Kabar5News – Bagi para sejarawan dan arkeolog, merekonstruksi wajah Pulau Jawa pada masa pra-Islam sering kali terasa seperti menyusun kepingan teka-teki yang hilang. Namun, terdapat satu naskah kuno yang menjadi kunci untuk memahami topografi, budaya, dan spiritualitas Nusantara pada abad ke-15, yakni melalui naskah Bujangga Manik.
Bujangga Manik adalah seorang pangeran dari istana Pakuan, bernama asli Perebu Jaka Pakuan (atau Prabu Jaya Pakuan). Alih-alih tinggal di keraton layaknya seorang bangsawan, ia malah pergi meninggalkan istana dan memilih jalan hidup sebagai seorang resi atau peziarah Hindu.
Ia melakukan dua kali perjalanan luar biasa mengelilingi Pulau Jawa hingga ke Bali. Pengalamannya ini dicatat dalam bentuk puisi naratif (mantra) di atas daun nipah, yang kini tersimpan rapi di Perpustakaan Bodleian, Oxford, sejak tahun 1627.
Yang membuat catatan ini sangat istimewa adalah ketelitiannya dalam menyebutkan nama tempat. Bujangga Manik mencatat lebih dari 450 nama geografis, mulai dari gunung, sungai, desa, hingga pelabuhan. Dalam perjalanannya, ia mendeskripsikan rute-rute darat yang menghubungkan wilayah barat hingga timur Jawa.
Ia menyebutkan tempat-tempat yang hingga kini masih kita kenal, seperti:
• Puncak dan Ci Punegara di Jawa Barat.
• Gunung Slamet (yang ia sebut Gunung Agung).
• Kidung (Kediri) dan wilayah kekuasaan Majapahit.
• Barëbës (Brebes).
• Pamalang (Pemalang)
Catatan ini membuktikan bahwa pada abad ke-15, Pulau Jawa sudah memiliki jaringan infrastruktur jalan yang cukup maju untuk memfasilitasi perjalanan jarak jauh bagi para peziarah dan pedagang.
Selain geografi, naskah ini memberikan gambaran tentang toleransi dan struktur sosial masa itu. Meskipun berasal dari Sunda, Bujangga Manik disambut dengan baik di wilayah-wilayah Jawa Tengah dan Timur yang saat itu berada di bawah pengaruh Majapahit.
Ia menggambarkan kehidupan di pusat-pusat keagamaan dan bagaimana tata krama seorang bangsawan sekaligus pendeta dijunjung tinggi. Tulisan ini juga memberikan bukti bahasa Sunda Kuno yang masih murni, sebelum mendapat banyak pengaruh dari bahasa Jawa Mataram maupun bahasa Arab.
Tanpa naskah Bujangga Manik, kita mungkin tidak akan pernah tahu nama-nama asli dari pegunungan atau distrik-distrik kecil yang kini telah berubah nama atau hilang tertimbun waktu.
Naskah ini adalah saksi bisu transisi zaman, tepat sebelum pengaruh Islam meluas secara masif di pedalaman Jawa dan mengubah lanskap sosial-politiknya secara permanen. Boleh jadi, pada masa sekarang, Bujangga Manik bukan sekadar tokoh sastra, melainkan “jurnalis travel” pertama di Nusantara yang mewariskan peta lanskap dan gambaran secara naratif kebudayaan zaman itu.












