Kabar5News – Tanggal 6 Agustus diperingati sebagai hari dijatuhkannya Bom Atom di kota Hiroshima, Jepang. Peristiwa 80 tahun silam menyimpan duka mendalam sekaligus menjadi catatan sejarah kelam bagi warga Jepang.
Jika menilik pada catatan sejarah, peristiwa bom atom Hiroshima tak akan terjadi, seandainya Jepang tidak menginvasi Amerika lebih dulu.
Sekitar kurang lebih 300 pesawat tempur Jepang terbang untuk menyerang pangkalan utama angkatan laut Amerika di Hawai pada 7 Desember 1941.
Dengan slogan “Tidak Takut Mati” atau disebut “Kamikaze”, para pilot pesawat tempur pun, menabrakkan pesawatnya langsung pada objek yang ditarget.
Setelah Pearl Harbour hancur, Amerika Serikat bersiasat dan merencanakan untuk membalas serangan lebih dahsyat.
Bom dengan berdaya ledak setara dengan 15.000 TNT meluluh lantahkan Hiroshima, hingga menewaskan sekitar 140.000 orang dari sekitar 350.000 jiwa penduduk Hiroshima saat itu.
Letupan bom tersebut tak hanya menghancurkan gedung, jalan bahkan sampai ribuan orang lainnya meninggal, karena efek dari radiasi bom atom.
Bom yang dijatuhkan di Hiroshima, menurut sumber dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC), tragedi yang terjadi dan dilihat langsung warga setempat adalah “Bola Ap Besar”
Diperkirakan suhu panas hasil ledakannya mencapai 7.000 derajat celsius dan saking panasnya menyebabkan luka bakar yang sangat fatal dalam jangkauan radius 3 kilometer.
Tidak hanya menghancurkan gedung-gedung dan bangunan lainnya, namun gelombang hasil ledakannya mencapai radius 3 kilometer, suhu panas yang dihasilkan diperkirakan 7000 derajat Celcius hingga menyebabkan luka bakar serius dan juga cacat permanen.
Tragedi yang terjadi membuka mata Kaisar Jepang Hirohito kemudian mengumumkan, negaranya menyerah tanpa syarat dalam Perang Dunia II melalui pidato radio pada 15 Agustus 1945.
Ini pula yang kemudian membuka pintu kemerdekaan bagi Indonesia, ditandai dengan pembacaan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945, oleh Soekarno.
Selanjutnya, secara resmi pada 2 September 1945, Jepang mengakui kekalahannya karena mereka sadar, tidak akan bisa menang dari Amerika Serikat dan kalah dari segala sisi.
Kini, 80 tahun berlalu dari peristiwa mengerikan itu. Namun, penderitaan, kesakitan, diskriminasi, juga stigmatisasi masih menghantui para “Hibakusha”, para penyintas korban bom atom Hiroshima.
Rasa frustrasi bahkan depresi pun terus melandai Hibakusha, karena hingga mereka lansia belum melihat dunia bebas dari senjata nuklir.