Kabar5News – Setiap kali Ramadan, ada satu istilah yang mendadak bergema di seluruh pelosok nusantara; Ngabuburit. Dari gang-gang sempit di pinggiran kota hingga pusat perbelanjaan mewah, kata ini menjadi “mantra” bagi jutaan umat Muslim untuk menandai momen paling dinanti di bulan suci, yakni menunggu waktu berbuka puasa.
Namun, tahukah Anda bahwa istilah yang kini masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini memiliki akar sejarah dan filosofi mendalam dari tanah Sunda?
Secara linguistik, ngabuburit merupakan kata turunan dari bahasa Sunda. Kata dasarnya adalah “burit”, yang berarti waktu sore hari, yakni saat matahari mulai terbenam hingga menjelang waktu Magrib.
Dalam tata bahasa Sunda, imbuhan nga- dan pengulangan suku kata awal (reduplikasi) membentuk kata kerja yang berarti melakukan kegiatan menunggu waktu sore. Jadi, secara harfiah, ngabuburit adalah sebuah aktivitas untuk mengisi waktu atau sekadar “bersantai” sembari menanti datangnya waktu berbuka.
Transformasi Dari Pesantren ke Gaya Hidup Urban
Dahulu, tradisi ngabuburit di Jawa Barat identik dengan kegiatan religius atau permainan tradisional anak-anak. Di lingkungan pesantren, para santri biasanya mengisi waktu sore dengan mengaji, mendaras kitab kuning, atau mendengarkan ceramah singkat.
Sementara di pedesaan, anak-anak akan bermain bebeledogan (meriam bambu) atau sekadar jalan-jalan di pematang sawah.
Seiring berjalannya waktu dan pesatnya arus urbanisasi serta pengaruh media massa di tahun 1990-an, istilah ini mulai “merantau” keluar dari Jawa Barat. Jakarta, sebagai melting pot kebudayaan, menyerap istilah ini dan mempopulerkannya melalui tayangan televisi dan radio. Kini, ngabuburit tidak lagi hanya milik orang Sunda, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.
Saat ini, ngabuburit telah bertransformasi menjadi fenomena sosial dan ekonomi yang masif. Aktivitasnya pun kian beragam, yaitu :
- Berburu Takjil. Ini adalah “olahraga” nasional di bulan Ramadan. Jalanan akan dipenuhi pedagang dadakan yang menjajakan kolak, gorengan, hingga beragam es buah.
- Komunitas dan Hobi. Banyak komunitas motor, sepeda, atau fotografi yang memanfaatkan waktu sore untuk berkumpul dan menyalurkan hobi.
- Ngabuburit Digital. Di era gadget, banyak orang memilih ngabuburit dengan menonton streaming film, bermain game online, atau sekadar scrolling di media sosial.
- Kegiatan Sosial. Banyak pula kelompok masyarakat yang mengisi ngabuburit dengan membagikan makanan berbuka (takjil gratis) kepada pengguna jalan atau kaum duafa.
Meski identik dengan jalan-jalan dan bersenang-senang, esensi sejati dari ngabuburit adalah kebersamaan dan kesabaran. Ini adalah momen di mana masyarakat melepaskan sejenak kepenatan rutinitas pekerjaan untuk menikmati transisi waktu dengan penuh rasa syukur.
Ngabuburit membuktikan betapa kayanya budaya Indonesia. Sebuah istilah lokal bisa menjadi pengikat identitas nasional yang melintasi batas suku dan agama.
Jadi, ke mana rencana ngabuburit Anda sore ini?










