Kabar5News – Media sosial yang semula menjadi wadah hiburan, edukasi, dan ruang ekspresi, kini dinilai semakin berpotensi di manfaatkan sebagai tempat penyebaran simbol serta narasi ideologi ekstrem.
Sejumlah temuan baru yang menunjukkan keterlibatan anak-anak dan remaja dalam forum daring yang memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol Neo-Nazi dan supremasi kulit putih.
Fenomena tersebut mengundang sejumlah perhatian dari publik karena dinilai ideologi tersebut memiliki jejak historikal tentang kekerasan dan diskriminasi yang rasialis.
Di dalam ruang digital tersebut, seringkali timbul dalam bentuk meme, visual estetik, atau jargon komunitas yang terkesan ringan dan jauh dari konteks sejarah aslinya.
Lalu, benarkah generasi muda benar-benar memahami Ideologi Neo-Nazi? Atau mereka hanya hanyut dalam arus budaya digital yang kehilangan batas etika dan norma?
Mengapa Generasi Muda Rentan Terpapar Ideologi yang Ekstrem?
Menurut tokoh psikologi perkembangan Erik Erikson, masa remaja merupakan fase paling krusial dalam tahapan perkembangan individu.
Pada tahap ini, seorang anak dan remaja sedang berada dalam fase pencarian jati diri, validasi sosial, serta rasa memiliki pada suatu kelompok.
Ruang digital inilah yang kemudian hadir sebagai salah satu alternatif. Komunitas daring seringkali menawarkan solidaritas kelompok dan validasi sosial yang instan.
Sayangnya, tidak semua ruang digital diikuti dengan proses literasi kritis dan proses pendampingan yang memadai, sehingga simbol-simbol serta narasi ekstrem gampang diterima tanpa adanya proses filter.
Dari perspektif tokoh psikologi sosial Albert Bandura, kondisi ini sangat berkaitan erat dengan proses belajar melalui pengamatan.
Seorang anak dan remaja akan cenderung meniru perilaku atau dapat memahami secara mudah simbol-simbol yang mendapat penguatan sosial (social reinforcement), seperti perhatian, pengakuan, atau sebuah status di dalam komunitas daring tersebut.
Faktor yang Memicu Paparan Ideologi Neo-Nazi di Era Digitalisasi
- Minimnya Literasi Digital akan Sejarah
Kurangnya pemahaman tentang makna dari simbol-simbol dan latar belakang sejarah ideologi ekstrem membuat anak-anak dan remaja mudah memaknai secara dangkal.
- Pencarian Jati Diri dan Pengakuan Sosial
Kebutuhan akan rasa untuk diakui serta merasa “berbeda” mendorong anak-anak dan remaja mencari jati diri dalam kelompok yang terlihat kuat.
- Pengaruh Komunitas Daring
Kelompok daring dengan ikatan yang kuat dapat menormalisasikan simbol-simbol dan narasi yang bersifat ekstrem sebagai bagian dari identitas bersama.
- Validasi Sosial di Media Sosial
Bentuk respons positif seperti pujian, rasa perhatian, dan pengakuan dapat memperkuat rasa keterikatan terhadap simbol-simbol yang digunakan.
- Anonimitas Internet
Identitas samaran yang dapat membuat kontrol diri dan tanggung jawab moral cenderung melemah.
Pentingnya Pendekatan, Edukasi, dan Pendampingan
Melihat kompleksitas dari persoalan ini, para pakar menilai bahwa penanganan paparan ideologi ekstrem tidak hanya cukup jika hanya mengandalkan pendekatan hukum saja.
Perlunya edukasi literasi digital, pemahaman akan sejarah, serta pendampingan psikologis menjadi langkah konkret untuk membangun kesadaran generasi muda.
Dengan kadar pemahaman yang lebih baik, anak dan remaja diharapkan mampu memilah informasi, memahami makna simbol ekstrem, agar tidak terjerumus kedalam narasi ekstrem yang berseliweran di dunia maya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar era digital bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan bagaimana memastikan ruang daring tetap aman dan edukatif bagi generasi muda.
Artikel ini ditulis oleh Fajar Novryanto
Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). dan pemerhati isu sosial dan literasi digital













Comments 1