Kabar5News – Trail running bukan sekedar lari, ini adalah perpaduan menantang antara olahraga lari ketahanan dan menjelajahi keindahan alam liar. Dengan popularitas yang terus menanjak di Indonesia, event-event lari lintas alam, terutama di area pegunungan, selalu menarik ribuan peserta.
Namun, tragedi yang baru-baru ini terjadi pada event Siksorogo Lawu Ultra di Gunung Lawu, di mana dua pelari dikabarkan meninggal dunia akibat dugaan serangan jantung, menjadi pengingat pahit bahwa olahraga ekstrem ini menuntut persiapan fisik dan mental yang sangat serius.
Untuk menaklukkan medan yang menantang dengan aman, setiap pelari harus memahami esensi olahraga ini, perbedaannya dengan aktivitas alam lainnya seperti mendaki gunung (Hiking), dan yang paling penting, persiapan yang tidak boleh diabaikan.
Trail Run vs. Hiking
Meski sama-sama dilakukan di jalur alam (trail), trail running dan hiking memiliki perbedaan mendasar, terutama pada tujuan dan kecepatan.
- Hiking:Tujuannya adalah mencapai lokasi tertentu (seperti puncak gunung) dengan ritme berjalan kaki yang stabil dan seringkali membawa beban yang lebih berat untuk perjalanan multi-hari. Fokus utamanya adalah eksplorasi, menikmati pemandangan, dan ketahanan dalam berjalan.
- Trail Running:Tujuannya adalah berlari secepat mungkindi jalur alam dengan target waktu tertentu, terutama saat mengikuti kompetisi. Aktivitas ini menuntut kecepatan, daya tahan, dan ketangkasan tinggi untuk melompati akar, batu, dan melintasi tanjakan/turunan curam. Pelari membawa perlengkapan seminimal mungkin demi keringanan.
Untuk perlengkapan kunci, yakni sepatu; sepatu trail running didesain lebih ringan, fleksibel, dengan grip (sol bergerigi) yang tajam untuk cengkeraman maksimal saat berlari cepat di tanah atau lumpur.
Sementara sepatu hiking atau trekking umumnya lebih kokoh, solnya lebih tebal dan keras, serta seringkali berpotongan mid-cut atau high-cut untuk perlindungan pergelangan kaki yang lebih optimal saat membawa beban berat.
Persiapan Wajib untuk Keamanan
Insiden meninggalnya dua peserta di Lawu Ultra yang diduga karena serangan jantung—bahkan pada kategori jarak yang relatif pendek (15K) menjadi alarm keras bagi komunitas lari. Kondisi medan yang ekstrem, elevasi, dan cuaca (seperti hujan lebat yang dilaporkan terjadi) dapat memicu stres fisik yang fatal jika pelari tidak siap.
Berikut adalah tiga pilar persiapan yang harus diprioritaskan untuk menghindari musibah:
1. Kesiapan Fisik dan Kesehatan Jantung (Medical Check-up)
Ini adalah langkah paling krusial. Jangan pernah mengandalkan rasa “sehat” saja.
• Wajib Surat Keterangan Sehat: Setiap pelari harus melalui pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum mendaftar, terutama jika akan mengikuti kategori ultra (jarak jauh dan elevasi tinggi).
• Pemeriksaan Jantung: Lakukan EKG atau tes jantung lain yang direkomendasikan dokter, terutama bagi peserta berusia di atas 40 tahun atau yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Olahraga ekstrem seperti trail run dapat memicu kondisi jantung yang sudah ada.
2. Latihan Spesifik dan Adaptasi Medan
Lari di jalan raya berbeda dengan lari di alam.
• Latihan Elevasi:Rutinlah melakukan hill repeats(latihan tanjakan) dan latihan lari teknikal di jalur tidak rata. Pelajari cara menggunakan langkah pendek saat menanjak dan menjaga keseimbangan saat menuruni bukit yang curam.
• Latihan Kekuatan (Strength Training): Perkuat otot inti (core), kaki, dan sendi pergelangan kaki melalui squat, lunges, dan plank. Kekuatan otot yang baik adalah kunci untuk mencegah cedera dan menjaga postur tubuh saat berlari di medan teknis.
3. Perlengkapan dan Manajemen Energi (Hydrasi & Nutrisi)
• Perlengkapan Mandatory: Pastikan membawa perlengkapan wajib lomba (headlamp, peluit, emergency blanket, hydration vest/soft flask, first aid kit). Perlengkapan ini sering kali menjadi penentu keselamatan di kondisi darurat.
• Nutrisi dan Hidrasi: Jangan pernah meremehkan asupan energi. Bawa cukup perbekalan manis (energy bar, gel, cokelat) untuk menjaga kadar gula. Konsumsi cairan dan elektrolit secara teratur; dehidrasi dapat memperburuk kelelahan dan memicu kram.
• Dengarkan Tubuh: Pahami batas kemampuan. Jika muncul rasa pusing, nyeri dada, atau kelelahan ekstrem, jangan memaksakan diri. Lebih baik berhenti dan kembali turun atau berjalan kaki, daripada mengambil risiko fatal.












