Kabar5News – Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.
Bencana yang menyebabkan ratusan korban jiwa, ratusan lainnya masih hilang, serta kerusakan infrastruktur secara masif tersebut mendorong pengerahan besar-besaran kekuatan negara untuk mempercepat evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan wilayah terdampak.
Dalam perspektif ketahanan nasional, bencana alam bukan sekadar musibah, tetapi juga ancaman non-tradisional yang dapat mengganggu stabilitas negara. Dalam kajian yang ditulis oleh Rudi Purwanto, S.E., M.Hum., M.Sc.IPE, M.Tr.Opsla, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Universitas Brawijaya, ditegaskan bahwa kehadiran negara melalui kekuatan pertahanan menjadi elemen krusial dalam merespons krisis kemanusiaan. Ia menyatakan:
“Dalam situasi kritis seperti ini, negara hadir melalui instrumennya yang paling tangguh: Tentara Nasional Indonesia (TNI).”
Kehadiran tersebut mencerminkan peran negara dalam melindungi rakyat dan menjaga ketahanan nasional di tengah situasi darurat, di mana kemampuan militer tidak hanya digunakan untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga untuk menyelamatkan masyarakat.
Puluhan Ribu Personel Dikerahkan untuk Operasi Kemanusiaan
TNI bergerak cepat dengan mengerahkan lebih dari 30.000 personel bersama berbagai alutsista strategis. Keterlibatan TNI mencakup seluruh tahapan penanganan bencana, mulai dari evakuasi korban, distribusi bantuan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa keterlibatan TNI akan terus berlanjut hingga tahap pemulihan.
“Akan ada penambahan personel dalam tahap rekonstruksi rehabilitasi dari batalion TNI Zeni dan tenaga kesehatan, yang akan membantu pemasangan jembatan bailey, pembuatan hunian sementara dan hunian tetap, pembersihan lumpur dan kayu, normalisasi jalan, dan melanjutkan distribusi logistik,” ujar Panglima TNI.
Distribusi bantuan logistik yang dilakukan TNI juga menunjukkan skala operasi yang sangat besar.
“Logistik yang sudah didistribusi sejumlah 2.428 ton melalui angkutan udara, melalui airdrop, melalui KRI, melalui kapal ADRI, dan bantuan melalui jalur darat,” lanjut Panglima TNI.
Personel TNI bertugas dalam berbagai fungsi kemanusiaan, mulai dari evakuasi korban, distribusi bantuan, pelayanan medis, hingga pemulihan infrastruktur dan pembangunan fasilitas darurat bagi masyarakat terdampak.
Alutsista Berubah Fungsi Menjadi Sarana Penyelamat
Dalam operasi kemanusiaan ini, berbagai alutsista TNI memainkan peran vital. Helikopter, pesawat angkut, kapal rumah sakit, dan kendaraan taktis menjadi tulang punggung mobilisasi bantuan dan evakuasi korban di wilayah yang sulit dijangkau.
Dalam kajiannya, Rudi Purwanto juga menyoroti transformasi fungsi alutsista dalam konteks kemanusiaan. Ia menjelaskan:
“Helikopter yang biasanya digunakan untuk patroli maritim, berubah menjadi lifeline bagi korban di daerah terpencil.”
Selain itu, TNI membangun jembatan bailey untuk membuka kembali akses wilayah yang terisolasi akibat banjir. Infrastruktur darurat ini memungkinkan distribusi bantuan berjalan lebih cepat serta membantu pemulihan aktivitas masyarakat.
Salah satu kisah penyelamatan yang menggambarkan peran vital TNI terjadi di Kabupaten Aceh Timur, ketika helikopter TNI mengevakuasi seorang ibu hamil dari wilayah terisolasi. Korban tersebut menyampaikan dengan penuh haru:
“Tanpa heli TNI, kami mungkin sudah tidak ada.”
Kesaksian ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran TNI memberikan dampak langsung dalam menyelamatkan nyawa masyarakat.
Distribusi Bantuan dan Pemulihan Infrastruktur
Selain evakuasi, TNI juga berperan penting dalam distribusi bantuan dan pemulihan wilayah terdampak. Distribusi logistik dilakukan melalui jalur udara, laut, dan darat untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara cepat dan merata.
TNI juga berperan dalam pembangunan hunian sementara, pembersihan wilayah terdampak, normalisasi jalan, serta pembangunan jembatan darurat untuk memulihkan konektivitas wilayah yang terputus akibat bencana.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa peran TNI tidak hanya terbatas pada aspek penyelamatan, tetapi juga berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Simbol Kehadiran Negara dan Harapan Masyarakat
Peran TNI dalam penanganan bencana Sumatera menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan negara juga berfungsi sebagai kekuatan kemanusiaan. Dalam kajiannya, Rudi Purwanto menegaskan bahwa:
“Alutsista TNI bukan hanya simbol kekuatan militer, tetapi juga simbol kehadiran negara yang memberi harapan di saat masyarakat menghadapi ujian berat.”
Kehadiran TNI di tengah masyarakat terdampak bencana tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan rasa aman dan harapan bagi masyarakat di tengah situasi krisis.
Dengan pengerahan puluhan ribu personel, pemanfaatan alutsista strategis, dan kemampuan operasional yang luas, TNI membuktikan perannya sebagai garda terdepan dalam melindungi masyarakat. Operasi kemanusiaan ini menjadi refleksi nyata bahwa kekuatan negara hadir sepenuhnya untuk menyelamatkan rakyat dan menjaga ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman bencana.












