Kabar5News – Masa libur Idul Fitri di era 90-an terasa sangat spesial. Bagi generasi yang tumbuh di masa itu, momen kemenangan ini memiliki “tradisi” yang khas di depan layar televisi dan bioskop.
Sebelum gempuran streaming service dan media sosial merajai perhatian seperti saat ini, televisi adalah pusat gravitasi keluarga. Di tengah aroma opor yang masih semerbak dan suasana silaturahmi yang masih kental, tawa renyah pecah berkat kehadiran grup-grup lawak legendaris yang menghiasi program spesial Lebaran.
Mari melintas sejenak ke masa lalu, saat komedi bergaya sitkom dan banyolan khas grup lawak menjadi menu wajib yang dinanti-nanti.
Era 90-an adalah masa keemasan bagi grup lawak dengan karakter yang kuat. Salah satu yang paling ikonik tentu saja Jayakarta Group. Siapa yang bisa lupa dengan sosok Jojon? Celana gantung di atas pinggang, kumis ala Charlie Chaplin, dan mimik wajah “teraniaya” yang justru memancing tawa. Kehadirannya bersama Cahyono dan kawan-kawan selalu memberikan komedi yang lugu namun mengena di hati pemirsa saat kumpul keluarga.

Tak kalah meriah, Srimulat membawa nuansa komedi tradisional ke level nasional. Dengan gaya slapstick yang terukur dan karakter yang beragam, mulai dari pelayan yang cerdik hingga majikan yang angkuh.
Srimulat berhasil menyatukan tawa dari berbagai lapisan sosial. Menonton mereka saat Lebaran terasa seperti melihat perjamuan besar penuh kejutan yang tak terduga.

Komedia Berbalut Kecerdasan
Jika ingin komedi yang lebih tajam dan modern pada masanya, Bagito adalah jawaranya. Grup yang digawangi Miing, Didin, dan Unang ini seringkali membawakan sketsa yang menyentil fenomena sosial lewat gaya sitkom yang dinamis.

Namun, bicara soal Lebaran tak lengkap tanpa menyebut Warkop DKI. Film-film Warkop DKI selalu tayang di bioskop saat masa libur lebaran. Mereka membawa nuansa libur lebaran menjadi lebih hidup. Kehadiran mereka seolah menjadi tanda sah bahwa hari raya telah tiba.

Mengapa Begitu Berkesan?
Berbeda dengan komedi masa kini yang sering kali mengandalkan spontanitas tanpa naskah atau sekadar ejekan fisik, lawakan era 90-an dibangun di atas kedekatan emosional. Ada narasi dan ada karakter yang dijaga konsistensinya.
Tanyangan komedi saat libur lebaran menjadi “lem” yang merekatkan anggota keluarga. Dari kakek hingga cucu, semuanya duduk melingkar di depan televisi, ataupun pergi berbondong ke bioskop, menertawakan hal yang sama. Komedi mereka melintasi batas usia, menjadikannya kenangan yang sulit terhapus oleh waktu.
Meski zaman telah berganti dan teknologi semakin canggih, memori tentang banyolan Jojon atau kekonyolan Dono di hari raya tetap menjadi kenangan yang menyenangkan.
Nostalgia yang bukan sekadar rindu pada acaranya, tapi rindu pada hangatnya kebersamaan di hari yang fitri.
Apakah Anda punya momen favorit saat menonton grup lawak itu di masa kecil?











