Sebuah karya sastra Taufan Hunneman
Kabar5News – Aku adalah anjing kurap
Yang menyaksikan kemunafikan hidup.
Suara lantang hanya untuk posisi,
Suara perlawanan hanyalah bagian dari bargaining semata.
Aku adalah anjing kurap
Yang menggaruk tubuhku
Dalam kenajisanku,
Masih ada nurani keberpihakan.
Seribu tawaran kutolak.
Kalau harus menjadi anjing penjaga gedung,
Lebih baik aku menjadi anjing liar
Yang sekali menggonggong dan terus menggaruk.
Ayat-ayat bagiku
Adalah hidup,
Bukan nyanyian suara lima tahunan.
Citraku bukan promosi,
Tapi memang hidupku bersama sampah,
Orang-orang yang mengais sampah sekadar untuk hidup,
Bertahan dari keganasan sistem.
Bagiku, guyub, kebersamaan, dan solidaritas
Hanya dimiliki kaum bawah,
Kaum yang masih melihat bahwa hidup
Bukan sekadar makan, uang, dan kuasa,
Tetapi hidup yang harus dipertahankan agar tidak mati.
Ketika aku pincang,
Kunikmati kaki pincangku.
Sengaja aku berjinjit,
Berjalan sebagai lelucon hidup.
Sesungguhnya kakiku lelah,
Urat-urat nadiku menahan beban yang menumpuk,
Menahan laju pembunuhan nurani.
Setiap hari masih kujaga nurani ini
Agar aku tidak larut
Dalam pesta bancakan uang rakyat.
Aku tidak suka bercinta.
Aku suka menyepi:
Buku, musik,
Bagian dari spiritual jiwa
Yang terus menenggelamkan kisahnya,
Identik dengan kisahku.
Aku harus berada
Dalam perbatasan kekuasaan.
Bagiku, berkuasa adalah kesempatan,
Bukan lagi berkata-kata,
Melainkan mewujudkan mimpi
Yang dulu pernah kita suarakan.
Dari kejauhan
Kudengar pidatonya,
Masih sama seperti saat muda belia.
Aku mengerti, ia ingin meneruskan
Perjuangan moyangnya.
Perang Diponegoro telah menjadi momentum
Kebangkitan nasional.
Spirit itulah yang masih ia simpan
Dalam bara semangat
Untuk mengubah nasib kaumnya.
Kemeja coklat,
Peci hitam,
Pidatonya menggelegar.
Anak-anak miskin
Yang belajar dengan perut lapar diberi makan.
Sumber daya alam yang dirampas dengan cepat
Direbut kembali.
Dokter-dokter dicetak
Agar bisa memenuhi kebutuhan di daerah.
Bukan lagi kata-kata,
Tapi tindakan.
Aku menyaksikan
Dia yang terbuang,
Dengan sungguh hati
Memberikan diri bagi rakyatnya.
Berat, sungguh berat.
Masih banyak belatung nangka,
Masih banyak para bunglon
Yang mencoba berganti rupa,
Dan masih banyak maling
Yang berpakaian malaikat.
Sejatinya, hidup adalah memberi yang terbaik.
Aku adalah anjing kurap,
Mencari makan dengan sumber yang halal.
Sekalipun aku di pinggir,
Namun jiwaku,
Suaranya,
Serta perbuatannya
Membuat aku terkesima.
Anjing kurap
Menari-nari,
Kemenangan rakyat
Memilih pemimpin yang tepat.












