Kabar5news – Sebuah utas di media sosial X menyita perhatian publik belum lama ini. Dalam utas tersebut, berisi pemberitaan mengenai aktifitas warga di sekitar Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan.
Sungai sepanjang 120 km yang membentang dari Bogor hingga Jakarta Utara ini sering kali tercemar berat akibat limbah domestik atau industri yang melintasi pemukiman padat.
Air sungai yang umumnya berwarna cokelat ini membawa material lumpur dan limbah, tingginya tingkat pencemaran air hanya bisa bertahan oleh ikan yang tahan banting, sebut saja ikan sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang tidak memiliki predator alami, serta diduga berasal dari pelepasan liar ikan hias, menyebabkan populasinya meledak dan menguasai ekosistem.
Hal ini pula yang membuat warga sekitar sungaI Ciliwung berbondong-bondong memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai sumber penghidupan.
Ikan tersebut nantinya dijual dan dimanfaatkan sebagian orang untuk segala keperluan, dagingnya dipakai untuk pakan ayam, pakan ikan, dan sebagainya.
Selain daging, telur ikan sapu-sapu dimanfaatkan sebagai untuk umpan pancing, dijual seharga Rp5.000 per/kg.
Yang menghebohkan adalah pengakuan dari tukang somay kawasan Duren Kalibata, Jakarta Selatan yang mengaku, menjadikan daging ikan sapu-sapu sebagai salah satu bahan baku pembuatan somay.
Menurutnya, daging ikan berwarna merah agak gelap ini mirip bakso, aroma amisnya lebih kuat sehingga butuh dicampur dengan ikan lainnya.
Maman mengakui menggunakan daginga ikan sapu-sapu lebih murah dibanding ikan lainnya, selain itu tidak menimbulkan risiko berbahaya.
“Ya karena lebih murah. Terus juga kan sama-sama ikan. Enggak beracun juga,” katanya.
Fenomena ikan sapu-sapu dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pembuatan siomay memicu beragam reaksi dan perbincangan warganet hingga muncul pertanyaan penting, apakah ikan sapu-sapu aman untuk dikonsumsi?

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A.Sidabalok mengingatkan risiko serius soal bahaya residu.
Ia menegaskan, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak dapat dipastikan aman mengingat banyaknya logam berat maupun mikrobiologi dampak sungai tercemar.
“Ikan hasil tangkapan liar seperti ini tidak melalui sistem pengawasan dan keamanan mutu sehingga tidak dapat dipastikan aman dikonsumsi,” kata Hasudungan.
Hasudungan menambahkan, ikan yang hidup dari perairan yang tercemar berpotensi mengandung arsen, kadmium, timbal, dan merkuri, serta residu bahan kimia lain.
Ia menilai ikan sapu-sapu bukan solusi pencemaran, melainkan penanda sungai yang sakit.
“Dominasi ikan sapu-sapu menciptakan ekosistem dengan keanekaragaman yang rendah” katanya menambahkan.
Hasudungan mendorong agar pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak non-konsumsi atau pupuk.
“Alternatifnya bisa digunakan sebagai pakan ternak non-konsumsi atau pupuk,” ujarnya.***












