Kabar5News –Dr. Taufan Hunneman kembali menelurkan prosa sastranya di Kabar5News. Kali ini prosa karya Taufan berjudul “Cerita Cinta Satu Zaman”
Prosa tersebut dirilis pada Senin (24/11/2025) dan bercerita tentang kisah percintaan antara Jhon dan Angeli, dengan latar belakang Indonesia di era 1950-1960an.
Yang menarik, prosa itu turut mengaitkan drama percintaan dengan sejumlah peristiwa politik di era tersebut, yakni Permesta dan G30S/PKI.
Prosa sastra ini menambah panjang daftar karya serupa Taufan Hunneman. Diantaranya yang berjudul Berdamai Dengan Mentari, Hari-hari Esok Bukanlah Milik Kita dan Aksi Massa Diam.
Tak butuh waktu lama, prosa “Cerita Cinta Satu Zaman” langsung mencuri perhatian banyak pihak, mulai dari novelis, akademisi, aktivis hingga praktisi hukum.
Pelopor Puisi Essai Mengulas Karya Taufan Hunneman
Pelopor puisi essai yang dimaksud adalah Denny JA. Dalam pandangannya, ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ adalah prosa yang memiliki seumlah kekuatan sebagai romah sejarah.
Cerita cinta yang tersaji di dalamnya memuat tragedi yang dilatari perbedaan pandangan politik antara Angeli yang datang dari keluarga pro komunis dan Jhon yang menentang komunisme.
Menurut Denny JA, cerita dalam pros aini sekaligus menjadi kritik pada Partai Komunis Indonesia (PKI) dan permainan politik era 50-60an.

“Lebih dari itu, prosa ini juga menyuarakan narasi diaspora Indo—sebuah tema yang jarang diangkat dengan kedalaman seperti ini. Identitas, keterasingan, dan pergulatan batin sebagai bagian dari komunitas yang terpinggirkan, dituturkan dengan empati dan kepekaan yang tinggi,” ujar Denny.
Atas dasar itulah, ia menilai pros aini sangat layak untuk dikembangkan menjadi sebuah novel. Lebih dari itu, lanjutnya, ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ juga pantas untuk diangka ke layer lebar.
“Visualisasi latar dan emosi tokoh-tokohnya sangat sinematik. Saya bisa membayangkan bagaimana cerita ini akan tampil memukau di layar lebar sebagai film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan dan menggugah kesadaran sejarah,: tuturnya.
Pandangan Aktivis Buruh
Sementara itu, tokojh buruh Mudhofir Khamid, mengaku terkesan dengan cerita dalam prosa “Cerita Cinta Satu Zaman” karya Taufan Hunneman.
Dalam pandangannya, Taufan Hunneman adalah sosok yang sangat memahami dinamika Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) dan berhasil merangkainya dalam narasi yang hidup dan menyentuh.
“Kisah cinta dua insan dari latar belakang negara dan kelas sosial yang berbeda terasa begitu nyata dan menyentuh hati. Romansa mereka tidak hanya manis, tapi juga penuh tantangan, terutama saat prahara cinta datang di tengah gejolak politik yang mencekam,” papar Mudhofir.
Ia juga memandang prosa ini sangat kaya dengan latar belakang sejarah, dengan memasukkan isu-isu besar seperti eksistensi PKI dan juga Permesta.
Tak hanya sebatas latar sejarah, isu-isu tersebut turut menjadi bagian integral dari konflik yang ada dalam cerita.
Senada dengan Denny JA, Mudhofir juga menilai prosa tersebut layak dibuat versi panjang dalam bentuk novel dan juga digubah menjadi film layar lebar.
“Cerita ini sangat layak diangkat menjadi novel atau film roman sejarah. Gaya penceritaannya yang kuat dan emosional bisa menjadi sarana pembelajaran sejarah yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh generasi muda,” ungkapnya.
Praktisi Hukum Ikut Bicara
Praktisi hukum dan alumni aktivis KM Jayabaya, Jufriyadi, menjadi orang selanjutnya yang terkesima dengan prosa “Cerita Cinta Satu Zaman”.
Jufri, begitu sapaan akrabnya, mengaku sudah mengenal Taufan sebagai aktivis 1998, sejak duduk di bangku kuliah. Karena itulah, Jufri sudah tidak asing lagi untaian cerita sejarah yang diangkat dalam prosa ini, terutama dinamika sosial politik Indonesia di era orde lama dan orde baru.
“Saya mengenal Bang Taufan sebagai aktivis 1998 yang khatam dengan cerita dan pemikiran-pemikiran politik, karena itulah prosa ini menjadi menarik, tak hanya dalam cerita tapi juga latar belakang politik yang melingkupinya,” ujar Jufri.
Dalam pandangannya, cerita dalam prosa “Cerita Cinta Satu Zaman” cukup pelik namun membuat orang betah membacanya hingga akhir.
Tak hanya sekadar soal cinta dua anak manusia, lanjut Jufri, cerita yang dibangun dalam prosa ini juga memuat pesan moral, diantaranya cinta bisa menembus sekat-sekat ideologi, suku, hingga kebangsaan.
“Semoga Bang Taufan bisa melanjutkan prosa ini dalam bentuk novel dan menyebarkan rasa cinta tanah air yang mengalhakan rasa cinta kepada sosok perempuan yang menjanjikan cinta sejati,” tegas Jufri.
Novelis ikut mengulas prosa “Cerita CInta Satu Zaman”
Ada dua novelis yang angkat bicara mengenai prosa ini, yakni Meta Sari Fischer dan Bobby Revolta. Meta memandang, prosa “Cerita CInta Satu Zaman” lebih dari sekadar cerita.
Menurutnya, prosa ini memiliki nuansa novel dokumenter kuat yang memadukan romansa dan sejarah dalam satu alur yang menyentuh.
Tak hanya menekankan pada kisah cinta Jhon dan Angeli, dalam prosa, penulis juga memberikan kita informasi mengenai ideologi-ideologi besar yang pernah berkembang di dunia.
“Penulis menunjukkan bahwa komunisme bukan satu ideologi yang seragam. Generasi tua masih terikat pada pola Stalin, sementara generasi muda bergerak agresif di bawah pengaruh Mao,” kata Meta.
Ia menambahkan, euforia Nasakom tergambar jelas lewat pernikahan tokoh utama wanita, Angeli, dengan pesta megah yang sarat simbol kekuasaan, namun berakhir ironis, karena mengorbankan cinta dan pilihan pribadi.
Hal lain yang menjadi perhatian Meta, keterlibatan Jhon dalam Permesta memperlihatkan perjuangan daerah sebagai tuntutan keadilan, bukan sekadar pemberontakan, namun sebuah upaya menghadirkan Indonesia yang lebih setara dan tidak Jawa-sentris.
“Dengan riset kuat dan detail otentik dari penulis, kisah ini tidak hanya menghidupkan masa lalu, tetapi juga mengingatkan bahwa di balik gejolak politik besar selalu ada hati manusia yang terluka,” tutur Meta.
Novelis lainnya yang turut mengulas prosa “Cerita Cinta Satu Zaman” adalah Bobby Revolta. Menurutnya, prosa ini tak sekadar kisah cinta.
Melainkan juga tentang bagaimana ideologi politik, status sosial, dan realitas pragmatis mampu mengalahkan janji dan ikatan emosional yang paling tulus.
“Bagaimana romansa diuji, dibentuk, dan akhirnya diubah oleh kekuatan eksternal yang melampaui kendali mereka,” tuturnya,












