Kabar5News – Tanggal 2 November di tahun 2023 merupakan penayangan perdana (premier) film serial “Gadis Kretek” di Netflix. Serial itu berhasil mencuri perhatian publik dari segi kualitas film, maupun jalan ceritanya, dan tentu saja kualitas para pemerannya.
Gadis Kretek menceritakan perjalanan seorang putra pemilik perusahaan rokok besar bernama Lebas di tahun 2001 yang mencari seorang perempuan bernama Jeng Yah, cinta masa lalu ayahnya. Pencarian ini mengungkap rahasia kelam industri kretek dan romansa tragis antara Dasiyah/Jeng Yah , seorang peracik saus kretek visioner, dengan Soeraja ayah Lebas, di tahun 1960-an, di tengah gejolak politik dan diskriminasi gender.
Serial Gadis Kretek secara luas diakui sebagai salah satu produksi serial Indonesia terbaik dengan kualitas internasional yang pernah dirilis Netflix. Keunggulan utamanya terletak pada visual, sinematografi, dan latar otentik.
Diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala, sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah berhasil menciptakan suasana Kudus dan Jawa di era 1960-an dan awal 2000-an dengan sangat otentik dan memukau. Transisi antara dua lini masa (masa lalu yang bernuansa hangat, sepia-toned dan masa kini yang lebih tajam) dieksekusi dengan mulus, sering kali menggunakan objek atau gerakan karakter sebagai jembatan. Detail kecil, mulai dari pabrik kretek, kostum, hingga dialek bahasa Jawa, terasa detail dan mendukung kedalaman cerita.
Meskipun disajikan dalam format film serial pendek (hanya 5 episode), Gadis Kretek berhasil memadukan cerita romansa, sejarah kelam politik tahun 1965, persaingan bisnis dan isu kesetaraan gender dengan sangat apik.
Tidak hanya menyajikan kisah cinta yang mengharukan antara Jeng Yah dan Soeraja, tetapi juga menjadi kritik sosial terhadap peran perempuan dalam ranah patriarki. Jeng Yah digambarkan sebagai sosok perempuan yang berani melawan dogma bahwa “perempuan tidak boleh masuk ke ruang saus” (peracikan kretek) karena akan merusak rasa, sebuah mitos yang merepresentasikan diskriminasi dalam dunia kerja.
Para aktor, terutama di lini masa 1960-an, memberikan penampilan yang memukau. Dian Sastrowardoyo bersinar sebagai Dasiyah/Jeng Yah, memerankan seorang wanita yang teguh, visioner, dan memiliki kedalaman emosional yang besar dalam menyampaikan penderitaan dan ketidakadilan yang ia rasakan.
Di sisi lain, Ario Bayu berhasil menyeimbangkan karisma dan kepolosan sebagai Soeraja muda. Chemistry antara Dian Sastro dan Ario Bayu terasa kuat dan tragis, menjadi inti emosional dari serial ini.
Sebagai serial yang diadaptasi dari novel, beberapa penonton mungkin merasa bahwa pengembangan cerita di era 2001 (pencarian Lebas) sedikit kurang mendalam dibandingkan dengan intensitas kisah Jeng Yah di masa lalu. Namun, kekurangan kecil ini tidak mengurangi pengalaman menonton secara keseluruhan, karena inti dari drama ini adalah rahasia masa lalu yang berhasil diungkap secara memuaskan.
Secara keseluruhan, Gadis Kretek adalah sebuah tontonan yang bukan hanya memanjakan mata dengan kualitas visual sinematik, tetapi juga menyajikan drama historis romantis yang mengharukan dan meninggalkan kesan mendalam.












