Kabar5News – Baru-baru ini sebuah jurnal ilmiah terkemuka, Nature, merilis penemuan arkeologi spektakuler kembali menempatkan Indonesia di peta sejarah dunia. Para peneliti berhasil mengidentifikasi sebuah lukisan gua di Liang Metanduno, Sulawesi, sebagai salah satu karya seni lukis tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Penemuan ini tidak hanya memecahkan rekor usia karya seni, tetapi juga mengubah paradigma global mengenai asal-usul kemampuan kognitif dan narasi visual manusia purba.
Penelitian yang dilakukan oleh tim kolaborasi internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University ini menggunakan teknik penanggalan mutakhir yang disebut U-series ablation. Teknik ini mampu menghitung usia lapisan kristal kalsium karbonat tipis yang terbentuk di atas pigmen lukisan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.
Hasilnya mencengangkan. Lukisan yang menggambarkan sosok serupa manusia (antropomorfik) yang tengah berinteraksi dengan seekor babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) tersebut diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun. Angka ini melampaui rekor lukisan gua sebelumnya yang ditemukan di Leang Karampuang (sekitar 45.500 tahun) dan lukisan figuratif di Eropa yang jauh lebih muda.
Apa yang membuat temuan di Liang Metanduno ini begitu istimewa bukan sekadar usianya, melainkan kontennya. Lukisan tersebut bukan sekadar coretan tanpa makna, melainkan sebuah seni naratif.
Penemuan ini mematahkan teori lama yang menyebutkan bahwa seni naratif pertama kali muncul di Eropa. Sebaliknya, wilayah Wallacea, khususnya Sulawesi, terbukti telah menjadi pusat kebudayaan dan kreativitas yang sangat maju jauh sebelum manusia modern mencapai daratan lain.
Penemuan di Liang Metanduno memberikan beberapa poin penting bagi pemahaman sejarah kita:
• Evolusi Kognitif: Membuktikan bahwa manusia purba memiliki kapasitas otak untuk berpikir simbolis dan abstrak lebih awal dari yang diperkirakan.
• Keanekaragaman Hayati: Lukisan babi kutil menunjukkan kedekatan hubungan antara manusia purba dengan fauna endemik Sulawesi sejak puluhan ribu tahun lalu.
• Identitas Nasional: Menegaskan posisi Indonesia sebagai wilayah kunci dalam migrasi dan perkembangan manusia modern (Homo sapiens).
Upaya Konservasi
Mengingat pentingnya temuan ini, para ahli mendesak adanya upaya konservasi yang lebih masif. Ancaman dari perubahan iklim, pengelupasan dinding gua akibat kelembapan, hingga aktivitas pertambangan di sekitar kawasan karst menjadi tantangan nyata yang dapat melenyapkan harta karun sejarah ini dalam waktu singkat.
Pemerintah melalui kementerian terkait diharapkan segera mendaftarkan situs Liang Metanduno sebagai Warisan Dunia UNESCO guna memastikan perlindungan hukum dan teknis yang maksimal. Penemuan ini adalah pengingat bahwa di balik kegelapan gua-gua di Sulawesi, tersimpan identitas kita sebagai spesies yang gemar bercerita dan menciptakan keindahan.












