri.

Wulan dengan tenang menarik Badai, mengatakan bahwa ini bagian dari diplomasi dengan donatur internasional.

Namun bagi Badai, ini bukan diplomasi, melainkan pengkhianatan.

Wulan telah menyakiti dua hati: hatinya sendiri, dan hati istri Paul.

Badai bertanya-tanya: feminisme, idealisme, semua yang ia baca, komitmen serta jerih payahnya.

Badai hancur, melihat kemunafikan perjuangan.

Namun ia tidak mundur dari gerakan, hanya semakin realistis.

Perjuangan ideologi, tak semurni tatanan ideal.

Ada banyak kemungkinan. Itulah yang mendewasakannya.

Tak heran, pasca reformasi ia tetap tegar.

Wulan telah ia lupakan.

Dalam hati ia berjanji, suatu hari ia tidak akan menikah dengan aktivis.

Beberapa tahun kemudian, Badai menikah dengan seorang perempuan biasa: sederhana, berpikiran realistis, dan berorientasi pada keluarga.

***
Badai menjadi sosok yang sangat realistis.

Ia bekerja, berkeluarga, memiliki anak, dan bertanggung jawab atas semua itu.

Namun semangat keberpihakan masih ia simpan,

bukan dengan hati penuh benci, melainkan dengan pemahaman yang lebih dewasa.

Ia tahu, donasi apa pun kerap memikat untuk menjalankan agenda asing.

Namun Badai tak bisa membohongi diri

Baginya, menerima donasi asing adalah bentuk kemunafikan dalam gerakan sosial

Lebih parahnya, langkah itu merupakan upaya melacurkan bangsanya

Itulah sebabnya Badai tidak tertarik menjadi aktivis NGO.

 

Continue Reading
Tags: prosaprosa sastrasastraTaufan Hunneman
Previous Post

Cara Bikin Konten Cepat Viral di Wefluence

Next Post

Minahasa 1950

Redaksi

Redaksi

Related Posts

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

by Redaksi
11 Maret 2026
0

Kabar5News – Ketua Forum Bersama Bhinneka Tunggal Ika, Taufan Hunneman kambali menelurkan prosa terbarunya. Kali ini prosa Taufan berjudul “Kenangan...

Ilustrasi Opa Untu yang bersedih karena kehilangan anaknya (Foto: Microsoft Copilot)

Minahasa 1950

by Redaksi
11 Maret 2026
0

Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman Kabar5News - Hari itu, Tomohon sepi dan panas benderang tidak seperti biasanya. Opa Untu...

Merayakan Hari Musik Nasional; Ini Waktunya Apresiasi!

Merayakan Hari Musik Nasional; Ini Waktunya Apresiasi!

by Kurt Morrison
10 Maret 2026
0

Kabar5News – Setiap tanggal 9 Maret, kita memperingati Hari Musik Nasional. Hari Musik Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10...

Mengenang Vidi Aldiano, Ini Deretan Lagu Hitsnya

Mengenang Vidi Aldiano, Ini Deretan Lagu Hitsnya

by Mera Puspita Sari
9 Maret 2026
0

Kabar5News - Vidi Aldiano meninggal dunia pada 7 Maret 2026 setelah lebih dari 6 tahun berjuang ganasnya kanker ginjal. Kepergiannya...

Bagaimana Bahasa Arab Memperkaya Khazanah Kata Indonesia

Bagaimana Bahasa Arab Memperkaya Khazanah Kata Indonesia

by Kurt Morrison
8 Maret 2026
0

Kabar5News - Pernahkah Anda menyadari bahwa saat kita sedang berdiskusi tentang politik, membahas masalah hukum, atau sekadar kalimat sehari-hari, kita sebenarnya sedang...

Next Post
Ilustrasi Opa Untu yang bersedih karena kehilangan anaknya (Foto: Microsoft Copilot)

Minahasa 1950

Memahami Apa Itu Kondisi Siaga 1 dalam Dunia Militer

Memahami Apa Itu Kondisi Siaga 1 dalam Dunia Militer

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Asal-Usul Tradisi Mudik di Indonesia

Asal-Usul Tradisi Mudik di Indonesia

11 Maret 2026
Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

11 Maret 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prompt Gemini Foto Pakai Jas Hitam dan Pegang Bunga Mawar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In