Kabar5News – Lebaran selalu menyisakan dua sisi mata uang: kebahagiaan berkumpul di kampung halaman dan realita paska mudik di ibu kota.
Jika hari ini kita mengeluhkan kemacetan dan kepadatan Jakarta, mari menilik kembali ke era 1980-an akhir hingga awal 1990-an, tepatnya saat Wiyogo Atmodarminto menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta (1987-1992).
Pada masa itu, Jakarta sedang bersolek menjadi kota metropolitan modern dengan slogan BMW (Bersih, Manusiawi, Berwibawa). Namun, di balik gedung-gedung tinggi yang mulai menjulang, terselip persoalan klasik yang mencapai puncaknya setiap kali arus balik Lebaran tiba, yakni ledakan jumlah pendatang baru.
Era Wiyogo mencatat tantangan besar dalam mengendalikan urbanisasi. Bagi masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga pelosok Sumatra, Jakarta kala itu adalah “Tanah Harapan”. Arus balik tak sekadar kepulangan warga Jakarta dari kampung, mereka kerap membawa sanak saudara untuk mengadu nasib.
Statistik kala itu menunjukkan bahwa setiap satu pemudik yang kembali ke Jakarta, rata-rata membawa satu hingga dua orang baru. Motivasi mereka seragam; mencari kerja di sektor informal, mulai dari kuli bangunan, pembantu rumah tangga, hingga pedagang asongan.
Dampak Sosial dan Tata Kota
Masalah yang muncul paska-mudik di era tersebut tidak hanya soal administratif. Lonjakan pendatang memicu menjamurnya pemukiman kumuh (slums) di pinggiran rel kereta api dan bantaran sungai.
Hal ini menjadi dilema bagi Wiyogo yang di satu sisi ia ingin membangun kota yang bersih, namun di sisi lain kebutuhan akan tenaga kerja murah untuk pembangunan Jakarta sangatlah tinggi.
Wiyogo Atmodarminto, yang berlatar belakang militer, dikenal dengan pendekatannya yang disiplin namun berusaha tetap “Manusiawi”. Masalah paska mudik di eranya ditangani dengan kebijakan yang cukup ketat, seperti:
– Operasi Yustisi (Kependudukan)
Pemeriksaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dilakukan secara intensif di terminal-terminal besar seperti Pulogadung dan Cililitan. Mereka yang tidak memiliki jaminan tempat tinggal atau keahlian khusus seringkali terjaring dan dipulangkan.
– Penataan Sektor Informal
Paska-lebaran, Jakarta biasanya dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) baru. Wiyogo sangat disiplin dalam menjaga trotoar dan taman kota agar tetap sesuai dengan fungsi estetika “BMW”.
Fenomena pendatang paska lebaran ini seringkali berakhir pada kekecewaan. Banyak pendatang yang akhirnya hanya menambah angka pengangguran atau menjadi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) karena minimnya keterampilan.










