Kabar5News – Apakah kehidupan hanya dapat berawal dari air? Pertanyaan ini kembali mencuat setelah para ilmuwan NASA menemukan kemungkinan terbentuknya struktur mirip sel, atau vesikel, secara alami di danau hidrokarbon yang ada di Titan bulan terbesar Saturnus. Temuan tersebut membuka perspektif baru bahwa asal-usul kehidupan tidak hanya mungkin terjadi di Bumi, tetapi juga di dunia lain dengan kondisi yang sangat berbeda.
Titan merupakan satu satunya objek di tata surya, selain Bumi, yang memiliki cairan stabil di permukaannya. Namun, berbeda dengan Bumi yang dipenuhi air, lautan dan danau Titan justru berisi hidrokarbon cair, seperti metana dan etana. Selama ini, air dianggap sebagai elemen utama bagi lahirnya kehidupan. Kini, para astrobiolog mulai mempertanyakan:mungkinkah justru hidrokarbon mampu menjadi wadah lahirnya bentuk kehidupan baru yang belum pernah dikenal?
Sebuah penelitian NASA yang dipublikasikan di International Journal of Astrobiology menunjukkan bagaimana vesikel bisa terbentuk di lingkungan Titan. Di Bumi, vesikel lahir dari molekul bernama amfifil, yang memiliki dua sifat berlawanan: satu sisi menyukai air (hidrofilik), sementara sisi lain menolak air (hidrofobik). Dalam medium berair, molekul ini secara alami membentuk bola kecil menyerupai gelembung sabun, melindungi bagian dalamnya sebuah langkah penting menuju terbentuknya protocell atau sel primitif. Tantangan besar muncul ketika konsep ini diterapkan di Titan, yang sama sekali tidak memiliki air.
Pemahaman mengenai Titan berkembang pesat sejak kedatangan wahana Cassini pada 2004. Saat itu, terungkap bahwa bulan ini memiliki atmosfer tebal dan sistem cuaca aktif. Metana di permukaan menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, membentuk sungai, bahkan menyebabkan erosi, sebelum akhirnya kembali menguap. Proses ini menghasilkan reaksi kimia kompleks. Cahaya Matahari yang memecah metana juga membentuk molekul organik, yang diduga mirip dengan proses kimia awal pembentuk kehidupan di Bumi purba.
Dalam skenario terbaru, para peneliti mengajukan hipotesis bahwa percikan kecil dari danau hidrokarbon Titan (sea spray) dapat dilapisi molekul amfifil. Saat kembali jatuh, molekul-molekul itu menyatu membentuk membran ganda (bilayer) yang menjebak cairan di dalamnya. Jika fenomena ini berulang, jutaan vesikel bisa tersebar di permukaan Titan. Dari sinilah kemungkinan terciptanya struktur mirip protocell muncul, yang perlahan bisa menjadi cikal bakal kehidupan.
“Keberadaan vesikel di Titan akan menandai peningkatan keteraturan dan kompleksitas, dua syarat utama bagi asal-usul kehidupan,” ujar Conor Nixon, peneliti di NASA Goddard Space Flight Center.
Harapan untuk membuktikan teori ini kini bergantung pada misi Dragonfly, wahana rotorcraft NASA yang dijadwalkan menjelajahi Titan. Dragonfly akan mempelajari komposisi permukaan, atmosfer, hingga potensi keterhuniannya. Meski tidak dirancang khusus untuk mendarat di danau atau mendeteksi vesikel, misi ini diharapkan mampu memberi gambaran lebih jelas apakah Titan benar-benar dapat berperan sebagai “laboratorium alami” pembentuk kehidupan.
Jika skenario ini terbukti, maka pandangan kita tentang syarat kehidupan akan berubah. Kehidupan mungkin tidak hanya lahir dari air, melainkan juga bisa berawal dari hidrokarbon. Temuan ini tidak hanya penting bagi Titan, tetapi juga membuka kemungkinan ditemukannya kehidupan di planet atau bulan lain dengan kondisi ekstrem.