Kabar5News – Bulan Ramadan yang penuh berkah serta ampunan selalu dihiasi dengan berbagai ibadah seperti puasa, tarawih, mengaji dan lain-lain.
Saat menjalankan ibadah puasa Ramadan seringkali seseorang merasakan kantuk yang teramat sangat saat siang hari, ada juga lemas kurang bertenaga dalam menjalankan aktivitas harian.
Jika hal tersebut selalu berulang tentu saja akan berpengaruh pada kualitas ibadah Anda, maka dari itu perlu menerapkan beberapa tips mudah dan sehat dari ahlinya.
Cara yang dilontarkan oleh ahli bisa membuat tubuh selalu bugar, kuat, berenergi. Sehingga kualitas ibadah dalam bulan Ramadan semakin meningkat tiada gangguan dari dalam diri.
Ada dua tips yang akan dijabarkan singkat dalam artikel ini yaitu berkaitan dengan mengatur pola tidur dan makanan.
Tips Mengatur Pola Tidur Saat Puasa Ramadan Ala dr.Tirta
Pernahkah Anda merasa tiba-tiba rasa kantuk yang berat menyerang saat puasa?
Jika itu sampai terjadi, coba mulai menerapkan perlahan tips mudah ala dr.Tirta berikut ini. Berdasarkan hasil penelusuran dari Channel White Online TV.
Cara mudah pertama supaya tidak mudah mengantuk saat siang yaitu dengan memajukan waktu tidur malam, supaya tidak sampai kurang dari 5 jam.
“Kita harus memajukan tidurnya jam sembilan (21.00 wib) atau jam sepuluh (22.00 wib) bangun ya jam tiga (03.00 wib)”, kata dr.Tirta.
Dokter Tirta menambahkan bahwa selama puasa Ramadan pasti terjadi pengurangan jam tidur, menurutnya wajar karena sedari awal memang niat untuk ibadah.
“Kita tahu bahwa selama bulan Ramadan niat kita ibadah, pasti jam tidurnya akan berkurang dari 5 sampai 6 jam itu sudah pasti”, tuturnya.
Karena itu memang sudah risiko, maka untuk menyiasatinya ketika ada waktu untuk power nap, lebih baik dilakukan saja.
“Jadi risikonya ketika siang, ada waktu power nap, ya power nap”, imbuhnya.
Bahkan menurut dr.Tirta, cara tersebut sudah pernah diteliti dan rilis jurnal ilmiahnya belum lama ini.
“Nah ini, dari penelitian paper ya. Dari beberapa jurnal itu rilis tuh, dari beberapa tahun rilis penelitian tentang tidur siang. Manfaat power nap,” ungkapnya.
Ia menambahkan saat power nap dilakukan maksimal akan memberikan hasil luar biasa untuk tubuh, berupa recovery.
“Ternyata power nap yang bagus, kalau power nap dilakukan siang secara maksimal. Itu bisa membuat recovery juga,” jelasnya.
Tapi, tetap digarisbawahi juga kalau power nap sampai berjam-jam, malah akan mengganggu kualitas tidur malam.
“Membantu recovery, tapi kalau terlalu lama tidur siangnya, berjam-jam gitu, bisa lebih dari 2 atau 3 jam, dia justru mengganggu siklus tidur di waktu malam”, tuturnya.
“Makannya kalau tidurnya berjam-jam itu biasanya dia shift malam. Jadi tipsnya buat teman-teman yang bulan puasa itu tidur 5 sampai 4 jam ya power nap”, ucapnya.
Ia kembali menuturkan bahwa power nap bisa dilakukan maksimal bagi mereka yang tidak terikat jam kerja saat siang hari.
Jika seseorang bekerja, mau tidak mau berkurangnya waktu tidur sudah bagian dari risiko.
“Tapi kalau kalian kerja ya resiko”, sambungnya.
Tips Mengatur Makanan Saat Puasa Ramadan Ala dr.Tirta
Selain pola tidur, hal krusial lain yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan asupan makanan. Karena apa yang masuk dalam pencernaan saat sahur akan mempengaruhi selama satu hari.
Berikut saran dari dr.Tirta dalam menjaga asupan makanan selama puasa Ramadan.
Sebagai pembuka dr.Tirta mengungkapkan bahwa selama puasa itu tubuh mengandalkan cadangan energi pada tubuh.
“Ketika kita berpuasa kan tidak ada intake cairan, tidak ada intake makanan apapun masuk. Jadi kita pure mengandalkan cadangan energi yang sudah disimpan oleh tubuh”, kata dr.Tirta.
Sehingga, apa saja asupan makanan yang disantap ketika sahur punya andil besar untuk kelancaran aktivitas harian.
“Jadi apa yang kita makan saat sahur, itu akan mempengaruhi aktivitas kita selama seharian”, imbuhnya.
Ia menyarankan saat sahur tetas harus ada proporsi seimbang antara karbohidrat dan protein.
“Harus seimbang (karbohidrat dan protein), justru selama puasa ini momen sekaligus. Fokus ibadah Sekaligus buat cutting”, sambungnya.
Dokter Tirta juga memberikan pilihan masuk akal berupa mengurangi asupan karbohidrat, lalu diganti dengan protein.
“Boleh pas sahur karbo nya diganti, dikurangi, dibanyakin protein. Jadi dia biar menggunakan cadangan energi dari lemak-lemak di perut sama paha”, jelasnya.
Cara tersebut tetap ada pengecualian, bagi mereka yang terbiasa pola makan seimbang, tetap harus memasukkan karbo kalau tidak ingin lemas.
“Tapi untuk orang yang sudah seimbang, ya dia tetap harus makan karbo pada waktu sahur. Kalau nggak lemas banget dia pas seharian puasa,” ucapnya.
Menurut pendapatnya, semua tergantung kondisi tubuh masing-masing orang. Karena bagaimanapun juga tubuh perlu energi.
“Ketika sahur kan kita tetap harus butuh karbo, kalau bagi orang yang mau bulking ya. Tapi bagi yang perutnya sudah buncit, lingkar perut 100 cm, dia makan protein aja gak apa-apa, tapi tetap harus ada karbonya. Kalau gak lemes pasti pas siang, tubuh tetap butuh energi dan energi dari gula yang ada dalam makanan”, pungkasnya.












