Kabar5News – Ketua Forum Bersama Bhinneka Tunggal Ika, Dr Taufan Hunneman kembali merilis prosa sastra berjudul “Kiri Namanya” pada Kamis (16/10/2025) lalu.
Lagi-lagi, Taufan menulis prosa dengan tema seputar ideologi dengan kalimat yang lugas namun menggelitik pembacanya.
Tak butuh waktu lama, prosa karya mantan aktivis 98 ini berhasil mencuri perhatian. Banyak pihak yang terpancing untuk memberikan ulasan pada prosa tersebut.
Deretan pujian terhadap prosa itu mengalir mulai dari akademisi, novelis hingga sesama rekan mantan aktivis 98.
Dan berikut adalah sejumlah ulasan terhadap prosa “Kiri Namanya” karya Taufan Hunneman.
1. Ulasan dari Denny JA, Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi
Pesannya kuat Ketika moral dan ekonomi runtuh bersama, tubuh menjadi mata uang terakhir manusia yang kalah oleh sistem.
Esai ini bukan sekadar kisah erotik pinggiran, tetapi potret keras bagaimana kemiskinan, seksualitas, dan kekuasaan berjalin menjadi tragedi sosial yang diwariskan lintas generasi.
2. Ulasan dari Satrio Arismunandar, Alumnus S3 Filsafat UI
Tulisan yang menarik, terutama bagi mereka yang akrab atau mendalami studi-studi “kiri”, seperti sosialisme, komunisme, new left, dan sebagainya
3. Ulasan dari Meta Sari Fischer, Novelis
Untuk kisah “Kiri” ini berani terasa kelam dan menggigit. Bang Taufan menampilkan realitas sosial tanpa topeng-tentang kemiskinan, seks dan moralitas yang tercampur dalam lingkaran nasib.
Bahasanya sedikit vulgar tapi sukses menampilkan sifat manusia yang rapuh serta oportunis dengan detail yang hidup dan relate dengan kehidupan sehari-hari.
Meski kasar dipermukaan, tersimpan kritik tajam terhadap ketimpangan dan kemunafikan sosial. Ini karya yang keras, realistik dan memikat karena kejujurannya. Namanya by the way semuanya terasa “Kiri” sekali.
4. Ulasan dari Anton Aritonang, mantan Aktivis 98
Perjuangan dari mereka yang tertindas secara ekonomi ,ketidakpastian masa depan sedikit mendapat “kecerahan” (walau dengan cara beda).
Sedikit kecerahan yang didapat disalahgunakan ,dalam bahasa politik dendam kemiskinan, pelajaran bagi semua bahwa hidup yang menentukan Tuhan ,seperti roda berjalan.
Tuhan sudah menentukan kompas hidup manusia , manusia cuma bisa berupaya ,berdoa dan bersyukur apapun kehidupan strata ekonomi manusia.












