Kabar5news – Di Indonesia terdapat ormas berbasis Islam terbesar yang memiliki metode tersendiri dalam menetapkan awal puasa Ramadhan.
NU atau Nahdalatul Ulama memiliki kesamaan metode dengan pemerintah dalam hal menetapkan awal Ramadhan kemarin, mereka menggunakan metode rukyat dengan instrumen pendukung lainnya.
Sementara Muhammadiyah, punya metode tersendiri dalam menetapkan awal Ramdhan, mereka menggunakan metode hilal yang sudah digunakan secara turun temurun.
Perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan sudah lumrah terjadi sepanjang sejarah Islam di Indonesia. Tak perlu dijadikan perdebatan, cukup hargai dan konsisten mengikuti metode yang diyakini.
Namun, ada saja pertanyaan di ruang publik mengenai hukum mengikuti dua ketetapan berbeda dalam satu rangkaian ibadah Ramadhan.
Misalkan, puasa ikut Nu sedangkan lebaran ikut Muhammdiyah, apakah boleh atau tidak menurut fikih?
Perbedaan Menurut Fikih

Dikutip dari berbagai sumber, secara metodologis perbedaan muncul karena cara menentukan awal bulan Hijriah tidak sama.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan kriteria wujud hilal, sementara NU bersama pemerintah mengandalkan metode rukyat yang diperkuat dengan data hisab sebagai instrumen pendukung.
Kedua perbedaan metode ini potensi menimbulkan perbedaan awal Ramadhan dan 1 Syawal mendatang, selisih bisa 1 hari. Ada yang lebih dulu, ada yang setelahnya.
Faktanya, perbedaan ini tidak selalu terjadi setiap tahun, dalam kondisi tertentu Muhammadiyah dapat lebih dulu bahkan sebaliknya.
Dalam sebuah rekaman video yang tersebar di media sosial, Felix Siauw mengingatkan semua umat muslim di Indonesia agar tidak sembarangan menggabungkan pilihan awal puasa dan lebaran dari dua metode tersebut.
Felix Siauw mengingatkan, agar terlebih dahulu memastikan durasi puasa Ramadhan secara syariat, yang mungkin bisa berlangsung selama 29 hari atau 30 hari.
“Pastiin dulu NU puasanya belakangan dan Muhammdiyah lebarannya duluan, karena bisa saja kondisinya terbalik,” kata Felix Siauw dikutip oleh Tim Kabar5news.id
Konsisten Sampai Akhir
Lebih lanjut, pemuka agama berparas oriental ini mengungkapkan, ketika seseorang memulai puasa dengan mengikuti salah satu ormas lalu mengakhiri dengan mengikuti ormas lainnya, maka terdapat risiko jumlah puasa menjadi tidak sesuai.
“Namanya puasa itu kalau nggak 29 ya 30 hari. Lha nanti kalau Anda puasa ikut NU lebarannya ikut Muhammadiyah bisa jadi puasanya 28, atau apesnya 31 hari, kan (bisa) kelebihan,” jelasnya.
Ia pun menekankan akan pentingnya konsistensi dalam berpegang teguh dalam satu metode yang diyakini benar dan ikuti dari awal hingga akhir.
“Kalau yakin dengan hisab, ya puasanya ikut Muhammadiyah dan lebarannya juga Muhammadiyah. Kalau yakin dengan rukyat lokal, ya ikut NU dari awal sampai akhir. Sederhana,” kira-kira demikian pesannya.
Felix Siauw juga mengatakan, yang terpenting dalam perspektif fikih adalah menjaga konsistensi agar jumlah hari puasa tetap sesuai dengan ketentuan syariat.











